Image Slider

Prediksi Hari Raya Idul Fitri 1443 H Menurut LFNU Sumenep

Pragaan, NU Online Sumenep

Penentuan awal bulan Qamariyah sangat penting, karena erat kaitannya dengan ibadah umat Islam. Pada dasarnya penentuan awal bulan ada 2, yaitu Rukyatul Hilal (pengamatan Hilal) dan menyempurnakan umur bulan sebelumnya 30 hari (istikmal).

Demikian penjelasan Fathurrozi selaku Pengurus Bidang Hisab dan Rukyat (BHR) Lembaga Falakiyah Nahdlatul Ulama (LFNU) Sumenep saat mengisi acara Podcast Ramadhan, Jum’at (29/04/2022) di Studio 2 TVNU Sumenep, Desa Prenduan, Pragaan.

Pria kelahiran Desa Palasa, Talango ini mengatakan, pada perkembangan selanjutnya penentuan awal bulan dapat ditempuh juga dengan metode perhitungan astronomis (hisab) dengan berbagai kriteria.

“Secara umum hisab terbagi menjadi 2, hisab urfi dan hisab haqiqi. Hisab urfi didasarkan kepada peredaran Bulan secara rata-rata, sehingga umur bulan ditetapkan secara konstan (29 hari untuk bulan genap dan 30 hari untuk bulan ganjil). Sedangkan hisab haqiqi didasarkan kepada peredaran Bulan yang sebenarnya, sehingga umur bulan tidak konstan (terkadang 29 hari, terkadang 30 hari),” jelasnya.

Alumni Program Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang ini menegaskan, metode Rukyatul Hilal menetapkan bahwa jika hilal pada tanggal 29 bulan hijriah Hilal berhasil dilihat, maka keesokan harinya masuk bulan baru. “Jika Hilal tidak terlihat, maka bulan yang masih berjalan disempurnakan menjadi 30 hari (bulan baru jatuh pada esok lusa),” tegasnya.

Sekretaris Pengurus Wilayah (PW) LFNU Jawa Timur ini membeberkan, NU sendiri menggunakan metode Rukyatul Hilal dalam menentukan awal bulan, khususnya tiga bulan (Ramadhan, Syawal dan Dzulhijjah).

“Namun, NU juga mengapresiasi hisab dengan menjadikannya sebagai pengantar atau ancar-ancar dalam melakukan kegiatan rukyat,” ungkap alumni Pondok Pesantren Annuqayah Latee Guluk-Guluk ini.

Lantas, ia meneruskan, pada saat ini, laporan keberhasilan melihat Hilal tidak bisa dilakukan secara sembarangan, namun harus ada verifikasi untuk menghindari kesalahan dalam rukyatul hilal.

“Laporan keberhasilan rukyat diterima jika ketinggian Hilal secara hisab haqiqi memenuhi kriteria visibilitas hilal (imkan rukyat). Pada saat ini, kriteria imkan rukyat disepakati 3 derajat untuk ketinggian hilal mar’i dan 6,4 untuk jarak sudut Matahari-Bulan (elongasi). Untuk perhitungan elongasi, NU menggunakan konsep elongasi geosentrik,” lanjutnya.

Alumni Pondok Pesantren Life Skill Daarun Najah Semarang ini menyatakan, terkait dengan hal tersebut, untuk kasus 1 Syawal 1443 H, menurut salah satu metode hisab, ketinggian Hilal di Jawa Timur (Balai Rukyat NU Condrodipo Gresik) adalah 4 derajat 18 menit 2,79 detik dan elongasi 6 derajat 35 menit 29,57 detik (dihitung secara geosentrik).

“Artinya, hal tersebut sudah memenuhi kriteria imkan rukyat, sehingga laporan keberhasilan Hilal Insyaallah diterima oleh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Jika demikian, maka Insyaallah PBNU akan mengikhbar 1 Syawal 1443 H bertepatan dengan Senin, 2 Mei 2022. Berarti bulan Ramadan 1443 H hanya berumur 29 hari (naqis),” terangnya.

“Jika misalkan di Jawa Timur tidak ada yang berhasil melihat hilal, karena cuaca tidak bersahabat, maka kita menunggu laporan rukyat di daerah lain. Misalnya di Banda Aceh yang ketinggian Hilal mar’i sudah mencapai lebih 5 derajat, sedangkan elongasinya lebih 7 derajat (geosentrik),” ulas Rozi.

Di akhir penyampaiannya, ia menerangkan, jika ada satu daerah saja yang melaporkan berhasil melihat hilal, maka hal tersebut berlaku secara nasional. “Karena Indonesia menganut konsep matlak wilayatul hukmi,” pungkas alumni Madrasah Aliyah (MA) 1 Annuqayah itu.

Editor : Firdausi

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga