Oleh: Ahmad Rofiq
Pada hakikatnya manusia diciptakan hanya untuk beribadah kepada Allah SWT, sebagaimana firmanNya dalam surah Az-Zariyat ayat 56: Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepadaku.
Ayat di atas menjelaskan tentang jin dan manusia yang memiliki konsekuensi penghambaan kepada Tuhan karena alasan penciptaan. Meskipun pada kenyataannya Allah tidak membutuhkan ibadah kita. Ibadah merupakan refleksi daya iman kita kepada Allah SWT. Tandanya, apabila semakin dekat dengan-Nya maka daya iman akan semakin meningkat. Ketika keimanan kita semakin meningkat maka terejawantahkan dalam pelaksanaan ibadah dan tingkah laku sehari-hari.
Dalam hal ini, ibadah bukan hanya berkonsentrasi pada pelaksanaan perintah Tuhan. Kebalikannya; menjauhi larangan-Nya; juga termasuk bagian dari ibadah. Hal ini sebagaimana pendapat Imam Al-Ghazali dalam kitabnya Minhajul Abidin
Menurut ulama kelahiran Thus, Khursan, Negara Persia yang kini menjadi Iran, ibadah memiliki dua bentuk. Pertama, Iktisab, yaitu mengerjakan segala perintah yang telah Allah tetapkan kepada hambanya, seperti shalat, puasa, dan segala bentuk ibadah mahdlah lainnya. Kedua, Ijtinab, yaitu meninggalkan atau mencegah dari perbuatan maksiat dan segala jenis kejelekan.
Keduanya merupakan definsi dari taqwa, melaksanakan perintah (iktisab) dan menjauhi larangan (ijtinab). Maka apabila diajukan pertanyaan, mana lebih baik dari salah satu keduanya. Melaksanakan perintah (Iktisab) yang telah ditetapkan merupakan suatu kewajiban bagi hambaNya. Apabila ditinggalkan maka konsekuensi kelalaian adalah dosa. Menurut al-Ghazali term pertama ini biasanya dikerjakan oleh para hamba pemula dalam ibadah. Mereka disibukkan ritual keagamaan seperti malam harinya digunakan untuk salat, siang harinya melaksanakan puasa.
Sedangkan hamba yang sudah sampai pada puncaknya dan memiliki mata batin, mereka lebih mementingkan konsentrasi terhadap pemeliharaan hati agar tidak berpaling kepada selain Allah. Menjaga perut mereka dari makanan syubhat. Memelihara lisan-lisan dari pembicaraan yang tidak ada gunanya. Serta menghindar dari melihat sesuatu yang tidak membuahkan kebaikan di dunia dan di akhirat.
Ijtinab adalah perkara yang sangat sulit dan lebih berat ketimbang iktisab. Pahalanya pun lebih besar. Alasannya karena mengerjakan perintah (iktisab) ini mampu dikerjakan oleh siapa pun. Sedangkan meninggalkan perkara yang dilarang (Ijtinab) tidak akan mampu dikerjakan kecuali oleh orang-orang yang membuktikan ucapan dengan perbuatan (shiddiqun).
Pembuktiannya pada contoh kasus yang sering dialami oleh ahli ibadah yang tidak memberikan dampak positif terhadap kehidupan sehari-harinya. Mereka salat, puasa dan sedekah akan tetapi tidak memiliki efek resonansi (getaran positif) kepada mereka. Rajin beribadah akan tetapi suka berbuat dosa, ghibah, adu domba, dan berbohong.
Penting dalam pelaksanaan salat kita untuk sabar terhadap beratnya kewajiban serta penyerahan diri terhadap segala perintah Allah. Berpuasa bukan hanya identik dengan menahan dari makan dan minum, akan tetapi menahan juga dari perkataan yang buruk. Sedekah juga bukan hanya pemberian harta benda semata, melainkan menahan diri untuk selalu tidak berbuat zalim kepada orang lain.
Imam Al-Ghazali menganalogikan perkara ini dengan mengobati orang sakti. Ada dua bagian dalam proses penyembuhan; obat dan penjagaan (pencegahan dari hal-hal yang bisa membahayakan orang yang sakit tadi). jika keduanya dapat dilakukan dengan baik, maka yang sakit bisa untuk sembuh. Akan tetapi apabila tidak bisa dilakukakan secara keseluruhan, mencegah adalah hal yang lebih utama, karena sejatinya obat tidak akan berguna tanpa diiringi pencegahan diri dari potensi yang bisa membuat orang sakit semakin parah dengan baik.
Senada dengan sabda Nabi yang diriwayatkan ibn Abi al-Duniya: Asal segala obat adalah pencegahan. Konon, penduduk India apabila ada orang yang sakit, mereka merawatnya dengan sebuah pencegahan makanan, minuman, dan perkataan yang tidak ada manfaatnya selama beberapa hari. Dan terbukti kebanyakan dari mereka dapat sembuh dan kembali pulih.
Kesimpulannya, takwa adalah standart kedudukan di mata Allah SWT. berdasarkan sabda Nabi: Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu sekalian adalah orang yang paling bertakwa. Apabila seorang hamba bisa melaksanakan perintah (Iktisab) dan menjauhi larangan (Ijtinab) dengan baik maka dia akan memiliki derajat yang tinggi. Akan tetapi apabila dihadapkan pada pilihan antara Iktisab dan Ijtinab, maka yang penting diutamakan adalah Ijtinab.
Evaluasi kita selama ini bisa mendapatkan titik terang. Kegamangan dewasa ini biasanya terbius oleh pembawaan orang yang selalu ingin beribadah dengan tekun. Namun di sisi lain, tanpa mereka sadari perbuatan sehari-hari bertolak belakang dengan ibadah yang mereka lakukan. Maka melalui pendapat imam Al-Ghazali ini kita dapat merefleksikan diri dan menjadi penawaran terbaik menjadi seorang hamba sejati.
(Disadur dari kitab Minhajul Abidin, Al-Ghazali, Cet. Nurul Huda: 43)
*) Alumni Pondok Pesantren Nurul Iman Ellak Daya Lenteng. Saat ini menjadi santri aktif rayon KH. Ahmad Basyir AS PP. Annuqayah Latee Guluk-Guluk.

