Image Slider

Almarhum Ustadz Masyhuri, Ketua NU Batang-Batang yang Tak Banyak Orang Tahu

Oleh: Zawawi *)

Kematian memang tidak ada yang tahu, kapan dan dimana kita berpulang. Semua menjadi rahasia Ilahi. Kullu nafsin dzaiqatul maut, setiap yang bernyawa pasti merasakan mati. Yang kita harapkan hanyalah husnul khatimah membawa iman dan Islam saat ajal tiba. 

Banyak kenangan tentang almarhum Bapak Masyhuri, menjadi kader dan mengabdi di NU yang tidak butuh legitimasi dan formalitas. Pengabdiannya mengalir searah jarum jam karena keterpanggilan jiwanya. Sekalipun pada akhirnya konsekuensi konstitusional  dalam berorganisasi di NU mengharuskan kader yang dikehendaki untuk dipilih dalam konferensi itu harus memenuhi kriteria administrasi dan tata tertib.  

Agustus 2020, saat Konferensi MWCNU Batang-Batang digelar di lembaga pendidikan Darul Islah, Kolpo, forum memberikan mandat kepadanya untuk melaksanakan tugas keorganisasian sebagai ketua tanfidziyah. Satu langkah pengabdian yang menuntut totalitas untuk menggapai barokah yang diyakini oleh Nahdliyin sebagai santri Hadratussyekh KH M Hasyim Asy’ari. 

Karakter dan pembawaan setiap orang menjadi pemimpin tentu tidak harus sama. Baginya, menjadi Ketua MWCNU kata kuncinya adalah amanah dan bekerja sesuai aturan. Soal konsep dan pola komunikasi ia memang apa adanya. Sekalipun kisi-kisi bagi setiap kader dan para aktivis sudah ada pakem dan teorinya tentang ANSWOT dan problem solving, leadership dan management. Ia lebih sering mendorong jajarannya untuk berkhidmat lebih gigih dan dalam tentang apapun untuk memajukan NU.

Di permukaan, ia memang irit bercanda dan berguyon, tetapi sebenarnya tidaklah sikap demikian adalah ekslusif. Saat rapat atau acara NU lainnya ia duduk dan berdiri tidak merasa lebih tinggi.

Loyalitas dan partisipasinya untuk kegiatan NU tidak diragukan, banyak hal yang ia sumbangkan sebagai ‘saham’ di akhirat kelak. Sebagai lokomotif organisasi, bila pengurus lembaga atau banom akan berkegiatan, pasti secara terbuka diberikan akses dan supporting system.  

Bahkan, hadiah kehormatan dari BMTNU setiap tahun atas jasanya memasukkan costumer penyaham besar selama bertahun tahun tidak pernah diterima sendiri. Tetapi, diberikan kepada pemilik saham 50 persen dan sisa 50 persennya disumbangkan ke kas NU. Bagi saya ini sungguh luar biasa dimana rezeki yang sudah jelas 100 persen menjadi hak miliknya tidak pernah diambil kecuali diberikan kepada orang lain dan disumbangkan ke kas NU. 

Ikhwal ini saya lama mendengar dari pihak lain, bukan dari almarhum. Sebab, ia merupakan tipikal orang yang kurang berkenan atas apa yang ia lakukan diketahui orang lain karena khawatir mengurangi keihklasan. 

Ia tidak pernah menceritakan hal itu sebelumnya, kecuali sewaktu acara Maulid Nabi di MWCNU Batang-Batang, yang menjadi kegiatan terakhirnya sebelum purna tugas. Disampaikan hanya sebagai tahaddus bin ni’mah di hadapan pengurus ranting NU dan lembaga. Di momen itu, ia senantiasa memohon maaf berkali-kali, sebelum akhirnya ia drop sampai menghembuskan nafas terakhirnya di RSUD dr Moh Anwar Sumenep, Rabu (10/9/2025) sekira pukul 23.15 WIB. 

Penulis mengantarnya sampai di pintu mobil ambulans di UGD Puskesmas Batang-Batang, saat hendak dirujuk ke RSUD dr Moh Anwar Sumenep.

Selamat jalan pejuang! Semoga arwahmu bersama para syuhada-shalihin, bersatu dalam rombongan para muassis Nahdlatul Ulama, berteduh dalam naungan syafaat Rasulullah SAW.

Seddung, 11 September 2025

*) Zawawi, Ketua Lakpesdam NU Batang-Batang, Sumenep. 

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga