Image Slider

Mustasyar NU Pragaan Ceritakan Catatan Sejarah Ranting NU Pragaan Laok

Pragaan, NU Online Sumenep

Mustasyar Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Pragaan KH Faishal Afifi Najib menegaskan, Ranting NU Pragaan Laok merupakan ranting yang paling muda, bahkan ketua tanfidziyahnya adalah ketua abadi.

Dalam pengarahannya di acara Musyawarah Ranting (Musran) Pragaan Laok, selasa (12/09/2023) beliau menceritakan perjalanan kepengurusan di era tahun 1990 an hingga saat ini. Saat beliau resmi menjadi penduduk Pragaan Laok tahun 1986, Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama (PRNU) Pragaan Laok masih belum ada pengurusnya. Sedangkan ranting NU lainnya sudah terbentuk kepengurusannya.

“Dari tahun 1983 sampai 1990, masih belum terbentuk kepengurusannya secara struktural. Pada tahun 1995, diadakanlah Musran yang memutuskan saya terpilih sebagai Rais Syuriyah dan H Abd Kadir sebagai Ketua Tanfidziyah di awal periode,” tuturnya kepada musyawirin yang berkumpul di halaman masjid Al-Ikhlas Moccol, Dusun Dung Laok, Desa Pragaan Laok, Pragaan.

Ditegaskan, sejak tahun 1995 hingga 2023, H Abd Kadir adalah ketua abadi. Musyawirin tak menggunakan kaidah syubbanul yaum rijalul ghad (pemuda hari ini adalah pemimpin yang akan datang). Menurutnya, sudah saatnya beliau demisioner, apalagi posisinya saat ini diamanahi sebagai Wakil Ketua Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Pragaan.

“Pada tahun 1995, MWCNU menghelat Konferensi yang memutuskan KH
Abdullah Khalis Hafidh sebagai Rais Syuriyah dan KH Maimun Mannan. Sejak itulah kami ditarik ke MWCNU dan jabatan rais ranting kami amanatkan kepada almarhum Kiai Aminullah,” kenangnya sambil berkirim surat Al-Fatihah.

Kiai Afif sapaannya menyatakan, H Abd Kadir ketua abadi PRNU Pragaan Laok, bahkan ia mantan Muhammadiyah. Pernyataan itu diutarakan saat ia berkenan berpartner dengannya saat mengawali roda kepemimpinannya di ranting pada tahun 1995.

“Beliau Muhammadiyah tulen, bahkan saat masih menempuh pendidikannya di Kabupaten Pamekasan, ia istiqamah shalat Jumat di masjid Muhammadiyah. Ternyata saat di Pragaan Laok, ia shalat Jumat di
masjid NU dan berkenan ngalap berkah. Kini beliau menjadi kader NU yang tulen, bukan kader yang abal-abal,” ungkapnya.

Dulu, lanjutnya, pendidikan terakhir masyarakat tamatan Sekolah Dasar
(SD). Berhubung kepala desa alumni Pondok Pesantren Annuqayah Guluk-Guluk, pesantrennya muassis NU Sumenep KH Muhammad Ilyas Syarqawi, barakah mulai masuk ke desa dan kader NU mulai meningkat.

Selain itu, ia mengatakan bahwa PRNU Pragaan Laok tidak memiliki kegiatan lailatul ijtima’. Hal ini bermula jajaran syuriyah di masa lalu berusia lanjut, sehingga tanfidziyah memutuskan kumpulan rutin digelar ba’da shalat Jumat. Ia berharap kepada pengurus terpilih untuk menggelar lailatul ijtima’ sebagaimana tertuang dalam aturan organisasi.

“Bagi pengurus baru, saat menemukan kesulitan dalam menjalankan roda organisasi, berkonsultasilah kepada senior (pengurus lama), jangan kalah sama anak Pramuka,” pintanya.

Dalam catatan sejarah, lanjutnya, ketua tanfidziyah yang terpilih notabenenya berasal dari kader yang aktif. Artinya musyawirin tidak memilih kader yang pintar, tetapi mencari kader yang semangat
berkhidmah di jam’iyah.

“Percuma pintar, tapi jarang hadir ke acara rutinan. Jadi, setiap momen Musran, yang terpilih adalah kader yang tangguh dan memiliki semangat juang yang tinggi kepada organisasi. Semoga tema yang
bertajuk ‘Meneguhkan Jamaah dan Jam’iyah Menuju Ranting yang Tangguh’ benar-benar nyata, amin,” doanya.

Di tempat yang berbera, Ketua PRNU Pragaan Laok masa khidmat 2018-2023, H Abd Kadir mengatakan bahwa Musran tahun ini berbeda dengan tahun sebelumnya. Karena di masanya, ia dipilih berdasarkan hasil tunjukan. Artinya, Musran tahun lalu tidak dikemas dengan sidang pleno tapi lebih difokuskan pada pemilihan semata.

Pada tahun 2021, kata dia, MWCNU menariknya menjadi Wakil Ketua
Tanfidziyah. Langkah ini dilakukan karena ada sebagian pengurus harian ditarik ke Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Sumenep masa khidmat 2020-2025.

“Awalnya kami bersikukuh di ranting. Namun apalah daya kami putuskan bersedia kendati minim pengalaman. Jabatan ketua tanfidziyah kami berikan kepada Kiai Musleh untuk menjadi pemegang kendali organisasi,” ujarnya kepada NU Online Sumenep, Jumat (15/09/2023).

Melalui sidang pleno IV yang akan digelar nanti, Wakil Ketua MWCNU Pragaan ini mengutarakan bahwa Pengurus Anak Ranting Nahdlatul Ulama (PARNU) memiliki hak suara dalam pemilihan ketua tanfidziyah.

“Berhubung AD/ART dan Peraturan Perkumpulan (Perkum) NU tidak
memperkenankan merangkap jabatan, pilihlah calon ketua yang tangguh,” ucapnya.

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga