Image Slider

Ra Mamak Ungkap Ilmu Solutif Kader NU di Acara Dialog ke-NU-an Ansor Guluk-Guluk

Guluk-Guluk, NU Online Sumenep

Pimpinan Anak Cabang (PAC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kecamatan Guluk-Guluk menggelar acara Istighotsah dan Ngaji ke-Nu-an, pada Selasa malam (2/2/2021) di Aula MWCNU Guluk-Guluk.

Acara Ngaji ke-NU-an tersebut mendatangkan narasumber KH. Muhammad Shalahuddin A. Warits, salah satu Dewan Pengasuh Pondok Pesantren Annuqayah daerah Lubangsa, Guluk-Guluk, Sumenep.

Dalam penyampaiannya, beliau memaparkan secara detail tradisi ke-NU-an yang harus dipertahankan dan dilakukan langkah-langkah strategis dalam menyongsong masa depan Nahdhatul Ulama.

Beliau menegaskan para kader NU memang diciptakan dari akar rumput dengan segala permasalahan dan tantangannya. “Akar rumput paling sulit dikelola, permasalahan kesehariannya bersifat personal bukan struktural, mengurusi semuanya didekati dengan cara personal,” ungkapnya diawal penyampaiannya.

Tidak sampai di situ, beliau juga menceritakan pengalamannya ketika sowan ke salah seorang seorang haji di Guluk-Guluk yang merasa khawatir jika ulama Madura hanya menerima tamu saja di kediamannya, dan tidak melakukan produktivitas.

“Tugas petani itu produksi tetapi yang memikirkan pemasarannya itu ulama, ketika ulama bertemu dengan umara’ ini baru ada solusi,” tuturnya.

Kiai yang juga mantan Ketua Rabithah Ma’ahid Al-Islamiyah Nahdlatul Ulama (RMI) Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Sumenep tersebut juga memberikan beberapa pertimbangan penting bagi kader-kader NU dalam pemikiran dan gerakannya.

“NU itu berpikir global, tetapi bukan globalis. Berpikir Komunal karena kita berjamaah tetapi bukan komunis. Berjamaah harus. Meski derap langkahnya tidak sama,” tegasnya.

Selain menjelaskan pentingnya para penggerak NU dalam bidang teknologi, Ra Mamak, sapaan akrabnya mengatakan pentingnya kader kader muda NU dalam memverivikasi kebenaran yang didapatnya kepada kiai atau para ulama. “Sekarang banyak ulama konten, mereka tidak bertanggungjawab atas kebenaran tersebut,” imbuhnya.

Dirinya menganggap kebenaran yang diperoleh itu sebagai sebuah dekorasi saja, bukan sebagai pondasi. Alumni Pondok Pesantren Tebuireng Jombang tersebut menambahkan bahwa penggerak NU harus melakukan perpaduan antara manhaj (metodologi) dan harakah (gerakan).

Acara diakhiri dengan pembacaan doa bersama oleh Kiai Majdi Tsabit, Ketua Lembaga Pendidikan (LP) Ma’arif PCNU Sumenep.

Pewarta: Abdul Warits
Editor: Ibnu Abbas

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga