Image Slider

Kajian Riyadus Shalihin PRNU Lenteng Timur Bahas Ukuran Keimanan Diri

Lenteng, NU Online Sumenep

Kiai Khairul Muttaqin memulai kajian kitab Riyadussalihin dengan penjelasan tentang cabang tertinggi dan terendah dari keimanan. Pembahasan dalam bab tersebut merupakan lanjutan hadits tentang berbagai jalan kebaikan yang bisa diusahakan.

“Ucapan kalimat tauhid, la ilaha illaallah adalah pucuk keimanan seseorang, sedangkan menyingkirkan gangguan dari jalan adalah bukti paling sederhana keimanan. Sifat malu juga termasuk salah satu cabang keimanan,” ungkapnya.

Pernyataan itu disampaiakan dalam Kajian Rutin Bulanan Pengurus Ranting NU Lenteng Timur, Lenteng, Sumenep yang digelar, Minggu, 20 September 2026, di rumah Ust. Slamet Yadi.

‎”Hadits no. 9 ini bukan hanya dipahami tentang menyingkirkan semacam duri dari jalan, tapi mafhum mukhalafah-nya bagaimana kita tidak membuat gangguan di jalan,” ulas Kiai Khairul.

Ia mencontohkan dengan perbaikan jalan. Di satu sisi, ia memperbaiki jalan, tapi di sisi lain bisa menggangu aktivitas perjalanan orang lain, sehingga perlu izin pada pihak yang berwenang. Termasuk juga acara-acara yang sampai menutup jalan, perlu izin dari pemerintah agar dicarikan jalan alternatif sehingga meminimalisir terganggunya pengendara yang lewat.

‎Masih senada dengan pemahaman ini, dalam hadits yang ke-13 dijelaskan bahwa Rasulullah SAW. pernah melihat orang di surga yang berteduh di bawah sebuah pohon. Dulu, pohon tersebut ia potong karena mengganggu jalanan, sehingga Allah SWT. memberikan balasan surga. Jelas Kiai Khairul.

‎”Bahkan, dalam bab fikih, pohon yang menjuntai ke halaman orang lain, ia juga berhak dari sebagian buahnya. Bukan hanya dihadiahi daun yang berserakan, melainkan pemiliknya juga harus berbagi manfaat pohon tersebut,” lanjutnya.

‎Rasulullah Saw. di hadits yang kesepuluh menceritakan kisah kebaikan seseorang di zaman nabi terdahulu. Versi pertama, seorang laki-laki yang memberikan minum anjing yang kehausan. Versi kedua, perempuan (PSK) yang memberi minum hewan tersebut. Dalam redaksi haditsnya, Allah SWT. berterima kasih pada laki-laki atau perempuan tersebut, mengampuninya, dan memasukkan ke surga.

‎”Bukan berarti kita cari anjing ke tengah hutan, lalu memberi minum, seraya berharap kecipratan berkah sebagaimana dalam kisah. Tidak, tetapi harus salat seperti biasa dan terus berbagi kebaikan pada setiap makhluk Allah,” ungkapnya.

‎Kisah tersebut memunculkan pertanyaan pada para sahabat nabi. Wahai Rasulullah, apakah hewan ternak bisa mendatangkan pahala? Nabi Muhammad SAW. menjawab singkat, tapi komprehensif:

‎فِيْ كُلِّ كَبِدٍ رَطْبَةٍ اَجْرٌ

Dalam setiap kebaikan pada makhluk hidup, pasti ada balasan pahala.

Pewarta: Ahmad Mawardi Imron, anggota PRNU Lenteng Timur

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga