Cerpen : Fathorrozi *)
“Innalillahi wa inna ilaihi raji’un……………”
Kalimat istirja’ terdengar membahana dari empat pengeras suara masjid Al-Karomah.
Seorang ibu agak muda yang tengah asyik menonton televisi di Jumat siang itu sekonyong-konyong keluar dari dalam rumah, demi ingin lebih jelas mendengar nama yang diberitakan.
“Hari ini telah meninggal dunia Kiai Sobri bin Kiai Mi’un.” Seperti biasa, kalimat ini diucapkan berulang-ulang: tiga kali. “Almarhum akan dimakamkan hari ini. Kepada para muslimin, dimohon kehadiran dan bantuannya ke rumah almarhum. Terima kasih,” sambung berita itu mengakhiri.
“Dik, Kiai Sobri meninggal dunia. Sampean dengar barusan?” tanya ibu tadi kepada tetangganya, perempuan yang lebih muda.
“Ya, Mbak. Padahal barusan beliau sempat ketemu saya di jalan samping masjid,” jawabnya sambil menenteng sayur-sayuran.
“Kasihan, ya?! Anaknya dua. Masih muda-muda, belum ada yang kawin. Yang bungsu itu lho masih SD.”
“Ya. Kan teman anak saya, Mbak?! Tapi, jarang masuk katanya.”
“Loh…. padahal dia selalu berangkat ke sekolah lho, Dik?”
“Ya, tapi tidak nyampek,” tanggapnya. Perempuan yang satu ini memang selalu mengangguk. Pertanda perempuan shalihah. Selalu khidmat kepada sesama. “Kabarnya yang sulung juga demikian, Mbak. Di kampusnya selalu gonta-ganti pacar. Sampai-sampai dijuluki ‘Piala Bergilir’”
“Zaman kali yang sudah ambudarul, ya Dik?”
“Bukan, Mbak, tapi manusianya yang rusak….”
Hari Jumat itu, para muslimin yang berjamaah salat Jumat di masjid Al-Karomah belum pulang, termasuk pula para suami ibu-ibu itu.
Para ibu tersebut lama menunggu kepulangan suaminya, tak sabar ingin mengorek keterangan tentang kematian Kiai Sobri.
Sebenarnya, suami-suami mereka telah pulang dari masjid, namun masih turut membantu merawat jenazah almarhum Kiai Sobri.
Tak lama berselang, Tahir, suami Munah, ibu yang tadi menonton televisi itu, pulang. Langsung saja Munah menyambutnya dengan serangkai pertanyaan.
“Kiai Sobri sakit apa, Mas?”
“Tidak sakit. Tadi segar bugar. Yang baca khutbah Jumat tadi kan Kiai Sobri. Memang tidak ada tanda-tanda beliau akan meninggal.”
“Meninggalnya memang masih di masjid, Mas?”
“Ya, masih. Masih di masjid,” jawab Tahir sembari melepas sarung dan meletakkan peci di atas meja di ruang tamu. “Saya pulang, mau salat Dzuhur. Mau ambil wudu dulu.”
Munah tercengang. Rasa penasarannya belum terlunasi betul. Ia pun membuntuti suaminya ke kamar mandi sambil terus mendesaknya dengan pertanyaan-pertanyaan.
“Sudah ke masjid, kenapa tidak salat di sana?”
“Kiai Sobri itu meninggal saat membaca khutbah kedua, Dik. Belum selesai bacaannya, tiba-tiba beliau ambruk. Saya yang duduk di shaf terdepan, pas depan mimbar, langsung menghampiri beliau. Ternyata seketika itu juga beliau sudah tak lagi bernyawa. Kami bertiga: saya, Kadir, dan Parman, langsung membawa beliau pulang. Dan di masjid, serentak Kiai Ramdan mengganti peran almarhum di mimbar.”
Tahir melepas alas kakinya di luar pintu kamar mandi, sementara Munah beranjak ke jemuran mengambil handuk untuk suaminya.
“Di rumahnya, istrinya ada, Mas?” tanya Munah sekeluarnya Tahir dari kamar mandi.
“Tidak ada. Sepi. Kata tetangganya, tadi Bu Limah di warung sedang melayani para pelanggannya. Tapi, setelah tahu Kiai Sobri meninggal, ia bergegas pulang.”
“Loh…. meski bulan puasa warung nasinya tetap buka to, Mas?”
“Ya. Kiai Sobri yang tempo hari menasihati tak dihiraukan, malah mengeluh. Kalau warung tidak buka, mau dapat uang dari mana, katanya. Kalau tidak ada uang, mana mungkin bisa belikan baju baru anak-anaknya. Dia juga bilang kalau yang makan siang hari di warungnya itu adalah para musafir. Jadi, tidak apa-apa,” jawab Tahir sambil lalu menuju kamar yang sejak empat tahun dijadikan tempat salat fardu. Khusus salat Jumat ia memang tak pernah absen berjamaah ke masjid.
“Saya mau salat Dzuhur dulu, Dik!” katanya sebelum bertakbiratul ihram.
Munah kembali menyalakan televisi, mengisi waktu selama menanti suaminya.
“Saya keburu, Dik! Mau ke rumah almarhum. Beliau belum dimandikan dan sebagainya. Mari, kalau hendak ikut ke sana!”
Kesia-siaan menimpa Munah. Tahir yang dari tadi ditunggu untuk melanjutkan acara tanya-jawab, ternyata langsung melesat.
Munah menggerutu. Lalu, mengambil kerudungnya, berlalu ikut hadir ke rumah almarhum. Ingin juga berbelasungkawa. “Dan…. siapa tahu, di sana saya bisa puas dengan jawaban-jawaban,” pikirnya.
Berangkatlah ia dengan sambil memberi tahu serta mengajak tetangga-tetangganya.
“Bagus meninggalnya Kiai Sobri, ya?” sambil berjalan ia berbincang dengan para tetangga yang diajaknya.
“Kenapa?”
“Yang pertama, beliau meninggal pas di dalam masjid saat berkhutbah. Kedua, tepat pada hari Jumat. Jumat kan hari paling baik? Sayyidul ayyam, katanya. Terus yang ketiga, sekarang kan bertepatan dengan bulan Ramadhan.”
“Iya-ya….”
“Jarang-jarang orang meninggal dunia dengan meraih tiga keistimewaan sekaligus.”
Para tetangganya mengangguk-angguk.
Sesampainya di rumah almarhum, seketika mereka terperangah lantaran pelayat yang hadir sangat sedikit. Hanya segelintir orang. Empat laki-laki: Tahir, Kadir, Parman, dan Kiai Ramdan. Yang lain adalah anak-anak dan satu perempuan: Bu Limah, istri Kiai Sobri. Merupakan pemandangan baru yang cukup aneh di kampung ini saat tiba kematian seseorang. Baru kali ini. Sungguh janggal sekali.
Di kamar depan hanya Kiai Ramdan yang menemani almarhum sambil membaca surah Yasin. Sementara di kamar tengah, kamar yang selama ini menjelma ruang tirakat Kiai Sobri, terdapat hal yang jauh lebih aneh. Seorang anak kecil mengacak-acak seisi kamar sambil mengamuk dan menceracau tanpa arah. Suara lantangnya memekakkan telinga. Bukan hanya suaranya yang keras yang membuat mereka ternganga, tapi isi dari suaranya yang tak kalah menciptakan suasana menjadi gaduh dan orang-orang terkesiap.
Bagaimana tidak? Anak bungsu Kiai Sobri yang sedang ditenangkan oleh Tahir, Kadir, dan Parman itu meraung-raung mengatakan bahwa Kiai Sobri bukanlah ayahnya. Kiai Sobri tak sama sekali hadir dalam hidupnya. Ketika ia membutuhkan, Kiai Sobri selalu tidak ada.
“Saya tidak punya ayah. Saya hanya punya Ibu. Hanya Ibu yang selalu memberi saya uang, yang selalu belikan saya sesuatu, yang selalu membimbing saya, yang selalu menemani saya…… Ayah hanya selalu di kamar ini. Ketika saya butuh, dia selalu bilang, ‘jangan ganggu Ayah. Ayah lagi ada urusan’,” katanya dengan peluh memenuhi mukanya.
Memang, semenjak anak bungsunya berusia sekitar empat tahun, Kiai Sobri sempat menghilang dari kampung ini. Tak satu pun orang yang tahu ke mana hilangnya, termasuk istri dan anak-anaknya. Sekembalinya beliau di tengah-tengah keluarga, tingkah-lakunya menjadi aneh. Beliau tak mau keluar kamar, selain cuma memenuhi kebutuhan di kamar mandi: buang air dan berwudu, dan ke masjid Al-Karomah setiap Jumat. Bahkan untuk makan saja, ia minta dihidangkan ke kamarnya. Untuk ganti baju, ia juga minta diantarkan.
Hampir empat tahun berjalan, Kiai Sobri bertirakat di dalam kamar. Beliau bermaksud menghindar dari kemewahan dunia, ingin menyucikan diri, serta hendak menjauh dari kerusakan dan pengaruh duniawi. Beliau hanya mau menyatukan hati dan pikiran untuk kehidupan akhirat. Hanya ingin menyibukkan diri demi kepentingan akhirat. Tak lebih. Maka, tak keluar-keluarlah beliau dari dalam kamar. Hingga kondisi fisiknya tak lagi karu-karuan. Rambutnya kusut. Mukanya redup. Bajunya kumal. Tubuhnya kurus. Matanya cekung. Kumis dan jenggotnya panjang menjuntai.
Adalah istrinya sebagai tulang punggung keluarga. Dengan menjual nasi di warung pinggir jalan, Bu Limah berusaha kuat menafkahi Kiai Sobri dan membiayai hidup kedua anaknya. Sementara Kiai Sobri tak mau berinteraksi dengan orang-orang, kecuali istrinya. Itu pun jika sedang sangat dibutuhkan. Bila tidak, bila istrinya masuk ke kamar tanpa seizinnya, Kiai Sobri seketika naik pitam. Beliau memang tidak mau diganggu oleh siapa pun.
Meski di masjid beliau tetap demikian. Beliau pasti orang pertama yang masuk ke masjid dan memilih shaf paling depan. Biji-biji tasbihnya diputar seiring dengan gelengan kepala. Saat seseorang menghampiri dan hendak menyampaikan sesuatu, beliau malah menasihati, “Di sini rumah Allah, dilarang bicara! Apalagi urusan dunia.”
Sebulan sekali beliau kebagian menjadi khatib. Khatib turunan dari almarhum ayahandanya, Kiai Mi’un. Di masjid, beliau membuka suara hanya ketika membaca khutbah dan mengimami salat. Selebihnya, beliau hanya berzikir dan terus berzikir.
Pulangnya pun beliau paling akhir. Kepalanya selalu tertunduk, jalannya tergesa-gesa. Ketika ada orang berkepentingan padanya selama di jalan, beliau selalu menanggapi, “Maaf, saya terburu! Tidak baik bicara di jalan.” Dan pada saat sampai di rumahnya beliau tegaskan, “Sedang banyak urusan di kamar, tidak bisa diganggu.”
Maka tak heran, saat kepulangan beliau ke rahmatullah, suasana rumahnya tampak sepi. Sepi dari pelayat.
Sesekali Kiai Ramdan dan muslimin lainnya keluar pintu sambil sedikit mendongakkan kepala. Mencari-cari barangkali ada orang selain mereka yang hendak takziah. Terus demikian hingga berjam-jam. Sampai akhirnya mereka menyimpulkan, penantian mereka sia-sia. Lalu, Kiai Ramdan mengambil langkah, yang lain sepakat. Walhasil, Kiai Sobri akan segera dimandikan, dikafani, disalati, lalu dikebumikan oleh mereka berempat.
Kiai Ramdan membagi tugas: Tahir menimba air, menyediakan sampir, dan sabun. Kadir menggali kubur. Parman memotong bambu. Beliau sendiri menggunting kain kafan. Sementara yang lain, kaum ibu serta Bu Limah, bertugas menjaga si bungsu.
Sesaat kemudian, jasad Kiai Sobri sudah disucikan, sudah dibungkus kain kafan, dan sudah pula ditelentangkan di dalam keranda. Masalah kemudian muncul saat keempat laki-laki tersebut hendak mengangkat keranda. Dan masalah kedua, hanya Kadir yang tahu.
Sungguh, Kawan, cerita ini bukanlah sekadar cerita. Bukan dongeng sembarang dongeng. Percayalah, ini nyata, Kawan!
Keranda itu berat sekali. Keempat laki-laki itu tidak kuat mengangkatnya. Kiai Ramdan bingung. Dan yang lain bertanya-tanya. Ada apa? Padahal tadi Kiai Ramdan dan Tahir kuat mengangkat jasadnya selepas dimandikan. Begitu pula Kadir dan Parman, kuat hanya berdua membawa keranda dari masjid hingga ke rumah almarhum. Tapi, sekarang…. keranda dan jasad itu tiba-tiba sangat berat, tak bisa diangkat.
Seketika, terngiang dalam telinga Kiai Ramdan akan teriakan si bungsu tadi. Mungkin sebab itu, pikirnya. Akhirnya beliau lekas ke kamar tengah. Tak lupa beliau melafadzkan sebuah doa. Doa pembuka hati.
Tahu Kiai Ramdan menuju ke kamar almarhum, para ibu itu segera menyingkir.
“Nak, Kiai Sobri sudah tiada. Tanpa perantara beliau kamu tak akan terlahir. Saya minta dengan sangat, akuilah beliau sebagai ayahmu,” sambil berjongkok Kiai Ramdan mengelus-elus dahi si bungsu. Sedangkan tangan kirinya mendekap tubuh kecil itu.
Seraya terisak, si bungsu berkata, “Ya, Kiai. Saya akui. Saya adalah tetesan darah ayahanda Sobri. Beliau ayah saya.” Akunya, lalu terduduk. Kiai Ramdan merasa lega.
“Bismillah…… mari kita angkat lagi!” beliau memberi komando kepada ketiganya.
“Alhamdulillah….” serempak mereka memuji. Serasa dada terlepas dari lilitan sabut-sabut yang dipintal. Beban keranda seketika menjadi ringan.
“Mari kita bawa ke masjid untuk disalati,” sambung Kiai Ramdan.
Usai dishalati, sebelum keranda jenazah digotong ke pemakaman, Kadir mulai membuka cerita. Ia jujur mengatakan bahwa tenaganya terbuang percuma saat menggali lubang untuk pemakaman Kiai Sobri. Tahir dan Parman terperanjat. Lebih-lebih Kiai Ramdan. Beliau sedikit kurang percaya.
Ingat, Kawan…. lagi-lagi, ini bukan sekadar cerita biasa.
“Biar Tahir dan Parman tunggu di sini! Saya sama Kiai Ramdan mau ke lokasi dulu,” tegas Kadir kepada teman-temannya. “Mari, Kiai, saya tunjukkan! Cangkul saya tetap di sana,” imbuhnya dengan tangan mengarah ke pintu keluar.
Keduanya keluar dari masjid menuju letak pemakaman.
Sesampainya di pemakaman, Kadir menunjuk-nunjuk bekas tanah yang ia cangkuli namun tak membuahkan hasil itu.
“Lihat, Kiai! Saya awalnya mencangkul yang di sebelah sana, ada batu besar. Terus pindah ke sebelah dekat makam Kiai Sadrun itu, ternyata sama. Saya pindah lagi ke sebelah kanannya, juga sama. Akhirnya saya cangkul di sini, ternyata nih batunya sangat besar, Kiai!” Kadir melapor. Wajahnya bersungguh-sungguh.
Kiai Ramdan mengangguk-angguk penuh arti. Paham bercampur heran. “Baru kali ini,” beliau membatin. “Adakah ini simbol alam atas kelakuan Kiai Sobri selama ini? Ataukah dosa keluarganya yang terlepas dari bimbingannya? Wallahu a’lam….”
Sejenak Kiai Ramdan teringat sesuatu. “Mari ikut saya! Biarkan cangkulmu di sini!” ajaknya kepada Kadir. Kadir menurut saja. “Kita ke rumah, ambil mobil. Lalu ke kampus Leila,” lanjut beliau.
Setelah mobil bersedia dikendarai, Kiai Ramdan dan Kadir meluncur cepat menerobos jalan yang sore itu tengah lengang. Tak sampai seperempat jam, mobil Kiai Ramdan sudah memasuki pintu gerbang kampus utama.
“Kamu yang keluar. Cari Leila! Saya tunggu di sini. Jika ketemu, cepat ajak kemari! Atau minta untuk pulang sebentar!” perintah Kiai Ramdan kepada Kadir, lalu Kadir menyahut, “Baik, Kiai!”
Beberapa saat kemudian, Kadir kembali dengan keringat membintik di jidat dan bawah hidungnya. Ia kembali dengan tangan hampa. Lagi-lagi, tenaganya terbuang cuma-cuma.
“Maaf, Kiai! Leila tidak ada di dalam. Menurut pemaparan temannya, dia sering bolos. Kalau tidak di kosannya, dia pasti di rumah temannya! Ini saya sempat mencatat kedua alamat itu,” jelas Kadir serius sambil menyerahkan catatan alamat ke pangkuan Kiai.
Tanpa pikir panjang, setelah Kiai Ramdan membaca sekaligus mencermati alamat tersebut, beliau langsung belok kanan, tancap gas dan menyusuri jalan.
Setelah berada di Jalan Kembang Gang Melati, beliau memperlamban laju mobilnya. Dengan penuh perhatian, dua pasang mata itu menyapu pandangan, mencari rumah dengan nomor 23.
“Benar! Ya, ini alamat rumah kos Leila sesuai catatan ini. Silahkan kamu turun!”
Kadir segera turun. Langkah mantapnya lurus menuju pintu masuk. Dari luar terdengar suara riuh sekali. Suara cekikikan muda-mudi. Langsung saja Kadir mengetuk pintu.
“Cari siapa?” sambut seorang perempuan berpakaian ketat dengan rambut sebahu.
“Leila ada?”
“Oh, Ila. Sebentar saya panggil,” perempuan itu membelakangi Kadir, dan berlalu. “La… ada om-om yang nyari’in kamu….”
Sekejap kemudian, Leila muncul dengan senyum sumringah. Kadir mengajak Leila ke mobil, menghadap Kiai Ramdan.
Tanpa basa-basi, beliau berkisah tentang kematian Kiai Sobri. Namun tak lengkap dari awal hingga akhir. Beliau khawatir dengan keberadaan jenazah Kiai Sobri yang tetap digeletakkan di dalam masjid. Takut menambah masalah baru. “Pokoknya sekarang kamu pulang dulu!” ujar beliau mengakhiri kisah.
Tak ada perubahan di raut wajah Leila. Ia biasa-biasa saja. “Kalau saya pulang, apa yang harus saya lakukan? Pantaskah saya mendoakan orang yang selama ini tidak peduli terhadap saya? Maaf, Kiai! Selama ini, ia tak pernah memerhatikan saya.”
“Istighfar, Nduk! Beliau tetap ayahmu. Anak yang shalihah adalah anak yang selalu memaafkan dan mendoakan orang tuanya. Saya hanya minta kamu pulang meski sebentar. Ridai kepergian ayahmu. Dan sebaiknya, kamu maafkan dan doakan beliau. Biar kepergian ayahmu lancar, Nduk! Biar bumi mau menerimanya.”
Sedikit demi sedikit perubahan itu mulai terlihat di garis wajah Leila. Ia menunduk. Pikirannya berkecamuk.
“Kalau ternyata kamu tak mau pulang dan tetap tak memaafkan beliau, daripada jasadnya membusuk sebab tak diterima bumi, lebih baik kami hanyutkan saja ke sungai. Itu pun jika kamu menjadi puas. Bagaimana, Nduk?” kata-kata Kiai Ramdan menyusup ke kedalaman hati Leila. Maka wajar jika Leila menitikkan air mata.
“Ba…. baik, Kiai! Saya bersedia pulang,” Leila sesenggukan.
Kalimat syukur berkoar di batin Kiai Ramdan dan Kadir. Ketiganya meninggalkan halaman rumah kos Leila.
Selama di perjalanan, Leila hanya diam. Dan sekali-kali menyeka air mata.
Sebelum pertigaan, mobil Kiai Ramdan tiba-tiba menyeberang jalan. Itu artinya langsung mengarah ke jalur masjid Al-Karomah, tempat Kiai Sobri menghembus napas terakhir, sekaligus tempat beliau disalati, dan menunggu terbukanya tempat di bumi.
Spontan rombongan Kiai Ramdan kaget. Ketika turun dari mobil seakan kaki-kaki mereka tak menginjak tanah halaman masjid. Seandainya tubuh mereka diiris, seolah tak akan keluar darah, dari saking kagetnya. Bagaimana tidak? Tahir dan Parman yang diminta untuk menunggunya sambil menjaga jenazah Kiai Sobri di masjid, tiba-tiba lenyap tiada bekas. Keranda jenazahnya juga menghilang.
Lamat-lamat seseorang berlari ke arah mereka. Dan tak lain, ternyata Tahir. Sambil mengatur napas dia berkata, “Maaf, Kiai! Jenazah Kiai Sobri sudah dimakamkan di dekat makam Kiai Mi’un. Putra bungsu beliau menemukan catatan di antara lembar al-Qur’an di kamar tirakatnya, bahwa beliau berwasiat untuk dimakamkan di samping kanan ayahandanya. Pemakamannya kami juga dibantu oleh sebagian masyarakat atas himbauan Bu Limah.”
Seketika, lantunan tasbih menggema di sudut batin mereka. Nafiri hamdalah teralun merdu di relung hati mereka. Setidaknya, dengan ini mereka bisa mengambil pelajaran.***)
Qarnul Islam, 12 Juli 2021
*) Fathorrozi, penulis novel Santri in Love (Asrifa, 2011) dan Jejak Langkah Sang Kyai (Pustaka Raja, 2021). Tinggal di Qarnul Islam Ledokombo Jember. Kesehariannya berbagi ilmu di MTs, MDT dan MQ Nurul Qarnain Sukowono Jember.

