Image Slider

Guru: Antara Pemimpin dan Teladan

Oleh: Lukmanul Hakim

Kata pemimpin dan teladan sebenarnya hanya terdapat satu garis batas yang sangat tipis. Seorang pemimpin dengan sendirinya harus seorang yang patut diteladani. Dan, orang yang patut diteladani biasanya adalah orang yang bisa menarik serta mempengaruhi orang lain karena kepribadiannya, termasuk juga kesuksesannya sebagai pemimpin. Dua aspek ini melekat erat dan saling berkaitan dalam diri seorang pemimpin atau teladan.

Namun demikian, antara kedua aspek ini terdapat perbedaan yang besar. Tugas seorang pemimpin, hanya berlangsung selama ia berfungsi sebagai pemimpin, dalam konteks kita sebagai guru.

Dalam hal ini, dituntut adanya kontak langsung antara pemimpin dengan yang dipimpin (guru dan murid). Tanpa kontak langsung ini, banyak prinsip-prinsip kepemimpinan tidak dapat dijalankan, artinya akan macet. Bagi guru, hal ini membawa konsekuensi tersendiri. Ia tidak mungkin melaksanakan tugas kepemimpinan ini kalau meninggalkan kelasnya dan melepaskan tugasnya sampai berhari-hari atau bahkan sampai berminggu-minggu. Jam-jam sekolah adalah saat-saat yang paling istimewa dan paling tepat bagi guru untuk melaksanakan fungsi kepemimpinan ini.

Sebaliknya, terjadi dengan fungsi orang yang dijadikan teladan, tugasnya dapat dilaksanakan melalui kontak langsung maupun tidak langsung. Guru bisa memberikan teladan langsung di depan murid-muridnya, tetapi bisa juga secara tidak langsung kalau kemudian murid-muridnya mencontoh perilakunya yang sangat berkesan untuk mereka serta yang pernah mereka saksikan dari gurunya.

Inilah keunggulan teladan hidup yang diterapkan seorang guru untuk muridnya. Pada umumnya, setiap teladan yang baik, juga yang tidak baik, tidak selamanya langsung diikuti oleh muridnya. Semua yang disaksikan murid tersimpan rapi dalam lapisan alam bawah sadar mereka melalui proses seleksi berulang-ulang sampai mencapai kematangan dalam arti menjadi darah daging atau sebagian dari kepribadian murid, barulah mereka mencoba mempraktikannya dalam hidup mereka sendiri.

Dalam situasi tertentu, pada saat guru dituntut untuk bersikap yang benar terhadap tugasnya, ada guru yang tetap tekun mengajar walaupun gajinya datang terlambat. Hal ini terjadi karena mereka pun sudah puas walaupun gajinya seringkali tidak mencukupi. Bagi mereka, profesinya mengatasi segala-galanya. Namun, ada pula yang sebaliknya terjadi betapa banyak guru yang tidak tahan mengomel, bereaksi, dan bahkan sampai mogok mengajar kalau gajinya datang terlambat atau tidak mencukupi kebutuhannya sehari-hari.

Hal ini menunjukkan bahwa tugasnya belum menjadi yang utama dalam hidupnya. Ia masih melihat tugasnya hanya sebagai sumber penghasilan belaka, bukan sebagai satu sarana mengabadi kepada Allah Swt. Banyak ditemukan guru yang seenaknya saja meninggalkan sekolah bila ada tawaran luar yang memberikan jaminan uang ekstra secara lebih mudah. Bentuk lain yang sangat samar namun nyata ialah menerima mata pelajaran sebanyak-banyaknya dengan maksud mendapatkan honor yang lebih tinggi, tetapi ketika mengajar mata pelajaran yang menumpuk itu ia tidak berusaha secara maksimal untuk memenuhi semuanya secara sempurna.

Nah, kita kembali kepada guru sebagai pemimpin dan teladan. Kita mau bertanya pada diri kita masing-masing yang notabane nya sebagai generasi milenial, apakah dewasa ini kita memiliki mental guru yang benar-benar dapat menjawab ideal kita sebagai pemimpin dan teladan? Terhadap pertanyaan ini, kita harus jujur. Kita tidak perlu merasa malu terhadap kekurangan-kekurangan kita. Kita adalah anak zaman ini yang senantiasa mengidap berbagai penyakit kronis. Kita adalah akseptor-akseptor ideologi dan kemungkinan-kemungkinan baru yang dilahirkan oleh zaman ini. Disatu pihak, kita harus rendah hati untuk menerima berbagai kritik dan tuduhan-tuduhan generasi pendahulu atas segala kegagalan dan kelainan kita.

Di pihak lain, kita juga harus tetap optimis dan berbangga terhadap berbagai kemungkinaan yang sekarang ada dan yang akan kita hadapi. Warna kehidupan manusia selanjutnya bergantung pada kita. Cat apa saja yang kita pakai saat ini dalam mendidik manusia-manusia penerus sejarah zaman ini, warna itulah yang bakal tampak dihari esok.

Kita tidak perlu berkecil hati melihat kegagalan-kegagalan kita hari ini. Kita masih punya waktu untuk memperbaikinya. Hanya saja, kita perlu membenahi diri sejak dini. Kita coba mulai berganti warna dalam mengecat generasi pengganti kita, kalau yakin dan sadar bahwa warna yang kita pakai selama ini kurang mapan. Teringat akan perkataan Soekarno bahwa guru yang sifat hakikatnya hijau akan “beranak” hijau, guru yang sifat hakikatnya hitam akan “beranak” hitam, dan guru yang sifat hakikatnya merah akan “beranak” merah. Warna hijau, hitam, dan merah bukanlah persoalan, tetapi entah warna hijau itu yang baik ataukah warna hitam itu yang terbaik, itulah yang menjadi persoalan.

Dalam rumusan lain, cara hidup kita boleh berlainan. Contoh yang kita berikan boleh bervariasi sesuai kepribadian kita. Semua tidak menjadi persoalan. Tetapi, entah cara hidup atau lebih jelas teladan hidup yang mau kita terapkan dalam diri murid kita itu secara objektif baik atau buruk, itulah yang harus kita persoalkan. Wallahu A’lam.

*) Mahasiswa Semester VIII Prodi Pendidikan Agama Islam (PAI) Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (Instika) Guluk-Guluk, Kepala Perpustakaan MA 1 Annuqayah Guluk-Guluk Periode 2020-2021, dan Sekretaris Lajnah Falakiyah Pondok Pesantren Annuqayah Guluk-Guluk Periode 2020-2021.

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga