Guluk-Guluk, NU Online Sumenep
Mustasyar Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sumenep, Prof. Dr. KH. Abd. A’la Basyir, M.Ag., menegaskan bahwa amanah sebagai pengurus NU menuntut kedewasaan spiritual, emosional, dan organisatoris.
Menurutnya, pengurus NU harus mampu “selesai dengan dirinya sendiri” sebelum berbicara tentang kepentingan jam’iyyah yang lebih luas.
“NU bukan ruang pelampiasan konflik personal. Jika urusan pribadi belum tuntas, itu akan mengganggu khidmah dan merusak kerja organisasi,” ujar Kiai A’la saat memberikan tausiyah dalam pertemuan dengan jajaran harian Syuriyah dan Tanfidziyah PCNU Sumenep masa khidmat 2025–2030, Senin (23/1/2026).
Dalam kesempatan tersebut, Kiai A’la juga mengingatkan pentingnya menjaga fokus khidmah di tingkat cabang. Menurutnya, PCNU Sumenep harus lebih memprioritaskan kerja-kerja keagamaan, sosial, dan pemberdayaan umat di wilayahnya sendiri, tanpa larut dalam dinamika internal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).
“Setiap struktur NU memiliki wilayah khidmah dan tanggung jawab masing-masing. Jangan saling melampaui batas kewenangan,” tegasnya.
Lebih lanjut, Guru Besar yang dikenal luas sebagai pemikir keislaman ini menekankan peran strategis NU dalam mengawal dan menguatkan paham Islam Ahlussunnah wal Jamaah agar tetap menjadi fondasi kehidupan keagamaan warga nahdliyin, terutama di tengah perubahan sosial dan tantangan zaman yang semakin kompleks.
Menurutnya, konsistensi NU dalam menjaga manhaj Aswaja tidak hanya penting untuk internal jam’iyyah, tetapi juga bagi keteguhan umat dalam merawat Islam yang moderat, berakar pada tradisi, dan responsif terhadap realitas kebangsaan.
Pertemuan tersebut menjadi ruang refleksi sekaligus penguatan komitmen pengurus PCNU Sumenep untuk terus menjalankan khidmah jam’iyyah dengan keikhlasan, kedewasaan, dan semangat pengabdian kepada umat. (Dm)

