Image Slider

Begini Cara Pagar Nusa Sumenep Cetak Pendekar yang Berakhlaqul Karimah

Kota, NU Online Sumenep

Atas perhatian dan keprihatinan para kiai NU terhadap merosotnya ilmu-ilmu bela diri di pesantren akibat menurunnya peran pesantren sebagai padepokan yang juga melatih santri-santrinya ilmu bela diri pada waktu itu, membuat ulama NU gelisah dan merasa perlu dilakukan upaya-upaya penyegaran untuk menumbuhkembangkan kembali ilmu-ilmu bela diri yang tetap sejalur dengan nilai-nilai luhur pesantren.

Salah satu ulama yang merasa gelisah dengan keadaan tersebut adalah KH. Suharbillah, salah seorang ulama-pendekar dari Surabaya yang kemudian menceritakan keresahannya kepada KH. Musthafa Bisri, Rembang. Mereka kemudian menemui KH. Agus Maksum Jauhari, untuk mencari titik terang dan solusi.

Setelah melalui beberapa musyawarah yang melibatkan banyak tokoh-tokoh ulama di Jawa, berdasarkan data yang dilansir nu.or.id (NU Online), kemudian pada 3 Januari 1986 Pagar Nusa didirikan di Pondok Pesantren Lirboyo Kediri. Kemudian NU mengesahkan pendirian Pagar Nusa tersebut melalui surat keputusan tertanggal 9 Dzulhijjah 1406 / 19 Juli 1986.

Seiring bergulirnya waktu, keberadaan Pagar Nusa mulai berkembang pesat dan diterima dengan mudah oleh banyak kalangan. Maka struktur organisasi mulai diperlebar dari tingkat pusat sampai ke bawah, tingkat rayon.

Pada lambang Pencak Silat Nahdlatul Ulama (PSNU) Pagar Nusa tertulis la ghaliba illa billah yang artinya tiada kemenangan tanpa pertolongan Allah SWT. Semakna dengan la haula wa la quwwata illa billah yang artinya tiada daya dan upaya kecuali atas pertolongan Allah SWT. Bagi Pagar Nusa, segala bentuk ikhtiar dalam menjalani hidup harus selalu diniat untuk menggapai Ridha Allah SWT. Sebab tugas pokok dan fungsi diciptakannya manusia adalah untuk menghamba. Selebihnya, perihal apapun yang kaitannya dengan kehidupan di dunia tentu diorientasikan untuk ibadah.

Pemahaman semacam itu terus ditanamkan oleh Pimpinan Cabang (PC) Pencak Silat NU (PSNU) Pagar Nusa Sumenep kepada pendekar-pendekarnya di semua lini, termasuk di pesantren-pesantren ataupun anak cabang yang sudah dibentuk di berbagai Majelis Wakil Cabang (MWC).

Abd. Muis Ali Wafa, Ketua PC PSNU Pagar Nusa Sumenep, bersama dengan pengurus lainnya di pertemuan dengan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Sumenep, menceritakan tentang perjuangan selama periode kepengurusannya dalam mendakwahkan Islam Ahlussunnah Wal Jama’ah An-Nahdliyah melalui ilmu bela diri yang diajarkan selama ini kepada para pendekar-pendekar.

“Pagar Nusa adalah wadah untuk menyiarkan Islam Aswaja An-Nahdliyah. Sementara medianya melalui bela diri yang diajarkan. Karena itu di setiap gerakan-gerakan yang kami ajarkan kepada para pendekar, tentu memiliki makna dan falsafah tersendiri. Tidak asal bergerak. Semua merupakan perwujudan dari akhalqul karimah, baik kepada sesama manusia maupun kepada Sang Maha Pencipta,” ucapnya.

Sebagai badan otonom NU yang bergerak di segmen olahraga dan olahrasa, Pagar Nusa selalu menekankan pentingnya prilaku yang baik. Bagi seorang pendekar, akhlaqul karimah menjadi pijakan dalam mengarungi hidup.

“Kita ini lahir dari Ulama, berjuang untuk Ulama, karena itu prilaku juga harus mencerminkan Ulama. Bagaimana untuk bisa mencerminkan Ulama? Ya satu caranya, akhlaqul karimah,” ujar Kiai Junaidi, Dewan Pendekar atau Guru Besar Pagar Nusa Sumenep.

Menurutnya, bela diri tidak identik dengan perkelahian. Melainkan identik dengan prilaku yang baik (Akhlaqul Karimah) serta bijaksana dalam membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Bilamana di pihak lain selalu berpotensi terjadi perkelahian antar perguruan silat akibat ketidaksepahaman dan lain sebagainya, akan tetapi di Pagar Nusa, menurutnya, tetap menggunakan cara-cara Aswaja An-Nahdliyah, mencerminkan Ulama yang selalu bijak dalam bertindak.

“Sesuai dengan lafadz di lambang Pagar Nusa, la ghaliba illa billah. Sejatinya, manusia di muka bumi ini tugasnya hanya menghamba kepada Allah SWT. Sebab kita sebagai seorang hamba, tidak bisa berbuat apa-apa tanpa kehendak dari Sang Maha Kuasa. Inilah yang selalu ditekankan kepada pendekar-pendekar Pagar Nusa,” imbuhnya.

Senada dengan hal tersebut, Zaini Umar, Dewan Pendekar yang turut hadir di pertemuan itu, menambahkan bahwa pendekar Pagar Nusa harus mencontoh Baginda Rasulillah Muhammad SAW yang oleh Allah SWT ditugaskan untuk menyempurnakan Akhlaq.

Innama bu’istu liutammima makarimal akhlaq. Jelas, Nabi Muhammad SAW ditugaskan untuk menyempurnakan akhlaq. Jadi kita, Pagar Nusa, sebagai umat Muhammad, harus mengedepankan akhlaq,” tuturnya sebelum mengakhiri pembahasan.

Pewarta : Ibnu Abbas
Editor : Abdul Warits

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga