Kota, NU Online Sumenep
Pengurus Rabithah Ma’ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (RMI NU) PCNU Sumenep menggelar buka puasa bersama, pembagian takjil, dan taaruf dengan Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Sumenep, Selasa (3/3/2026). Kegiatan ini menjadi momentum mempererat kemitraan strategis antara pesantren dan pemerintah dalam penguatan pendidikan Islam di daerah.
Acara yang dimulai pukul 15.30 WIB tersebut diawali dengan pembagian takjil di pertigaan Jem Ajeman Pamolokan, Kota Sumenep, lalu dilanjutkan dialog dan buka puasa bersama di Aula Kemenag Sumenep. Hadir dalam kesempatan itu jajaran pengurus RMI PCNU Sumenep serta Kepala Kemenag beserta staf.
Ketua RMI PCNU Sumenep, KH Abdul Majid Muslim, M.Pd., menegaskan bahwa Ramadhan menjadi waktu yang tepat untuk membangun komunikasi yang lebih intensif antara lembaga pesantren dan Kemenag sebagai mitra pembina.
“Kami ingin menjalin kemitraan yang kuat dengan lembaga pemerintah, dalam hal ini Kemenag, yang selama ini menjadi mitra strategis pesantren dan madrasah,” ujarnya.
Menurutnya, kolaborasi yang solid sangat diperlukan untuk menyukseskan berbagai agenda kepesantrenan, baik di tingkat daerah maupun nasional. Ia menyebut sejumlah kegiatan seperti Musabaqah Qiraatil Kutub (MQK), kemah santri, MTQ, hingga olimpiade pondok pesantren membutuhkan kesiapan kelembagaan dan sumber daya yang matang.
“Ketika ada event nasional, kita ingin Sumenep siap secara kelembagaan dan sumber daya. Itu hanya bisa terwujud jika sinergi terus diperkuat,” tegasnya.
Sementara itu, Pelaksana Tugas Kasi Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren (PD Pontren) Kemenag Sumenep, K. Sahnawi, M.Pd.I., menyambut baik inisiatif RMI NU. Ia menilai kemitraan dengan organisasi kepesantrenan menjadi bagian penting dalam meningkatkan efektivitas pembinaan madrasah diniyah dan pondok pesantren.
“Kami ingin mempererat hubungan kemitraan dengan organisasi pesantren agar pembinaan berjalan lebih efektif dan terarah,” ungkapnya.
Ia juga menekankan perlunya penguatan sistem pengawasan madrasah diniyah guna menjaga kualitas pendidikan keagamaan di tingkat akar rumput. Selain itu, pihaknya mengusulkan agar digelar rapat koordinasi secara berkala, minimal setiap tiga atau enam bulan sekali.
“Dengan rakor rutin, komunikasi akan lebih terjaga dan setiap persoalan bisa dicarikan solusi bersama,” imbuhnya.

