Oleh : M. Deni Hidayatullah*)
Harmoni di Tengah Badai Penyeragaman
Di era digital seperti sekarang, kita sering kali disuguhkan oleh pemandangan keagamaan yang riuh namun terasa gersang. Media sosial kerap menjadi panggung di mana perbedaan pendapat fikih maupun pemahaman keislaman disikapi secara reaktif, kaku, dan tidak jarang berujung pada aksi saling klaim kebenaran (takfir). Di tengah kegelisahan sosial akibat gejala penyeragaman paksa tersebut, hadirnya buku Islam yang Saya Pahami: Keragaman Itu Rahmat karya pakar tafsir terkemuka, Prof. Dr. AGH. M. Quraish Shihab, bertindak laksana oase yang menyejukkan.
Melalui gaya penulisan populer yang mengalir, renyah, namun tetap berbasis pada kedalaman episteme klasik, M. Quraish Shihab mengajak pembaca untuk melihat kembali esensi mendasar dari agama ini. Tesis utama yang ditekankan dalam buku tebal 396 halaman ini adalah bahwa Islam, pada hakikatnya, tidak pernah menghendaki monolitisisme atau ketunggalan dalam ekspresi pemikiran. Sebaliknya, perbedaan cara pandang sosiologis-keagamaan merupakan sebuah keniscayaan takdir (sunnatullah) yang sengaja didesain untuk melahirkan rahmat, bukan laknat.
Napas Aswaja: Tawasuth dan Tasamuh dalam Beragama
Buku ini terbagi ke dalam beberapa ruang pembahasan filosofis yang sangat erat kaitannya dengan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) yang dirawat oleh Nahdlatul Ulama (NU). Salah satu pilar penting Aswaja adalah tawasuth (moderat) dan tasamuh (toleran). M. Quraish Shihab membedah konsep ini tidak sekadar sebagai jargon normatif, melainkan melacak akar linguistik dan teologisnya langsung dari teks suci Al-Qur’an dan rekam jejak historis para sahabat Nabi.
Beliau menjelaskan bahwa memahami Islam dengan benar menuntut kelenturan berpikir. Islam adalah agama yang paripurna karena ia menyediakan ruang bagi teks yang sifatnya pasti (qath’i) dan ruang interpretasi bagi teks yang bersifat fleksibel (zhanni). Keragaman dalam mazhab fikih—seperti yang kita kenal dalam tradisi intelektual pesantren—bukanlah sebuah kecacatan teologis, melainkan bukti kekayaan nalar Islam itu sendiri. Penulis dengan sangat jernih menguraikan bahwa menyikapi perbedaan dengan lapang dada adalah cermin kedalaman ilmu seseorang, sementara sikap kaku dan gampang menyalahkan adalah buah dari kedangkalan literasi.
Mengembalikan Islam pada Fitrah yang Ramah
Poin menarik lain yang dikupas dalam buku terbitan Lentera Hati ini adalah upaya dekonstruksi terhadap citra Islam yang belakangan kerap dikesan garang oleh kelompok ekstrem. M. Quraish Shihab membawa pembaca untuk menyelami makna rahmatan lil ‘alamin secara substantif. Islam yang benar adalah Islam yang menanamkan rasa aman bagi lingkungan sekitarnya, merangkul kemanusiaan tanpa memandang sekat primordial, serta menghargai tradisi lokal selama tidak bertentangan dengan prinsip ketauhidan.
Nilai kepesantrenan dan kelokalan ini sangat beririsan dengan kaidah fungsional NU: al-muhafadhatu ‘ala qadimi shalih wal akhdu bil jadidi al-ashlah (merawat tradisi lama yang baik dan mengambil inovasi baru yang lebih baik). Penulis menegaskan bahwa menjadi Muslim yang taat tidak berarti kita harus mencerabut diri dari akar budaya Nusantara. Keragaman budaya justru menjadi wadah yang memperkaya ekspresi keberagamaan di Indonesia, menjadikannya sebuah simfoni yang indah dan damai.
Catatan Apresiatif dan Refleksi
Kelebihan utama buku ini terletak pada kepiawaian sang penulis dalam menyederhanakan konsep-konsep teologi dan ulumul qur’an yang rumit menjadi narasi populer yang mudah dicerna oleh pembaca awam, tanpa kehilangan bobot ilmiahnya. Setiap argumen dibangun dengan jembatan logika yang kokoh dan santun, menjauhkan pembaca dari kesan menggurui.
Meskipun buku ini memiliki ketebalan yang lumayan, pembaca tidak akan merasa jenuh karena pembagian babnya dibuat tematis dan pendek-pendek. Buku ini menjadi sangat relevan dan mendesak untuk dibaca oleh generasi muda NU, para santri, akademisi, serta siapa saja yang merindukan pemahaman keagamaan yang mendalam, inklusif, dan damai di tengah kemajemukan bangsa.
Kesimpulan
Pada akhirnya, Islam yang Saya Pahami bukan sekadar sebuah buku bacaan, melainkan sebuah undangan terbuka untuk merayakan perbedaan. M. Quraish Shihab berhasil menegaskan bahwa dalam berislam, ketajaman intelektual harus selalu berjalan beriringan dengan kelembutan akhlak. Dokumen literatur ini menjadi pengingat berharga bagi kita semua: bahwa di atas sajadah perbedaan tafsir dan kedudukan, keluhuran adab dan kasih sayang kepada sesama manusia adalah mahkota tertinggi yang harus selalu dijaga.
*) Mahasiswa Pascasarjana Universitas Annuqayah, Sumenep. Penerima Beasiswa LPPD Provinsi Jawa Timur Tahun 2025.

