Pragaan, NU Online Sumenep
Tiga santri asal desa Sentol Daya Pragaan ini pantas menjadi teladan kemandirian dalam mengelola organisasi. Alih-alih meminta sumbangan kepada pihak lain, ketiganya justru berusaha menggsealang dana sendiri demi kemajuan majelis shalawat yang tengah mereka bina bersama teman-temannya di Lembaga Pendidikan Islam Nurul Ihsan, tempatnya menimba ilmu.
“Kami disini berjualan sosis, hasilnya murni untuk kemajuan Majelis Shalawat Nurul Musthafa seperti untuk membeli peralatan, seragam, atau sarana dan prasarana yang lainnya,” ujar salah satu santri bernama Syamsul Arifin, ketika ditemui di sela-sela kesibukannya melayani pembeli.
Ketua bidang ekonomi ini menjelaskan bahwa selain berjualan sosis, dia dan teman-temannya juga membuka usaha lain. “Di markas, kami membuka jasa pangkas rambut untuk warga sekitar. Hal ini kami lakukan atas keinginan sendiri tanpa paksaan pihak manapun, serta demi mensyiarkan shalawat agar mendapat syafaat dari baginda Nabi Muhammad,” ucapnya tegas.
Ketika ditanya tentang modal dan penghasilan yang diperoleh, santri lainnya bernama Nuruddin selaku Bendahara mengatakan bahwa modal awal diperoleh dari sumbangan anggota Majelis dalam setiap minggunya. “Jika berjualan di even-even besar, biasanya laba yang diperoleh berkisar seratus sampai lima ratus ribu,” tutur tim hadrah Nurul Musthafa itu.
Nuruddin juga menyebutkan beberapa hal yang tengah dibutuhkan Majelis Shalawatnya. “Saat ini kami tengah membutuhkan tambahan alat musik dan perlengkapan audio. Semoga lewat usaha kecil-kecilan ini keinginan tersebut dapat tercapai,” tandas pelajar Madrasah Aliyah Nurul Ihsan tersebut.
Editor: Ibnu Abbas

