Image Slider

Mencari Tangan Kepalan

Oleh: Muhammad Aminullah

Dikisahkan, ketika pulang dari perang Tabuk melawan tentara Romawi, saat sedang mendekati kota Madinah, di salah satu sudut jalan, Rasulullah berjumpa dengan seorang tukang batu. Pada saat itu Rasulullah Saw melihat tangan buruh tukang batu tersebut melepuh, kulitnya merah kehitam-hitaman seperti terpanggang matahari.

Rasulullah Saw bertanya, “Mengapa tanganmu kasar sekali?”

Si tukang batu menjawab, “Ya Rasulullah, pekerjaan saya adalah memecah batu. Setiap hari, pecahan batu itu saya jual ke pasar, lalu hasilnya saya gunakan untuk nafkah keluarga saya, karena itulah tangan saya kasar.”

Mendengar jawaban tersebut, Rasulullah Saw lalu menggenggam tangan itu, lalubmenciumnya seraya bersabda: “Hadzihi yadun la tamatsaha narun abada”, inilah tangan yang tidak akan tersentuh oleh api neraka selama-lamanya.

Dalam riwayat lain diceritakan. Suatu ketika seorang laki-laki melintas di hadapan Rasulullah Saw. Orang itu di kenal sebagai pekerja yang giat dan tangkas dalam bekerja. Para sahabat kemudian berkata,

“Wahai Rasulullah, andai bekerja seperti dilakukan orang itu dapat digolongkan jihad di jalan Allah (Fisabilillah), maka alangkah baiknya.”

Mendengar itu Rasulullah Saw pun menjawab, “Kalau ia bekerja untuk menghidupi anak-anaknya yang masih kecil, maka itu fisabilillah; kalau ia bekerja untuk menghidupi kedua orang tuanya yang sudah lanjut usia, maka itu fisabilillah; kalau ia bekerja untuk kepentingan dirinya sendiri agar tidak meminta-minta, maka itu fisabilillah.” (HR Thabrani)

Sengaja saya ceritakan dua riwayat di atas karena berkaitan dengan tulisan yang saya buat ini. Saya punya kebiasaan yang menurut sebagian kawan rada-rada aneh. Apa itu? Mencari tangan-tangan keras (kapalan). Karena saya tinggal di daerah agraris di mana mata pencaharian nafkah diperoleh dari bertani, makan tangan-tangan keras-kaku ini biasanya saya dapati pada angan para petani tulen.

Karena pekerjaan harian mereka berladang di sawah, mencangkul, mengarit, membajak dengan berjemur seharian hingga membuat tangan-tangan mereka mengapal, keras dan kaku. Pinggang mereka hitam legam karena seharian tersengat sinar matahari. Sebuah perjuangan demi mencari nafkah bagi keluarga mereka. Para petani ini rela peras keringat, banting tulang untuk menghidupi istri dan anak-anak mereka.

Jika merujuk kepada dua riwayat di atas di mana Rasulullah Saw mencium tangan dua orang pekerja keras untuk nafkah keluarganya, sangat mungkin para petani sebagaimana saya jelaskan di atas juga termasuk pada kategori orang-orang yang layak untuk dihormati karena perjuangannya mencari nafkah bagi keluarganya.

Dalam banyak kesempatan, misal, saat berada di acara mantenan, barzanjian, manaqiban, tahlilan, sholawatan, sehabis sholat di masjid/ musholla atau di mana pun saya bertemu, saat mendapati tangan-tangan kasar dari para petani, saya membiasakan diri mencium tangan mereka. Niatannya sederhana. Sebagai bentuk penghormatan pada tangan-tangan mulia pejuang nafkah. Simpelnya: Ittiba’ kepada Nabi SAW. Jika Rasulullah Saw saja berkenan mencium tangan pekerja keras, mengapa kita tidak! Mengapa kita harus merasa gengsi untuk mencium tangan-tangan kaku-keras pejuang nafkah keluarga ini.

Beberapa tahun yang lampau. Saat awal memulai kebiasaan ini (mencium tangan kapalan), harus diakui memang ada perasaan risih, malu dan gengsi. Malu, risih dan gengsi saat mencium tangan mereka. Tidak mudah, memang. Ada semacam perasaan “keakuan” (angkuh) yang membisiki diri agar tak mencium tangan-tangan “hina” (kaku/kasar) itu. Seakan, suara angkuh dalam hati saya mengatakan bahwa saya lebih baik dan lebih mulia dari mereka; dari para petani yang tangannya kasar/kaku.

Perasaan yang muncul dari suara hati yang dengki, merasa diri lebih baik,mulia dan suci ini saya coba tekan sekuat mungkin agar lenyap dari dalam diri saya. Pada awalnya memang tidak mudah. Saya mengalami kesulitan karena setiap kali mencoba mau mencium tangan-tangan kaku/kasar, suara hati merasa lebih baik dan lebih suci dari mereka selalu memprovokasi. Suara batin ini terus berusaha melarang saya mencium tangan-tangan kapalan pejuang nafkah ini.

Butuh sekian tahun bagi saya untuk bisa menghilangkan perasaan merasa diri lebih baik dan suci ini. Butuh latihan panjang dan konsisten bagi saya berusaha sekuat mungkin menekan, lalu menghilangkan perasaan merasa lebih baik dan suci ini. Berkali-kali gagal. Pada awalnya. Tetapi berkat perjuangan keras, perlahan-lahan saya mulai bisa menguasai diri dengan menghilangkan perasaan diri ini merasa lebih baik dan suci dari orang lain.

Selain faktor permenungan; baik pikir dan batin yang berdasar pada dalil teks-teks keagamaan seperti al-Qur’an & hadits serta fakta historis kenabian di mana Rasulullah Saw; manusia paripurna (insan kamil) yang layak 100 persen kita jadikan teladan (uswatun hasanah) bagi seluruh umat muslim, (termasuk saya). Jika Rasullullah Saw saja berkenan mencium tangan-tangan pekerja keras (tukang batu), lalu mengapa kita harus merasa begitu angkuh, sok suci dan merasa gengsi ketika ingin mencium tangan kasar/kaku pejuang nafkah (petani).

Hari ini, ketika mendapati tangan-tangan kasar/kaku (kapalan), refleks saja saya akan langsung mencium tangan mereka tanpa harus melihat mempertimbangkan kembali apakah saya lebih baik dan suci dari para pejuang nafkah yang secara fisik memang harus diakui lebih sering berpenampilan (maaf) kotor, kumel, lusuh, dekil, kolot, kurus dan hitam legam. Tanpa kembali mempertimbangkan faktor aiubabibu, hari ini saya justeru menjadi keranjingan mencari tangan-tangan kasar/kaku (kapalan) untuk dicium.😄

Berharap, barangkali dari tangan-tangan kapalan pejuang nafkah ini, aliran keberkahan hidup mengalir. Atau, minimal, saya sudah bisa menghargai niat dan profesi mulia mereka berjuang keras demi nafkah bagi keluarganya sebagaimana dahulu Rasulullah Saw pernah lalukan. Mencium tangan pekerja batu dengan penuh penghormatan.

”Sesungguhnya di antara dosa-dosa itu, ada yang tidak dapat terhapus dengan puasa dan shalat”. Maka para sahabat pun bertanya: “Apakah yang dapat menghapusnya, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: ”Bersusah payah (bekerja keras) dalam mencari nafkah.” (HR. Bukhari)

”Siapa saja pada malam hari bersusah payah dalam mencari rejeki yang halal, malam itu ia diampuni”. (HR. Ibnu Asakir dari Anas)

”Siapa saja pada sore hari bersusah payah dalam bekerja, maka sore itu ia diampuni”. (HR. Thabrani dan lbnu Abbas)

Wallahu a’lam bis showab

*) Pengurus LTM NU PCNU Sumenep Divisi IT dan Data

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga