Image Slider

Konsolidasi Organisasi NU Lenteng, KH Imam Hendriyadi Jelaskan Sejarah Berdirinya NU

Lenteng, NU Online Sumenep

Berdirinya Nahdlatul Ulama berawal dari diberikannya tongkat  oleh Syaikhona Kholil Bangkalan kepada KH. M. Hasyim Asyari melalui KH. As’ad Syamsul Arifin. Hal ini sebagai ibaroh atas didirikannya Nahdlatul Ulama. Dalam proses pemberian tongkat tersebut kepada KH. As’ad Syamsul Arifin, Syaikhona Kholil Bangkalan sambil membaca Al-Qur’an Surat Thaha ayat 17-21.

Kilasan sejarah berdirinya NU tersebut disampaikan oleh KH. Imam Hendriyadi Wakil Rais Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU)  Kabupaten Sumenep, ketika beliau memberikan arahan pada kegiatan Bahtsul Masail, Konsolidasi Organisasi Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Lenteng, sekaligus pelantikan Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama (PRNU) Desa Cangkreng. Acara ini dipusatkan di Mushala Khairul Ulum, Cangkreng, Lenteng, Sumenep, Ahad (07/02/2021).

KH. Imam Hendriyadi memberikan arahan kepada Pengurus Ranting yang telah dilantik agar menjadikan NU sebagai alat. Karena pada dasarnya NU berdiri disebabkan pemberian tongkat tersebut, dan tongkat ini adalah alat.

Fungsi alat (tongkat) yang diberikan oleh Syaikhona Kholil Bangkalan pada waktu itu sambil membaca QS. Thaha ayat 17-21. Isi dari QS. Thaha ayat 17-21 tersebut mengisahkan tentang Nabi Musa yang memfungsikan tongkat dalam dakwahnya. Tongkat dalam sejarahnya ditafsirkan mempunyai tiga fungsi, yaitu sebagai penopang.

“Lantas, apa saja yang ditopang? Yaitu NU harus menopang dan memperjuangkan Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah, serta keberlangsungan dan ketenteraman NKRI,” ujarnya.

Fungsi yang kedua ialah sebagai alat untuk mengambil daun dan memberi makan kambing. “Maka, menjadi tugas NU untuk memikirkan dan menjadi solusi pemberdayaan ekonomi masyarakat,” imbuhnya.

Selain itu, fungsinya yakni agar NU bisa bermanfaat kepada umat. Dalam kisah yang lain menyebutkan, bahwa tongkatnya KH M Hasyim Asy’ari bertuliskan Al-‘Asho li man ‘Asho, yakni tongkat itu dimiliki oleh orang yang bermaksiat.

“Maksiat di sini ditafsirkan mereka yang mempunyai atau menjadi jalan terhadap setiap permasalahan, sehingga alat ini berjalan sesuai tujuan dan tupoksinya,” tandasnya.

Secara terpisah, K. Soleh Hasan Ketua MWCNU Lenteng menyampaikan, bahwa pelaksanaan pilkada tempo lalu hendaknya tidak sampai mengubah tujuan dalam memikirkan umat dan bergerak demi kemaslahatan umat.

“Perbedaan pilihan pada Pilkada hendaknya tidak mengubah tujuan kita di NU,” pungkasnya.

Untuk diketahui, acara Bahtsul Masail dan Konsolidasi ini merupakan rutinan bulanan yang dihelat oleh MWCNU Lenteng. Sedang kepesertaan dalam acara ini merupakan ketua PRNU se-Kecamatan Lenteng beserta badan otonom (banom) NU kecamatan setempat.

Editor: A. Habiburrahman

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga