Oleh: Abdul Hadi *)
Puasa hari keenam. Tarawih baru usai. Tadarus masih mengalun dari musala dan masjid. Anak-anak berlarian kecil pulang, sarung setengah terlipat, peci agak miring. Malam Ramadan di negeri ini terasa damai—nikmat yang sering luput kita syukuri.
Di sela suasana itu, saya menelepon Sekretaris PCNU.
“Undangan buka puasa masih penuh?”
Jawabnya singkat, khas dirinya: “Penuh. Titik.”
Dr. H. Damanhuri—akademisi yang kini mengemban amanah sebagai sekretaris—berbicara tenang, runtut, seperti menyusun laporan penelitian. Obrolan kami malam itu bukan soal seremoni, melainkan perkara yang kerap dianggap sepele, padahal menentukan arah organisasi: data dan tertib administrasi.
Ia menyinggung pentingnya data-driven decision making. Keputusan tanpa data, katanya, seperti khutbah tanpa dalil—berapi-api, tetapi rapuh. Data menghadirkan objektivitas, mengurangi asumsi, menekan risiko, serta membantu membaca tren dan kebutuhan warga. Dalam organisasi sebesar Nahdlatul Ulama, data bukan pelengkap; ia fondasi.
Saya menimpali setengah bergurau, “Berarti di NU jangan hanya kuat dalil, tapi juga kuat tabel.” Kami tertawa. Namun di balik canda itu ada kesadaran serius: zaman bergerak cepat, kompleksitas meningkat, dan kepemimpinan menuntut ketepatan berbasis fakta.
Pembicaraan lalu mengalir pada tertib administrasi. Mengacu pada pedoman resmi Perkum NU No. 15/2022, administrasi ideal bukan sekadar formalitas. Kop surat yang seragam, nomor surat sistematis, pencantuman tanggal Hijriah dan Masehi, bahasa yang baku dan santun, arsip masuk-keluar yang terdokumentasi rapi—semua itu adalah bentuk tanggung jawab. Di NU, bahkan nomor surat pun punya adab.
Arsip bukan hanya tumpukan kertas. Ia adalah ingatan kolektif. Tanpa arsip, organisasi kehilangan memori; tanpa memori, ia mudah goyah. Upaya digitalisasi yang digerakkan oleh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, termasuk kerja sama dengan Arsip Nasional Republik Indonesia, menunjukkan bahwa merawat sejarah sama pentingnya dengan merancang masa depan.
Hari ini genap 80 hari kepengurusan berjalan—sah secara de facto, menunggu de jure. Langkah tetap ditempuh dengan tertib. Dari obrolan menjelang sahur itu saya menangkap satu simpulan: data penting, administrasi penting, digitalisasi penting. Tetapi ada satu hal yang tak tercatat dalam tabel, tak tersimpan di server, dan tak masuk dalam enam kolom nomor surat—keikhlasan.
Data memberi arah. Administrasi memberi ketertiban. Keikhlasan memberi ruh.
Tanpa ruh itu, sistem hanya menjadi mesin. Dengan ruh itu, kerja-kerja kecil menjadi bernilai ibadah.
NU tumbuh besar bukan semata karena strukturnya rapi atau datanya lengkap, melainkan karena orang-orangnya bekerja diam-diam, tertib, dan tulus.
Wallahu a’lam bishawab.
*) Penulis adalah Wakil Sekretaris PCNU Sumenep

