Oleh: Ahmad Hosaini *)
Setelah pembahasan tentang Basmalah dalam artikel sebelumnya, kita coba mengurai tentang makna ayat yang ke-2 dalam Al-Fatihah yaitu:
الحمد لله رب العالمين
Artinya: “Segala puji bagi Allah Tuhan (yang mendesain dan mengatur) alam semesta”
Dalam Basmalah kita sudah mengenal Allah sebagai pencipta segala yang ada selain-Nya dan kita menyadari asal kejadian alam semesta ini termasuk manusia, maka setelah itu tidak ada kata lain selain bersyukur pada-Nya. Bentuk syukur yang paling sempurna adalah الحمد لله.
Alhamdu (الحمد) sifatnya lebih umum daripada syukur. Al-Qurthubi menyebutkan bahwa sesungguhnya الحمد (pujian) adalah menyanjung orang yang dipuji dengan sifat-sifatnya (yang mulia) tanpa didahului oleh kebaikan (dari orang yang dipuji kepada yang memuji). Sementara syukur adalah pujian kepada orang yang berbuat baik (yang disyukuri) atas kebaikan yang telah dia berikan. الحمد juga disebutkan bermakna ridha seperti kalimat “بلوته فحمدته” (Aku mengetesnya, lalu aku memujinya) artinya aku ridha (puas) kepadanya. Atau dalam potongan hadits “أحمد اليكم غسل الاحليل” (Aku memuji (puas/ridha) pada kalian karena telah membasuh saluran kencing (kemaluan). (Al-Qurthubi, Tafsir Al-Jaami’u li al-Ahkaam Al-Qur’an, Daar ‘aalm al- Kutub, hal. 134).
Permulaan ayat ini dengan الحمد لله bukanlah tanpa makna dan sebab. Allah mengajarkan kita untuk selalu bersyukur dengan kalimat الحمد لله dalam setiap keadaan dan tempat karena pujian pada Allah tidak terikat tempat dan waktu.
Kita harus bersyukur karena kita diciptakan menjadi manusia menyandang visi sebagai seorang khalifah di bumi ini.
Kita juga harus bersyukur karena telah mengenal Allah dalam basmalah sebagai Tuhan yang segala yang ada bersumber dan bergantung pada-Nya. Kita harus bersyukur karena Dialah yang mendesain, mengatur, mendidik, mengembangkan alam semesta ini dengan begitu sempurna.
Tentu untuk kenyamanan dan keamanan hidup manusia. Alam dan isinya ini adalah sarana dan prasarana yang telah Allah persiapkan bagi manusia yang menyandang predikat sebagai seorang pemimpin. Manusia mengemban tugas memimpin makhluk lain.
Filosofi Jumlah Huruf Hamdalah
Kalau kita menghitung jumlah huruf الحمد لله itu ada delapan huruf yaitu ( ,ا، ل، ح، م، د، ل، ل،ه). Jumlah ini sama dengan pintu surga yang ada delapan. Sehingga Imam ar-Razi menyebutkan bahwa barangsiapa mengucapkan delapan hal ini (الحمد لله) dari kejernihan hatinya (lubuk hati yang paling dalam), niscaya ia berhak mendapatkan delapan pintu surga. Kemudian lanjutnya bahwa ucapan الحمد لله menunjukkan pada makna لا محمود إلا الله (Tidak ada yang berhak untuk dipuja melainkan Allah). (Imam Ar-Razi, Tafsir Al-Kabir hal. 225-226).
Alif dan Lam pada kata (الْحَمْدُ – Al-Hamdu) bermakna mencakup seluruh jenis pujian. Ia (pujian) adalah sanjungan yang Allah Ta’ala tujukan untuk diri-Nya sendiri, dan di dalamnya terkandung perintah kepada hamba-hamba-Nya untuk menyanjung-Nya dengan pujian (الحمد) tersebut. (Muhammad Al-Amin as-Syinqithi, Adhwaau al-Bayaani Fii Iidhahi Al-Qur’ani bi Al-Qur’ani Jilid 1, Daar al-‘Alim al-Fawaid, hal. 47).
Kemudian Ja’far as-Shaadiq menyebutkan maknanya ha’ (ح), mim (م) dan dal (د) dari ayat “الحمد لله ” . Di mana ha’ (ح) adalah dari “الوحدنيّة” (Kemahatunggalan Allah), mim (م) dari “الملك” (Kekuasaan Allah), dan dal (د) dari”الديمومية” (Kemahakekalan Allah). Barangsiapa yang mengenal Allah dengan kemahatunggalan-Nya (الوحدنية), kekuasaan-Nya (الملك), dan kekekalan-Nya (الديمومية), maka sungguh ia telah mengenal Allah. Inilah hakikat (inti) dari pujian kepada Allah (الحمد لله).
Syaqiq bin Ibrahim berkata dalam tafsir “الحمد لله” bahwa di sana ada tiga aspek. Pertama adalah jika Allah memberimu sesuatu (nikmat), maka ketahuilah (kenalilah) siapa yang memberimu. Kedua: Engkau ridha (menerima dengan lapang dada) terhadap apa yang Dia (Allah) berikan kepadamu. Ketiga: Selama kekuatan-Nya (kekuatan yang Allah berikan) ada pada tubuhmu, janganlah engkau bermaksiat kepada-Nya. Ini adalah syarat dari pujian (الحمد). (Al-Qurthubi, al-Jaami’u li al-Ahkaami Al-Qur’an, Daar ‘aalam al-Kutub, hal. 134).
Kemudian Imam Ar-Razi menyebutkan bahwa الحمد لله رب العالمين adalah kalimat pertama dan terakhir yang diucapkan. Kalimat pertama yang diucapkan oleh Nabi Adam AS. saat ruh mencapai bagian pusar, ia bersin dan mengatakan الحمد لله رب العالمين.
Kalimat terakhir nanti sebagai penutup doa ketika di surga adalah mengucapkan الحمد لله رب العالمين. Sebagaimana dalam firman-Nya
وَآخِرُ دَعْوَاهُمْ أَنِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
Artinya: “Dan penutup doa mereka (di surga) ialah, ‘الحمد لله رب العالمين’ (segala puji bagi Allah Tuhan seluruh alam)”. (QS. Yunus: 10). (Imam Ar-Razi, Tafsir Al-Kabir, hal. 229-230)
Di sini kita bisa memahami bahwa pengucapan hamdalah saat Allah telah selesai menciptakan alam semesta yang telah mendesain dan mengatur sedemikian rupa keseimbangannya untuk kenyamanan hidup manusia.
Ada korelasinya juga antara basmalah yang mengajarkan pada kita tentang awal penciptaan atau asal segala sesuatu dari titik huruf ba’ (ب). Di sana kita juga bisa memahami bahwa Allah adalah asal dan tujuan segala sesuatu. Firman-Nya.
إِنَّا لِلّهِ وَإِنَّـا إِلَيْهِ رَاجِعونَ
Artinya: “Sesungguhnya kami adalah milik Allah (asal segala sesuatu) dan sesungguhnya hanya kepada-Nya kami akan kembali (tujuan segala sesuatu).” (QS. Al-Baqarah: 156).
Kemudian seletah itu kita diperintahkan untuk bersyukur dengan kalimat yang sempurna الحمد لله رب العالمين atas segala nikmat hidup yang telah Allah anugerahkan kepada kita sebagai manusia.
Kita bersyukur dengan الحمد لله karena tercipta sebagai manusia yang memiliki kemampuan untuk berpikir. Dengan mengucapkan الحمد لله berarti kita sungguh telah mengenal Allah dengan baik sebagai pemberi nikmat karunia yang tak terhingga nilainya sehingga kita pantas mendapatkan surga-Nya. Hal ini disebabkan karena penduduk surga nanti juga menutup doa kegembiraan dan kebahagiaan dengan الحمد لله رب العالمين atas nikmat teragung berada di surga Allah.
Jika dengan mengucapkan بسم الله الرحمن الرحيم surga rindu dan memohon untuk kita masuk ke dalamnya, maka ucapkanlah الحمد لله رب العالمين setelah itu untuk memastikan bahwa kita memang berhak dan layak memasuki surga Allah lewat pintu mana yang dikehendaki. Hal itu sesuai dengan jumlah huruf الحمد لله yang sama dengan jumlah pintu surga.
Tempat dan Waktu Membaca Hamdalah
Syeikh Muhammad al-Amin as-Syinqithi menjelaskan bahwa di dalam ayat الحمد لله tidak disebutkan tempat maupun waktunya. Namun, dalam Surah Ar-Rum (18) disebutkan keterangan tempatnya yaitu di langit dan bumi, dalam firman-Nya:
وَلَهُ الْحَمْدُ فِي السَّماواتِ وَالْأَرْضِ
Artinya: “(Dan milik-Nya-lah segala puji (الحمد) di langit dan di bumi).”
Dia juga menyebutkan dalam Surah Al-Qasas (70) bahwa waktunya adalah di dunia dan akhirat, dalam firman-Nya:
وَهُوَ اللَّهُ لَا إِلهَ إِلَّا هُوَ لَهُ الْحَمْدُ فِي الْأُولى وَالْآخِرَةِ
Artinya: “(Dan Dialah Allah, tidak ada tuhan selain Dia, milik-Nya-lah segala puji (الحمد) di dunia dan di akhirat).”
Dan Allah SWT berfirman di awal Surah Saba’:
وَلَهُ الْحَمْدُ فِي الآخِرَةِ وَهُوَ الْحَكِيمُ الْخَبِير
Artinya: “(Dan milik-Nya-lah segala puji (الحمد) di akhirat, dan Dialah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui).” (Muhammad Al-Amin as-Syinqithi, Adhwaau al-Bayaani Fii Iidhahi Al-Qur’ani bi Al-Qur’ani Jilid 1, Daar al-‘Alim al-Fawaid, hal. 47).
Bersyukur dengan hamdalah selalu dipraktekkan oleh para nabi, seperti Nabi Nuh ketika selamat dari badai banjir, Allah Memerintahkannya untuk mengucap Alhamdulillah. Firman-Nya:
فَإِذَا اسْتَوَيْتَ أَنتَ وَمَن مَّعَكَ عَلَى الْفُلْكِ فَقُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي نَجَّانَا مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ
Artinya: “Dan apabila engkau dan orang-orang yang bersamamu telah berada di atas kapal, maka ucapkanlah, ‘Segala puji bagi Allah yang telah Menyelamatkan kami dari orang-orang yang zalim’,” (QS.Al-Mukminun: 28).
Kemudian Nabi Ibrahim ketika diberi keturunan, ia juga tak lupa mengucapkan Alhamdulillah:
الْحَمْدُ لِلّهِ الَّذِي وَهَبَ لِي عَلَى الْكِبَرِ إِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ إِنَّ رَبِّي لَسَمِيعُ الدُّعَاء -٣٩-
Artinya: “Segala puji bagi Allah yang telah Menganugerahkan kepadaku di hari tua (ku) Isma‘il dan Ishaq Sungguh, Tuhan-ku benar-benar Maha Mendengar (memperkenankan) doa.” (QS. Ibrahim: 39).
Begitu pula dengan Nabi Daud dan Sulaiman ketika diberi ilmu oleh Allah SWT:
وَلَقَدْ آتَيْنَا دَاوُودَ وَسُلَيْمَانَ عِلْماً وَقَالَا الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي فَضَّلَنَا عَلَى كَثِيرٍ مِّنْ عِبَادِهِ الْمُؤْمِنِينَ
Artinya: “Dan sungguh, Kami telah Memberikan ilmu kepada Daud dan Sulaiman dan keduanya berkata, ‘Segala puji bagi Allah yang Melebihkan kami dari banyak hamba-hamba-Nya yang beriman’.” (QS. An-Naml: 15).
Allah juga memberi perintah kepada nabi kita, Nabi Muhammad SAW untuk selalu mengucapkan Alhamdulillah seperti:
وَقُلِ الْحَمْدُ لِلّهِ الَّذِي لَمْ يَتَّخِذْ وَلَداً وَلَم يَكُن لَّهُ شَرِيكٌ فِي الْمُلْكِ وَلَمْ يَكُن لَّهُ وَلِيٌّ مِّنَ الذُّلَّ وَكَبِّرْهُ تَكْبِيراً -١١١-
Artinya: “Dan katakanlah, ‘Segala puji bagi Allah yang tidak mempunyai anak dan tidak (pula) mempunyai sekutu dalam kerajaan-Nya dan Dia tidak memerlukan penolong dari kehinaan dan agungkanlah Dia seagung-agungnya’.” (QS. Al-Isra’: 111).
Kemudian penghuni surga akan mengatakan di saat berada di pintu surga:
وَقَالُوا الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَذْهَبَ عَنَّا الْحَزَنَ ۖ إِنَّ رَبَّنَا لَغَفُورٌ شَكُورٌ
Artinya: “Dan mereka berkata: ‘Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan duka cita dari kami. Sesungguhnya Tuhan kami benar-benar Maha Pengampum lagi Maha Mensyukuri’.” (QS. Fatir: 34).
Jadi, bersyukur dengan mengucapkan “الحمد لله ” tidak ada batasan tempat dan waktu. Para Nabi mencontohkannya dengan cukup baik. Kita bersyukur dengan kalimat sempurna ini tentu bukan di tempat-tempat yang kotor dan jorok dengan perbuatan-perbuatan maksiat karena berada di tempat itu sebagai penikmat perbuatan maksiat bukanlah yang Allah kehendaki.
Bersyukur atas hal-hal yang baik dan positif karena surga identik dengan kebaikan, kebahagiaan dan keindahan. Maka, perbuatan yang tidak mengundang kebaikan, tidak berakibat pada kebahagiaan dan tidak berdampak pada keindahan, maka tidak perlu disyukuri dengan “الحمد لله”.
Seperti misalnya kita terhindar dari malapetaka, maka kita mengucapkan “الحمد لله” karena itu mendatangkan kebaikan. Kita selamat dari kebangkrutan mengucapkan “الحمد لله ” karena mendatangkan kebahagiaan dan begitu seterusnya.
Kita tahu dengan mengucapkan “الحمد لله” itu akan kembali pada Allah karena Dia hanya menghendaki kebaikan pada diri manusia seperti dalam firman-Nya:
مَا أَصَابَكَ مِنْ حَسَنَةٍ فَمِنَ اللَّهِ ۖ وَمَا أَصَابَكَ مِنْ سَيِّئَةٍ فَمِنْ نَفْسِكَ ۚ
Artinya: “Kebaikan apa pun yang kamu peroleh itu dari sisi Allah dan keburukan apa pun yang menimpamu, itu dari (kesalahan) dirimu sendiri.” (QS. An-Nisa’: 79).
Walaupun mengucapkannya di depan orang yang memberikan hadiah atau bantuan, tapi dia hanyalah perantara rezeki yang datangnya dari Allah. Artinya “الحمد لله” tetap kembali pada Allah Sang Pemberi Rezeki.
Bersyukur dengan ucapan الحمد لله akan mendatangkan kebaikan, kebahagiaan dan keindahan yang lain karena dengan bersyukur akan semakin bertambah kebaikan tersebut. Firman-Nya:
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
Artinya: “Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat pedih’.” (QS. Ibrahim: 7).
Hamdalah ini “الحمد لله رب العالمين” ini adalah ayat dalam surah Al-Fatihah yang merupakan rukun shalat. Oleh karena itu, kita tidak boleh meninggalkan shalat karena itu bentuk syukur yang paling nyata. Meninggalkan shalat berarti kita mengingkari nikmat yang Allah berikan.
Mari kita biasakan bersyukur atas karunia yang Allah berikan ini dengan mengakatan الحمد لله رب العالمين.
*) Ahmad Hosaini, Wakil Sekretaris PCNU Sumenep dan Santri Alumni PP. Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo.

