Pragaan, NU Online Sumenep
Wakil Rais Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Sumenep, KH. Zainur Rahman Hammam selaku penceramah pada peringatan satu abad NU dan haul KH Abdurrahman Wahid ke-13 yang diselenggarakan oleh Pimpinan Anak Cabang (PAC) Gerakan Pemuda Ansor Pragaan di LPI Hadirurrahaman Aeng Panas, Jum’at (30/12/2022) mengungkap kealiman dan kewalian serta sikap kepribadian Sang Guru Bangsa ini.
“Saya berani mengatakan bahwa Gus Dur adalah seorang ulama karena beliau memang sangat alim. Dulu sewaktu mengajar tafsir, beliau tak pernah membawa kitab namun apa yang disampaikan persis sama dengan yang ada di kitab. Beberapa orang santri Tebuireng juga kerap memergokinya membawa kitab Hikam ke maqbarah. Artinya beliau mengaji kepada ahli kubur yang ada di situ,” terang Pengasuh Pondok Pesantren Al-Muqri Karangkapoh Prenduan ini.
Bukti lainnya, tambah Kiai Zainur, adalah Gus Dur tahu tempat dimana para wali Allah dimakamkan serta spesialisasi keilmuannya. Bahkan, Asta Panaongan yang ada di Kecamatan Pasongsongan yang pertama kali menemukan adalah mantan Presiden Republik Indonesia ini sewaktu menghadiri sebuah acara di Ambunten. Tak lupa beliau juga menyebut dua sifat Gus Dur yang mesti diteladani oleh para pengikutnya.
“Gus Dur itu tidak pernah memelihara kebencian serta sangat menyayangi sesama. Maka dari itu kita selaku pecinta KH Abdurrahman Wahid jangan pernah memiliki kebencian kepada siapapun, terlebih kepada orang yang tidak dibenci Gus Dur. Selain itu juga harus memiliki kepedulian dengan tidak membiarkan orang lain mengerjakan hal-hal yang akan membuatnya celaka,” pungkasnya.
Senada dengan itu, KH Zarkasyi Rahim yang merupakan Rais Syutiah Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Pragaan dalam sambutannya berharap agar momentum peringatan satu abad Nahdlatul Ulama dan Haul KH Abdurrahman Wahid ini dapat mengokohkan rasa memiliki kaum Nahdliyin terhadap jam’iyah NU. Ia juga menyebut bahwa Gus Dur adalah aset NU untuk bangsa Indonesia.
“Nahdlatul Ulama itu sepertinya halnya gudang yang menyimpan banyak aset. Dan salah satu aset berharganya adalah KH Abdurramah Wahid atau Gus Dur. Dari itu marilah kita memiliki tekad yang bulat untuk menjadi pejuang NU dengan meneruskan perjuangan beliau dengan cara memperjuangkan sembilan nilai yang meliputi ketauhidan, kemanusian, keadilan, kesetaraan, kebebasan, kesederhanaan, persaudaraan, kekesatriaan, dan kearifan lokal,” ucapnya di depan para tokoh dan Nahdliyin yang hadir.
Editor : A. Habiburrahman

