Di masa hidupnya, Gus Dur dikenal sebagai sosok yang penuh kontroversi. Tindakan, pemikiran, dan perkataannya seringkali nyeleneh membuat kawan serta lawan politiknya menggelengkan kepala tanda tak paham. Namun demikian, apa yang beliau lakukan selalu dapat dipertanggungjawabkan.
Tidak hanya pada hal-hal besar, kekontroversian Gus Dur juga dapat ditemukan dalam perihal kecil, termasuk di antaranya pada tanggal lahir beliau sendiri. Seperti yang kita ketahui, tokoh bernama lengkap KH Abdurrahman Wahid berulang tahun dua kali dalam satu tahun.
Hari lahirnya yang pertama dirayakan pada tanggal 4 Agustus, sedangkan yang kedua saat 7 September. Di peringatan kelahirannya yang pertama, warganet meramaikannya dengan memasang tagar “#HarlahGusDur” dan memakai “#UltahGusDur untuk yang kedua. Lalu pertanyaannya, mengapa bisa demikian?
Dalam sebuah cerita dituturkan bahwa hal ini bermula pada waktu Gus Dur kecil mendaftarkan diri sebagai siswa di sebuah Sekolah Dasar (SD) di Jakarta. Gus Dur ditanya, “Namamu siapa, Nak?” Gus Dur menjawab “Abdurrahman.”
“Tempat dan tanggal lahir?” tanya sang guru. “Jombang, tanggal empat, bulan delapan, tahun 1940,” jawab Gus Dur setelah berpikir agak lama. Ia ragu sebab dia menghitung terlebih dahulu bulan kelahirannya. Gus Dur hanya hafal bulan Komariahnya (Hijriah), namun lupa hitungan Syamsiahnya (Masehi).
Ternyata, yang Gus Dur maksud, dia lahir bulan Sya’ban, bulan kedelapan dalam hitungan hijriah. Tetapi gurunya menganggap Gus Dur lahir bulan Agustus. Lalu manakah yang benar di antara keduanya?
Ning Alissa Wahid, putri sulung beliau dalam salah satu cuitannya mengkonfirmasi bahwa kedua tanggal tersebut adalah benar.”#UltahGusDur hari ini? Iya. 7 September, hari ulang tahun yang asli. 4 Agtustus, hari ulang tahun yang legal,” tulis Neng Alissa di akun Twitternya.
Sumber: NU Online

