Image Slider

Penguatan Ranting Jadi Isu Utama Rapat Syuriah dan Tanfidziyah PCNU Sumenep

Gapura, NU Online Sumenep

Isu penguatan ranting sudah lama dibicarakan, mulai Muktamar di Makasar dan bahkan sampai Muktamar di Jombang, tahun 2015 silam. Para ulama di nusantara sejak dulu sudah bicara isu penguatan ranting. Namun demikian sampai sekarang panduan praktisnya bagaimana mendampingi dan menguatkan ranting belum juga ada.

Karena itu maka setiap Cabang NU memiliki kreasi sendiri cara menguatkan ranting sesuai situasi dan kondisinya.

Demikian dawuh Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sumenep KH. A. Pandji Taufiq dalam rapat Koordinasi Syuriyah- Tanfidziyah bulanan, Ahad (29/11/2020) di Pondok Pesantren Nasy’atul Muta’allimim Gapura Sumenep.

“PCNU Sumenep sendiri sejak tahun 2000 sudah bicara soal penguatan ranting, bahkan pernah mengadakan Halaqah agar ranting kuat sebagai penyangga Islam Ahlusunnah wal Jamaah”, ujarnya mengurai sejarah penguatan ranting di Sumenep.

Beliau menyadari bahwa beberapa ranting masih terlihat formalistik, masih sebatas SK saja, tapi belum menunjukkan karya nyata dalam kehidupan sosial kemasyarakatan dan kebangsaan.

Ketua PCNU yang selalu tampak sederhana itu mengusulkan agar NU segera membuat panduan teknis penguatan ranting, agar ranting makin terorganisir dan terarah.

Beliau juga mengatakan bahwa NU sebagai organisasi sosial keagamaan oleh beberapa ranting masih terlihat identik dengan partai politik, padahal NU adalah rumah besarnya warga NU mengawal Islam Aswaja agar kehidupan makin dekat dengan model Islam wasathiyyah.

“Kedepan penguatan ranting perlu dikawal langsung oleh jajaran Syuriyah”, tuturnya memberi solusi.

Di antara kelemahan yang ada, Ketua yang sudah banyak bergulat dengan problematika kehidupan umat ini menyebut bahwa di beberapa ranting juga tampak makin kuat. Beliau sebut, mulai tumbuh kesadaran sosial warga, ada anak ranting bahkan sudah bisa buat kantor NU, ada ranting yang urunan membantu warga lainnya yang sakit, ada yang bisa santuni yatim, berkorban, bangun jembatan, rehab rumah dll.

“Apakah penguatan ranting ditandai dengan terbangunnya infrastruktur kantor atau terkonsolidasinya kekuatan warga?”, tanyanya mencoba membuka mindsett alam berfikir pengurus.

Senada dengan beliau, Wakil Ketua PCNU Sumenep K. Dardiri Zubairi mengemukakan hasil halaqah jelang Konferensi tentang ukuran ranting yang dianggap kuat, antara lain:

Pertama, ada stukturnya, hal mana nama pengurus tercantun dalam SK, bukan dicatut tapi diberitahu, punya kometmen mau bekerja. Kedua, ada perkumpulan rutinnya, sebagai wadah jalinan komunikasi pengurus dan warga membicarakan masalah sosial kemasyarakatan. Ketiga, ada kegiatan sosialnya, bukan hanya rajin berkumpul tapi juga kegiatan sosialnya jelas.

“Ada ranting yang membantu air gelasan pada warga miskin yang meninggal dunia. Itu contoh nyata kegiatan sosial”, ujar beliau menyontohkan.

Keempat, ada sekretariatnya, tempat pengurus menyimpan dokumen kesejarahan, central gerakan kemasyarakatan merancang, mengeksekusi dan mengevaluasi kegiatan.

Beliau juga mengusulkan agar ada gerakan ‘NU Memanggil’.

“‘NU memanggil’ adalah gerakan pendampingan oleh anak muda yang dilatih secara khusus agar mereka mendermabaktikan potensinya mengawal dan menyambungkan masalah dengan potensi ranting”, sambungnya ikut memberi solusi.

Beliau juga mengajak lembaga Lembaga Ta’lif wan-Nasyr Nahdlatul Ulama (LTN NU) agar menguak pemberitaan ranting yang memiliki kegiatan inspiratif agar dapat dicontoh oleh ranting lainnya.

Pada kesempatan itu pula pengurus lainnya, K. Munif Zubairi, mengatakan bahwa penguatan ranting tak cukup diteorikan melainkan dikuatkan dengan gerakan spritualitas, yaitu gerakan istighasah.

Dorongan serupa juga digaungkan Bendahara PCNU Sumenep K Kurdi Khan. Menurut beliau perlu menetapkan ranting binaan, tidak semua ranting. Dimana semua lembaga dan banom memokuskan kegiatannya pada ranting dimaksud untuk menggali, mengekplorasi potensinya sehingga segera terkuak manfaat sosialnya.

Hampir semua yang hadir menawarkan solusi, mulai dari membaca kekuatan tokoh, keterlibatan pengurus MWC, perlunya pemberian pemahaman ke NU-an.

“Semua tak cukup dengan wacana. Syuriyah-Tanfidziyah perlu kongkrit turun ke bawah bertemu MWC dan ranting guna membicarakan penguatan sesuai keadaan ranting”, dawuh Rais Syuriyah PCNU Sumenep KH. Hafidzi Syarbini melegitimasi semua pendapat yang berkembang. 

Pewarta: Ach Subairi Karim

Editor: A. Habiburrahman

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga