Kebohongan menjadi gaya hidup baru masyarakat modern dalam kesehariannya berkomunikasi dengan orang lain. Makin hari kebohongan tampak semakin banal dan terlihat wajar, bahkan dibungkus atas nama kebenaran. Kita cermati, betapa banyak tulisan provokatif berisi opini kebohongan diproduksi orang lain, masuk ke handphone kita tanpa mampu disaring sebelum disharing. Cocok, karena tulisan tersebut seselera dengan emosi kita meskipun secara substansi etik layak digali kebenarannya karena tak didasari argumentasi fakta dan realita.
Dengan gagahnya kita forward tulisan tersebut ke sejumlah grup medsos sehingga memengaruhi ruang emosi dan alam berfikir ribuan orang lainnya.
Kalau sudah sesuai emosi keagamaan kita, merasa tak perlu lagi ditelisik fakta otentiknya. Fakta dan data selalu dirobohkan oleh kebohongan tunggal yang dibikin pelaku post truth. Kebenaran faktual semakin dicabik-cabik oleh narasi kebohongan yang diorganisir oleh kelompok tertentu. Karena itu sejak awal agama berpesan bahwa kebohongan yang diorganisir jauh lebih berbahaya ketimbang kebenaran yang lahir apa adanya.
Kenapa kebohongan semakin banal? Karena pelaku kebohongan media mengerti psikologi penikmatnya, ia menarasikan kata dan bahasa mengikuti harapan pendengarnya. Kalau kita sudah memiliki keyakinan pada sesuatu hal, apapun penjelasan logis dari orang lain akan dianggap bohong dan mempedaya.
Para pemilik kebenaran selalu menggambarkan kebenaran sebagai batang kayu balok yang lurus, dicelupkan ke dalam air. Dari sudut pandang atas air, kayu dalam air tampak seperti bengkok dan goyang, karena kondisi gelombang air atau dimensi pandang yang beda.
Kebenaran juga kerapkali digambarkan sebagai dua buah garis yanh panjang garis pokoknya sama, meski cabangnya berbeda. Cabangnya ada yang menjulur ke atas, yang lain telungkup kebawah. Maka akan difahami cabang yang menjulur keatas terlihat lebih panjang padahal batang pokoknya sama. Penafsiran tentang cabang selalu bias karena ukurannya adalah gaya pandang dan sudut analisa yang membentuk keyakinan, bukan obyektifitas batang dasar.
Mengapa keyakinan politis tidak berdasar fakta obyektif? Karena ada dua proses kognitif dalam meneliti dan memecahkan masalah yang kita amati. Ada yang berfikir secara intuitif otomatis, ada yang non otomatis. Yang berpikir otomatis apa yang dilihat didepan mata itulah kebenaran, tanpa mencoba melihat apa di balik sesuatu itu. Sementara kesadaran non otomatis, adalah mereka yang berfikir dibalik peristiwa, bahwa apa yang dilihat kasatmata karena ada sesuatu yang melatarbelakanginya. Intuisi otomatis inilah yang selalu mengalahkan rasionalitas akal sehat.
Orang yang berpikir tidak otomatis selalu mengedepankan fakta dan logika sebagai dasar berfikirnya, ia tak mudah mengambil kesimpulan sebelum sesuatu itu dapat dibuktikan secara ilmiah. Ketika membaca peristiwa kebangsaan, ia akan berfikir ‘ma wara’a dzalika’ sesuatu dibalik serangkaian kejadian, lalu diverifikasi dengan fakta lainnya, tidak ditelan mentah-mentah. Proses berfikir kognitif harus bisa mengalahkan emosi.
Belakangan, orang hanya mau mendengar apa yang dituturkan kelompoknya saja, mengabaikan fakta kelompok lain, sehingga fanatisme berlebihan terjadi. Penggambaran filosofi itu sering dikenal dengan ‘Echo Chamber’ (ruang gema). Bahwa orang yang berada dalam satu kelompok yang sama hanya mau mendengar gema teriakan dari ruang tertutup, hanya suara yang terdengar di ruangannya saja yang dianggap sebuah kebenaran, sementara ragam suara lainnya dianggap provokasi dan bahkan mau menghegemoni dirinya.
Orang mencari peneguhan keyakinan hanya dari teriakan kelompoknya saja. Teriakan yang diulang-ulang meski bohong tapi karena terus didengar di ruang yang sama, difahami satu-satunya kebenaran. Lahirlah fanatisme ekstream.
Disinilah perlunya kita membuka diri dengan berbagai informasi di luar kita, dan berusaha memahami perbedaan sudut pandang orang lain secara terbuka agar bisa keluar dari provokasi kebohongan dan dapat menerima kebenaran lainnya dengan jernih berdasar fakta.
Logika kebohongan akan selalu berbicara mengikuti harapan pendengarnya. Kenapa investasi bodong selalu memikat?, karena banyak orang ingin cepat kaya tanpa kerja keras. Kenapa radikalisme menguat?, karena hanya mau mendengar satu sudut pandang ekstrem dalam beragama. Terhadap kelompok lain yang berbeda difahaminya sebagai musuh yang harus dimusuhi dan harus disingkirkan. Kenapa pemerintah tak ada benarnya?, karena kinerjanya hanya dibaca dari sudut pandang tunggal provokatif, fakta keberhasilan dari sudut pandang lain diabaikan. Ingat, kebohongan tidak berdiri tunggal, ia selalu ada penciptanya, dan digelindingkan bagai bola api, makin ditendang tanpa strategi umpan akan makin liar dan bisa membakar apa saja.
Kebohongan kerapkali lahir dari rekayasa informasi, sehingga orang menjadi bingung menafsir realitas. Ia juga tak jarang menggunakan managemen konspirasi, sehingga membangkitkan kecurigaan dan permusuhan diantara kelompok-kelompok masyarakat yang berbeda, bahkan tak jarang menciptakan mitos-mitos politik yang mistis. Buku fiksi kadang lebih dipercaya daripada hasil observasi ilmiah.
Bagaimana agar terhindar dari hegemoni kebohongan?, Ketika kita mendengar informasi, jangan ditelan mentah-mentah, tapi lakukan analisa dengan sumber lain yang kredibel. Lakukan perlawanan dengan kreatifitas ide, lahirkan gagasan dan wacana baru yang lebih substantif untuk menyeimbangkan informasi. Berfikirlah selalu out of the box.
Di era kebohongan yang makin banal, kita harus mampu memainkan dinamika wacana dengan baik. Setiap pesan tidak lahir begitu saja, tetapi diproduksi oleh pembuat pesan. Setiap pesan punya kekuatan hegemonik untuk memengaruhi orang lain. Kekuatan itu dibidikkan agar pembacanya mau melakukan sesuatu sesuai yang diinginkan pemberi pesan.
Narasi provokasi dibikin untuk melahirkan kebencian dan fanatisme kekelompokan. Fanatisme kekelompokan dibikin untuk membuat percaya orang lain, agar bergerak melakukan aksi kekerasan, aksi pecah belah dan efek destruktif lainnya.
Pahamilah bahwa bahasa itu digaungkan untuk melahirkan tindakan. Narasi sedih dibuat agar orang mudah menangis. Narasi riang dibikin agar orang gampang tertawa. Narasi membakar dibuat agar orang mudah tersulut, lalu melakukan caci maki, hujat menghujat, benci membenci, turun kejalan, meneriakkan kekecewaan dengan cara inkonstitusional, melakukan pengrusakan dimana-mana, pembakaran membuat luka berdarah-darah, bahkan menghalalkan darah saudaranya dalam tindakan. Selanjutnya terjadilah perang saudara seperti di Timur Tengah. Apa itu yang kita inginkan?.
Penulis :
Zubairi El-Karim
Wakil Ketua PCNU Sumenep, Dosen Stidar Ganding dan Pegawai Kantor Kecamatan Pragaan Sumenep.

