Image Slider

Berdoa: Ibadah atau Kebutuhan?

Oleh; Fathorrahman, S.Pd.*)

Secara leksikal, doa memiliki arti meminta tolong, memanggil, atau memohon. Namun secara esensi, doa adalah ungkapan praktis dari kesadaran terdalam hati dan perasaan manusia akan ketergantungan mutlaknya kepada pertolongan Allah SWT. Sikap khusyu’ dan tadharru’ (merendahkan diri) dalam menghadapkan wajah dan hati kepada-Nya merupakan hakikat dari pernyataan seorang hamba yang sedang mengharapkan terwujudnya sesuatu yang ia hajatkan.

Lebih dari sekadar permintaan, berdoa adalah bagian dari manifestasi kesempurnaan syahadah seorang muslim. Pada saat seorang hamba mengucapkan kalimat tauhid dengan penuh keyakinan, sejatinya ia telah mengakui secara sadar bahwa ia hanyalah makhluk kecil yang tak berdaya. Manusia, dengan segala keterbatasannya, senantiasa membutuhkan rahmat dan pertolongan dari Sang Khalik. Oleh karena itu, doa berfungsi sebagai wasilah (perantara) utama untuk mengetuk pintu rahmat-Nya. Kesadaran inilah yang harus tertanam kuat di dalam dada setiap muslim yang mengharapkan kemaslahatan di dunia serta keberuntungan hakiki di akhirat kelak.

Keajaiban Doa dalam Catatan Sejarah

Sejarah peradaban manusia telah mencatat berbagai keajaiban luar biasa yang terjadi tatkala seorang hamba berada dalam kondisi terjepit, tak berdaya oleh realitas kehidupan yang menghimpitnya. Ketika segala daya manusiawi telah buntu, mereka mampu menemukan jalan keluar berkat rahmat Allah yang diketuk melalui kekuatan doa.

Salah satu potret nyata adalah kisah Nabi Zakariya AS. Ketika beliau dan istrinya telah mencapai usia tua renta dan divonis mandul, secara medis dan logika manusia mustahil bagi mereka untuk memiliki keturunan. Segala ikhtiar lahiriah tampaknya telah menemui jalan buntu. Namun, dengan kepasrahan total dan keyakinan yang tak tergoyahkan, Nabi Zakariya AS mengetuk pintu langit melalui doanya:

“Ya Tuhanku, janganlah Engkau membiarkan aku hidup seorang diri, dan Engkaulah Waris paling baik.” (QS. Al-Anbiya’: 89)

Atas kehendak Allah SWT, keajaiban yang melampaui hukum alam pun terjadi. Istri Nabi Zakariya mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki mulia bernama Yahya AS, yang kelak melanjutkan estafet perjuangan dakwah dan dipilih menjadi salah satu rasul-Nya.

Sejarah juga membuktikan bahwa prediksi akal manusia yang ditunjang oleh ikhtiar lahiriah semata sering kali tidak berdaya menghadapi intervensi hukum alam yang Allah kendalikan. Ketika Raja Namrud bersuka ria menyaksikan pesta pembakaran Nabi Ibrahim AS, ia seketika bungkam dan tak berdaya. Kobaran api yang dahsyat ternyata sama sekali tidak mampu menghanguskan tubuh Nabi Ibrahim AS. Hal ini terjadi karena Allah SWT menurunkan perintah-Nya:

“Hai api, jadilah engkau dingin dan penyelamat bagi Ibrahim.” (QS. Al-Anbiya’: 69)

Kisah-kisah agung ini menjadi bukti konkret bahwa betapa pun perkasanya seorang manusia atau penguasa di dunia, ia tetaplah makhluk lemah yang sangat membutuhkan campur tangan Allah SWT di tengah jagat raya yang dinamis ini.

Rahasia di Balik Dikabulkannya Doa

Kendati demikian, kita harus memahami bahwa tidak serta-merta semua doa yang kita panjatkan langsung dikabulkan sesuai dengan keinginan kita. Dalam ibadah doa, terdapat syarat, adab, dan etika yang memengaruhi makbulnya sebuah permohonan. Menurut sebagian pakar tafsir, penggunaan kata Ujibu (Aku kabulkan) dan Astajib (Niscaya Aku perkenankan) dalam Al-Qur’an tidak serta-merta bermakna bahwa setiap doa akan diwujudkan secara instan dalam bentuk yang persis sama dengan permintaan hamba.

Proses dikabulkannya doa oleh Allah SWT memiliki beberapa wujud dan dimensi:

  • Pertama: Dikabulkan dalam bentuk yang persis sama dengan apa yang diminta dan dalam waktu yang cepat.
  • Kedua: Tidak diberikan dalam bentuk yang diminta, melainkan diganti dengan sesuatu yang jauh lebih baik dan lebih maslahat menurut pandangan Allah SWT, bukan menurut nafsu manusia.
  • Ketiga: Doa tersebut tidak diwujudkan di dunia, melainkan ditangguhkan dan disimpan oleh Allah sebagai tabungan pahala yang agung di akhirat nanti.

Mengenai dimensi ketiga ini, Syaikh Muhammad Nawawi al-Bantani dalam karyanya Qut al-Habib al-Gharib mengisahkan sebuah hikayat yang menyentuh. Kelak di hari kiamat, ada seorang hamba yang terkejut sekaligus takjub melihat limpahan pahala yang begitu besar dan berlipat ganda yang diberikan Allah kepadanya. Ketika ia bertanya dari mana asal pahala tersebut, dikatalan kepadanya bahwa itu adalah buah dari doa-doa yang ia panjatkan selama hidup di dunia yang belum sempat dikabulkan di bumi.

Kesimpulan: Doa adalah Ibadah Mulia

Melalui pemaparan di atas, kita dapat memetik hikmah mendalam bahwa berdoa bukan sekadar instrumen instan untuk memenuhi kebutuhan jangka pendek kita. Lebih dari itu, berdoa adalah inti dari ibadah (mukhkhul ‘ibadah). Sebagai hamba, sudah sepatutnya kita senantiasa rajin, tulus, dan istikamah dalam berdoa.

Sebab, sekiranya kita tidak melihat hasil dari doa tersebut di dunia saat ini, kita tidak akan pernah rugi sedikit pun. Melalui doa yang terus mengalir, kita sedang menunaikan penghambaan, mendekatkan diri kepada Sang Pencipta, dan menabung pahala sebanyak mungkin yang buah manisnya akan kita nikmati secara kekal di akhirat kelak.

Wallahu a’lam wa taqabbala minna du’aana. Aamiin.

*Aktivis Bahtsul Masail kabupaten Sumenep, Katib Syuriah MWCNU Dungkek, Awardee LPPD Jatim 2020 & 2025.

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga