Kota, NU Online Sumenep
Lembaga Falakiyah (LF) PCNU Sumenep memperkirakan Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1447 Hijriah berpotensi jatuh pada Sabtu Pahing, 21 Maret 2026. Perkiraan tersebut disampaikan oleh Ketua LF PCNU Sumenep, Kiai Moh. Fathor Rois, dalam keterangan wawancara mengenai posisi hilal pada akhir Ramadhan tahun ini.
Menurutnya, perkiraan tersebut didasarkan pada perhitungan astronomi terkait konjungsi atau ijtimak akhir Ramadhan.
“Kami memperkirakan Idul Fitri 1447 H jatuh pada Sabtu Pahing, 21 Maret 2026. Hal ini didasarkan pada terjadinya konjungsi akhir Ramadhan 1447 H pada Kamis Kliwon, 19 Maret 2026 pukul 08.27 WIB,” ujar Kiai Fathor Rois, kepada NU Online Sumenep, Senin, 16 Maret 2026.
Ia menjelaskan, pada saat matahari terbenam di hari yang sama, ketinggian hilal di seluruh wilayah Indonesia masih belum memenuhi kriteria imkanur rukyat yang digunakan, yaitu minimal 3 derajat.
“Sebagai contoh, di Sumenep ketinggian hilal saat Maghrib hanya sekitar 1,5 derajat, sedangkan di wilayah paling barat Indonesia sekitar 2,5 derajat. Artinya secara astronomi hilal masih berada di bawah kriteria yang memungkinkan untuk dirukyat,” jelasnya.
Karena itu, menurutnya, apabila ada laporan pengamatan yang mengaku melihat hilal pada hari tersebut, maka secara metodologis kemungkinan besar tidak dapat diterima.
“Kalaupun ada laporan yang mengaku melihat hilal, secara ilmiah dan metodologis laporan tersebut sangat mungkin ditolak karena tidak memenuhi batas minimal ketinggian hilal,” tegasnya.
Kiai Fathor Rois juga menanggapi anggapan sebagian masyarakat yang memperkirakan Idul Fitri 1447 H jatuh pada Jumat Legi, 20 Maret 2026.
“Sebagian orang awam beranggapan Idul Fitri akan jatuh pada Jumat Legi, 20 Maret 2026. Alasannya karena gerhana bulan yang terjadi pada malam Rabu, 3 Maret lalu. Mereka beranggapan bahwa jika ada gerhana bulan maka itu pasti tanggal 15,” ujarnya.
Selain itu, ada pula yang berpendapat bahwa pada malam Ahad, 22 Maret 2026 posisi bulan sudah cukup tinggi sehingga dianggap seharusnya sudah memasuki tanggal tiga Syawal.
“Sebagian orang mengatakan pada malam Ahad bulan sudah tinggi sehingga pantasnya tanggal tiga. Ini sebenarnya benar jika dilihat dari sisi astronomi,” tambahnya.
Namun ia menegaskan bahwa pemahaman tersebut perlu diluruskan karena terdapat perbedaan antara penanggalan astronomi dan penanggalan secara fikih.
“Memang benar bahwa gerhana bulan pasti terjadi pada tanggal 15 secara astronomi. Akan tetapi secara fikih, tanggal satu sering kali lebih lambat dari tanggal satu astronomi karena mempertimbangkan visibilitas hilal,” jelasnya.
Hal yang sama juga berlaku pada kondisi bulan yang terlihat tinggi pada malam berikutnya.
“Begitu juga ketika pada malam Ahad hilal terlihat seperti tanggal tiga. Secara astronomi memang sudah tanggal tiga, tetapi secara fikih sebenarnya baru tanggal dua. Ini karena awal bulan secara syar’i ditentukan oleh rukyat atau kemungkinan terlihatnya hilal,” katanya.
Ia menilai perbedaan pemahaman tersebut menunjukkan bahwa masih banyak masyarakat yang belum membedakan antara tanggal berdasarkan perhitungan astronomi dengan tanggal menurut ketentuan fikih.
“Artinya, di tengah masyarakat kita masih banyak yang belum bisa membedakan antara tanggal secara astronomi dengan tanggal secara fikih atau syara’,” ujarnya.
Karena itu, ia menegaskan bahwa dalam pelaksanaan ibadah umat Islam berpedoman pada ketentuan fikih, bukan semata-mata pada kondisi astronomi secara hakiki.
“Kita beribadah berdasarkan tuntunan fikih dan ketentuan syariat, bukan hanya berdasarkan kondisi astronomi semata,” pungkasnya.

