Oleh: Abdul Hadi *)
Catatan ini saya dedikasikan untuk warga dan kader Nahdlatul Ulama—sebagai ikhtiar kecil agar jejak khidmah tidak hilang oleh waktu. Bukan untuk dikenang sebagai penulisnya, melainkan agar tercatat: pada suatu masa, ada kerja-kerja sunyi yang tetap berjalan tanpa sorot lampu. Semoga saya tetap dianggap santrinya Mbah Hasyim—didoakan selamat, anak-cucu dalam lindungan, dan ujung hayat dalam husnul khatimah.
Hari ke-1
Tanggal 7 Desember 2025 menjadi penanda amanah baru di PCNU Sumenep. Terpilihnya Rais Syuriyah dan Ketua bukanlah perayaan kemenangan, melainkan awal pertanggungjawaban. Di lingkungan NU, jabatan bukan kursi empuk; ia lebih menyerupai sajadah panjang—tempat sujud dan tanggung jawab dipertemukan. Yang terdengar bukan gegap gempita, melainkan doa: semoga diberi kekuatan dan istiqamah.
Hari ke-79
Memasuki pekan ke-11 (23 Februari 2026) sejak amanah itu dipikul, kami berada pada fase yang sah secara de facto, sembari menunggu de jure. Untuk internal, langkah tetap berjalan; untuk eksternal, adab organisasi mengajarkan kesabaran. Di NU, tata tertib bukan sekadar prosedur, tetapi bagian dari akhlak berjamaah.
Tujuh puluh sembilan hari tentu bukan tanpa dinamika. Ada lelah yang tak dipublikasikan dan keringat yang tak terunggah. Namun satu niat dijaga tetap utuh: mengabdi kepada jam’iyyah. Karena NU bukan milik kita; kitalah yang dititipi sebentar untuk merawatnya.
Bertepatan dengan puasa hari kelima, saya merasakan kembali pelajaran lama: lapar kerap menjernihkan niat. Ramadhan bukan jeda aktivitas, melainkan penguat orientasi. Ia melatih menahan diri—bukan hanya dari makan dan minum, tetapi dari ambisi, tergesa-gesa, dan keinginan untuk selalu terlihat.
Di ruang digital, puasa juga menguji jempol. Mengetik keburukan nilainya serupa dengan mengucapkannya. Karena itu, tabayun sebelum membagikan informasi, menahan komentar yang tak perlu, dan menjadikan media sosial sebagai ruang dakwah yang teduh adalah bagian dari riyadhah zaman ini. Prasasti digital seharusnya memuat jejak kebaikan, bukan bara perdebatan.
Khidmah internal hari-hari ini berfokus pada tiga hal: penguatan jam’iyyah, pembinaan jemaah, dan peneguhan Aswaja An-Nahdliyah. Struktur Syuriyah dan Tanfidziyah bekerja dalam keseimbangan arah dan gerak. Namun di atas semua itu, ada ruh yang tak tertulis dalam AD/ART: keikhlasan.
Pada saat yang sama, NU tidak hidup dalam ruang hampa. Dari tingkat pusat hingga ranting, tanggung jawabnya merawat kebangsaan, menjaga moderasi, dan menghadirkan kemaslahatan sosial. Semua itu bermuara pada satu cita: menghadirkan Islam sebagai rahmat bagi semesta.
Tujuh puluh sembilan hari bukan waktu yang panjang dalam usia satu abad NU. Tetapi cukup untuk mengingatkan bahwa pengabdian tak selalu diukur dari seberapa sering nama disebut, melainkan dari seberapa kokoh jam’iyyah tetap berdiri.
Jika kelak catatan ini dibaca kembali, semoga ia menjadi pengingat sederhana: puasa menguatkan niat, amanah menuntut kesabaran, dan khidmah membutuhkan ketulusan. Selebihnya, waktu yang akan menjadi saksi.
Wallahu a’lam bishawab.
*) Penulis adalah Wakil Sekretaris PCNU Sumenep

