Lenteng, NU Online Sumenep
Pengurus Lajnah Falakiyah Annuqayah Pondok Pesantren Annuqayah Guluk-Guluk Sumenep menggelar kegiatan observasi gerhana bulan total yang dipusatkan di PP. Nurul Iman Ellak Daya Lenteng, Selasa (03/03/2026).
Penasihat Lajnah Falakiyah Annuqayah, Moh. Ilham Wahyudi, menjelaskan bahwa gerhana bulan total merupakan fenomena astronomi ketika seluruh permukaan Bulan masuk ke dalam bayangan inti (umbra) Bumi.
“Secara geometri posisi, Matahari, Bumi, dan Bulan berada dalam satu garis lurus atau dalam istilah Arab disebut istiqbal. Saat itu Bulan tidak menjadi gelap total, melainkan sering tampak berwarna merah karena cahaya Matahari yang terbiaskan oleh atmosfer Bumi,” jelasnya.
Ia menegaskan, Lajnah Falakiyah Annuqayah memiliki peran strategis dalam observasi kali ini, yakni memberikan edukasi kepada masyarakat, lembaga, dan ormas terkait proses terjadinya gerhana, sekaligus memfasilitasi pengamatan menggunakan perangkat teleskop agar lebih efektif.
“Peralatan yang digunakan berupa teleskop, baik versi motorik yang dijalankan dengan remote maupun teleskop manual yang dioperasikan dengan tangan,” terang Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Falak UIN Wali Songo Semarang ini.
Dalam metode pengamatan, pihaknya mengombinasikan rukyat (observasi langsung) dengan hisab. Menurutnya, rukyat dilakukan untuk menyaksikan langsung fenomena, sedangkan hisab diperlukan untuk memastikan waktu terjadinya gerhana, ketinggian Bulan, serta azimut untuk melacak posisinya.
Lebih lanjut, Ilham memaparkan perbedaan jenis gerhana bulan. Gerhana bulan total terjadi ketika seluruh permukaan Bulan masuk ke dalam umbra Bumi dan tampak berwarna merah.
“Gerhana sebagian terjadi ketika hanya sebagian permukaan Bulan yang masuk ke umbra, sementara sisanya tetap terang. Adapun gerhana penumbra terjadi saat Bulan hanya melewati bayangan luar (penumbra) sehingga perubahan cahayanya lebih samar,” lanjut Alumni Pondok Pesantren Annuqayah Latee Guluk-Guluk ini.
Dari perspektif keislaman, ia menekankan bahwa gerhana bukan sekadar fenomena alam.
“Dalam hadits disebutkan bahwa gerhana bukan pertanda kematian atau kelahiran seseorang, melainkan tanda kebesaran Allah yang mengajak manusia memperbanyak zikir, doa, dan melaksanakan salat gerhana (khusuf),” ungkapnya.
Terkait kalender hijriah, ia menjelaskan bahwa gerhana bulan total tidak menjadi dasar penentuan awal bulan. Penetapan awal bulan hijriah tetap berdasarkan terlihatnya hilal setelah ijtimak. Namun, gerhana bulan hanya dapat terjadi saat fase purnama, yakni tanggal 13, 14, atau 15 hijriah.
Secara data, gerhana bulan total di Kabupaten Sumenep berlangsung mulai pukul 15.44.11 WIB hingga 21.23.01 WIB, dengan puncak gerhana pada pukul 18.33.36 WIB. Arah keterlihatan Bulan berada di kisaran 70°37’51” hingga 85°32’54” di arah timur serong ke utara. Karena bertepatan dengan bulan Ramadhan, masyarakat dapat menyaksikan fenomena tersebut selepas berbuka puasa hingga menjelang salat tarawih.
“Gerhana bulan aman dilihat langsung dengan mata telanjang. Namun, penggunaan binokular atau teleskop kecil akan membuat pengamatan lebih maksimal,” tambah Alumni Universitas Annuqayah Guluk-Guluk ini.
Dalam pelaksanaannya, Lajnah Falakiyah Annuqayah menggandeng sejumlah lembaga, di antaranya Badan Hisab Rukyat (BHR) Kemenag Kabupaten Sumenep, pengurus dan santri PP. Nurul Iman Ellak Daya Lenteng, Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama Ellak Daya, Pengurus Ranting GP Ansor Ellak Daya, serta IPNU-IPPNU Ellak Daya, Lenteng Sumenep.
Ilham berharap kegiatan ini mampu melahirkan regenerasi ahli falak dari pesantren.
“Harapan besar kami, Lajnah Falakiyah Annuqayah mampu mencetak kader ahli falak yang menjaga tradisi keilmuan Islam, khususnya di bidang falak, dan memberi manfaat bagi masyarakat,” pungkasnya.

