Kota, NU Online Sumenep
Berdasarkan Aturan Dasar dan Aturan Rumah Tangga (AD/ART), jenjang pendidikan di Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) memiliki tahapan tertentu. Salah satunya adalah anggota diwajibkan memiliki kompetensi dan skill materi dari masing-masing jurusan.
Melalui Divisi Jurnalistik, Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Mastapala Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Madura menggelar ‘Kelas Menulis’ untuk Anggota Lulus Diklat (ALD). Acara dimulai jam 09.00 WIB, Ahad (1/8/2021) di sekretariat setempat.
Ruqayyah mengutarakan, kegiatan ini merupakan bagian dari program divisi jurnalistik yang digelar setiap tahun. Tepatnya setelah peserta Pendidikan dan Latihan Dasar (Diklatsar) dinyatakan lulus dari Diklat Lapang yang dilaksanakan selama lima hari di Desa Soddara, Kecamatan Pasongsongan.
“Seluruh ALD wajib mengikuti program kami. Sebab lewat pengembangan materi ini, mereka akan kami didik menjadi kader yang ahli di bidang literasi, khususnya di dunia jurnalis,” ujar Ketua Divisi (Kadiv) Jurnalistik Mastapala.
Firdausi yang didaulat sebagai narasumber menjelaskan, jurnalistik lingkungan adalah sebuah penghimpunan berita, pencarian fakta, dan pelaporan peristiwa yang mayoritas menyoroti aspek-aspek non manusiawi. Baik air, udara, tanah, dan api yang dilihat dari nilai beritanya rendah menurut segelintiran orang.
“Peritiwa yang ditampilkan, terkait dengan bencana alam, perubahan iklim, global warming, penipisan lapisan ozon, dan kebijakan pemerintah tentang lingkungan hidup,” ungkap Ketua Lembaga Ta’lif wan-Nasyr Nahdlatul Ulama (LTN NU) Sumenep saat mengawali penyampaian materi.
Tak sampai di situ, jurnalistik lingkungan hakikatnya mensyiarkan beragama fenomena alam yang terjadi di beberapa daerah.
“Jika dalam payung Mapala, maka seluruh kegiatan yang orientasinya pada lingkungan hidup dan sosial kemasyarakatan, harus disampaikan lewat tulisan, audio, dan video yang keakuratan datanya shahih atau faktual. Contohnya, melakukan reportase saat bencana alam, bakti sosial, pengawetan atau herbarium, analisa vegetasi, analisa air, pengamatan burung, susur gua (caving), ekspedisi gunung, Search and Rescue (SAR), panjat tebing, olahraga arus deras, dan lain-lainnya,” ulas pria yang pernah merintis Mastapala itu.
Wakil Sekretaris Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Pragaan itu memberi dorongan pada peserta agar tidak malu dan tidak takut salah dalam menulis. Sebab perintis Mapala Indonesia, Soe Hok Gie seorang jurnalis yang tulisannya sering dimuat dalam surat kabar. Salah satu ciri khasnya adalah kritikannya tajam, penuh dengan idealisme, dan orisinal.
“Bagi pemula pasti salah. Sama dengan kami yang terkadang tulisannya tidak sesempurna Gie dan jurnalis lainnya,” pungkasnya.
Sebelum peserta diberikan penugasan, pemateri yang juga menjadi dosen di Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (Instika) Guluk-Guluk itu menyampaikan beberapa materi secara bertahap, seperti teknik penulisan berita, wawancara, dan kode etik jurnalistik.
Pewarta: Diana Galtar dan Jihan Fitriana Sandana Devi
Editor: Firdausi

