Image Slider

Turba ke Ranting Kaduara Timur, Wakil Ketua NU Sumenep: Jam’iyahkan Jama’ah

Pragaan, NU Online Sumenep

Komitmen penguatan ranting NU yang dicanangkan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sumenep pada Masa Khidmat 2020-2025 kali ini tak main-main. Masing-masing koordinator bidang menjadwal ranting garapannya untuk dikunjungi. Salah satu ranting yang dikunjungi adalah Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama (PRNU) Desa Kaduara Timur Kecamatan Pragaan pada hari Rabu (24/02/2021). Kegiatan tersebut ditempatkan di Mushalla Assyifa’ Dusun Gunung, Desa Kaduara Timur.

K. Shalehuddin, Wakil Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sumenep dalam sambutannya mengatakan bahwa tugas penguatan ranting ini adalah tugas yang sangat berat. Hal itu dilakukan agar ranting lambat laun makin kuat dan mandiri. Karenanya perlu dikunjungi dan didampingi.

“NU memang lahir dari bentuk silaturrahim, lalu mewujud menjadi NU organisasi ulama untuk menangkal paham wahabi. NU terbilang kuat jika rantingnya kuat,” ujarnya mengawali sambutan.

Beliau memuji NU Ranting Kaduara Timur yang sudah punya pengurus bergelar doktor. Suatu jabatan akademik yang bisa dijadikan modal sumber daya untuk menggerakkan jam’iyah, bukan lagi jama’ah.

“Tak cukup hanya ada pengurus. Setelah struktur terbentuk, maka program kerja harus dilakukan. Program tak memiliki arti kalau tak dikerjakan,” dawuhnya mengingatkan.

Beliau juga menyinggung banyaknya paham di luar NU yang mengancam ideologi Aswaja. Itulah yang mengharuskan pengurus NU menampakkan identitasnya.

“Pengurus NU tidak boleh merangkap dengan Ketua Ormas lainnya yang haluan ideologinya berbeda dengan Ormas NU, seperti HTI. HTI itu mau mendirikan negara Khilafah,” ujarnya.

Beliau juga meminta hadirin untuk aktif memantau dan menjaga anaknya terutama yang mengenyam pendidikan di luar negeri.

Pada kesempatan itu juga, sambutan pengurus ranting NU Kaduara Timur disampaikan oleh K Durhan Arif. Beliau menyebut bahwa NU Kaduara Timur tidak mati, melainkan hanya tiarap mengatur strategi untuk melaksanakan program.

Beliau cerita, bahwa dulu NU Kaduara Timur berjalan aktif. kemudian dimekarkan, dibagi dua, NU Pesisir dan NU daerah Gunung. Pemisahan itu dikarenakan adanya adat budaya yang berbeda. Setelah kegiatannya berjalan, barulah disatukan kembali.

“Saya berharap Turba PCNU bisa menumbuhkan samangat kembali memberdayakan ranting,” tutur dosen INSTIKA ini.

Meski kegiatan tak sering diekspose, kegiatan kemasyarakatan NU Kaduara Timur dapat dikatakan berjalan aktif. Semua warganya adalah NU. Hal itu bisa dilihat dari amaliah warganya yang gemar tahlilan, shalawatan, dan pengajian.

“Jangan coba-coba ada orang melarang tahlilan, maka ranting NU Kaduara Timur yang akan berada di garda depan,” tambahnya lagi.

Beliau mengaku bahwa amaliyah NU masih terpelihara dengan baik di desa tersebut, karena warganya mayoritas berbasis pesantren,yang menjadikan petuah kiai sebagai azimat yang ampuh.

Beliau membaca program kegiatan tahunan yang akan dijalankan antara lain penerbitan buletin ‘Muktamar’, kajian kitab klasik, istighatsah hari besar Islam, buka puasa bersama anak yatim, halal bihalal, distribusi daging qurban, santunan yatim, pengajian umum, dan kirab obor santri.

Menurutnya, kegiatan NU Kaduara Timur masih eksis dan termasuk kegiatan sosial, hanya saja kegiatan itu sudah menyebar ke kalangan masyarakat, sehingga tidak lagi dimonopoli NU saja. Dan itu tujuan NU yang diharapkan.

Di acara yang sama, Wakil Rais PCNU Sumenep KH. Ahmad Washil Hasyim memberi pengarahan. Beliau menyebut zaman sudah berubah. Barokah yang sejatinya nyata mulai terbaca sayup-sayup, hati warga NU digamangkan. Gerakan penanaman keraguan itu dinyaringkan olah orang di luar NU untuk mengecilkan keberadaan Nahdlatul Ulama.

Bila ingat barokah, beliau ingat dawuh Mustasyar PCNU Sumenep Kiai Abdul Basith, Guluk-Guluk. K Abdul Basith katanya mengabdi pada pesantren dengan hanya bekerja saja, mengabdi saja pada Annuqayah, tidak memikirkan balasan apapun yang ingin didapatkan dari pengabdian itu, tapi berkat pengabdian itu maisyah kehidupan tercukupi. Itulah barokah.

“Barokah itu bisa berarti khairun ilahiyyun kebaikan dari tuhan, atau ziyadatul khair, tambahan kebaikan,” paparnya menguatkan pengertian barokah.

Beliau juga menyebut bahwa NU itu terbiasa berjamaah, sehingga apabila banyak kegiatan yang terlihat tidak terstruktur, maka perlu hal itu diadministrasikan dengan baik, dilaporkan, dikawal agar gerakannya makin terstruktur sebagaimana jalannya sebuah organisasi.

Kegiatan seremonial menurutnya baik. Namun perlu distrukturkan dalam gaya organisasi. Beliau mengharap agar NU Kaduara Timur makin banyak membuat titik penyebaran di berbagai dusun yang dapat dipantau dan disatukan secara integral.

Beliau mengatakan, tidak salah jika kegiatan NU silent dari pemberitaan, tapi sejalan dengan perputaran zaman, makna penyi’aran dan penguatan struktur jamiyah perlu disyiarkan juga, lalu diintegrasikan dalam satu komando.

“NU memang terlihat kuat dari populasi jamaah, tapi masih terlihat lemah dari sisi jam’iyah,” komentarnya,

Hal itu terjadi, karena politik pecah belah yang terus dimainkan kelompok lain. Kita dibuat kecil-kecil dan sulit bersatu.

“Tugas kita menjam’iyahkan jama’ah. Bukan yang lain,” tukasnya mengakhiri pengarahan.

Editor : A. Warits Rovi

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga