Oleh: Ahmad Hosaini *)
Ibnu ‘Ajibah dalam Tafsirnya menyebut kata hikmah yang disampaikan Nabi Isa AS:
طوبى لمن كان قيله ذكراً وصمته تفكراً، ونظره عبرة
Artinya: “Beruntunglah (berbahagialah) orang yang perkataannya adalah dzikir, diamnya adalah tafakur, dan pandangannya adalah pelajaran (i’tibar).”
Kemudian Hasan Al-Bashri RA berkata:
من لم يكن كلامه حكمة فهو لغو، ومن لم يكن سكوته تفكراً فهو سهو، ومن لم يكن نظره اعتباراً فهو لهو.
Artinya: “Barangsiapa yang perkataannya tidak mengandung hikmah, maka itu sia-sia (laghwun). Barangsiapa yang diamnya tidak untuk tafakur, maka itu adalah kelalaian (sahwun). Dan barangsiapa yang pandangannya tidak dijadikan pelajaran (i’tibar), maka itu adalah permainan/kesia-siaan (lahwun).” (Tafsir al-Bahr al-Madid jilid 1 ketabonline.com hal. 452).
Pentingnya Tafakur di Era Digital
Dalam kitab Lisan Al-Arab karya Ibn Mandhur, pada tema (فكر), tafakur didefinisikan sebagai kontemplasi (التأمل). Di sana disebutkan:
اعمال الخاطر في الشيء
Artinya: “Mengerahkan akal pikiran terhadap sesuatu.” (Lisan al-Arab juz 10 hal. 307).
Istilah ini berarti memikirkan sesuatu secara mendalam, merenung, atau kontemplasi. Kalau diinggriskan menjadi contemplation.
Di Oxford Learner’s Dictionaries diartikan sebagai aktivitas berpikir secara mendalam tentang sesuatu. Ia diartikan juga sebagai aktivitas memandang sesuatu dengan cara yang lembut dan hati-hati.
Kontemplasi ini tidak bisa dipisahkan dengan filsafat, maka bertafakur bagian lain dari filsafat. Namun, umumnya dalam filsafat untuk menemukan kebenaran yang hakiki direnungkan secara mendalam, tapi lebih pada bentuk lahiriah semata.
Sementara tafakur perenungan yang mendalam lebih pada secara batiniah untuk menemukan kebenaran yang hakiki tentang Al-haqq (Allah).
Walaupun sebenarnya dan harusnya filsafat mencakup keduanya (lahiriah dan batiniah) karena berpikir filosofis tidak ada batasan.
Manusia modern di era yang serba digital ini tentu perlu jeda sejenak dari kesibukannya untuk sekedar melihat-lihat alam semesta ini.
Bagaimana Allah SWT menciptakan alam ini dengan begitu indahnya, pergantian siang dan malam, burung-burung terbang tanpa mesin, pegunungan berdiri kokoh sebagai pasak bumi, keajaiban-keajaiban dalam tubuh kita, dan semacamnya.
Menikmati keindahan alam tanpa gawai ini akan mengundang rasa kekaguman dan syukur pada Sang Pencipta bahwa semua diciptakan tidak dengan sia-sia.
Jiwa dibuat tenang karenanya dan kecemasan akan hilang dengan sendirinya. Kita akan lebih fokus pada tujuan hidup kita yaitu menghamba pada Yang Maha Kuasa bukan menghamba pada pekerjaan kita.
Tafakur ini dapat menghidupkan hati karena kemilauan sinar ilahi. Mari kita renungkan kata Ibnu ‘Athaillah:
الفكرة سِراج القلب، فإذا ذهبت فلا إضاءة له
Artinya: “Tafakur (renungan) adalah pelita hati, jika ia hilang, maka hati tidak memiliki cahaya.”
Syeikh Abdul Majid As-Syarnubi mengomentarinya bahwa sesungguhnya perenungan itu kedudukannya seperti pelita bagi hati, yang dengannya hati mendapat cahaya.
Karena dengan tafakur terungkap hakikat kebenaran segala sesuatu. Sehingga tampak jelaslah yang benar dari yang batil. Penyakit-penyakit jiwa (nafsu) dapat diketahui dengan merenungkan aib-aib (cacat) dan tipu dayanya.
Hendaklah mempelajari tipu daya musuh dan tipuan dunia dan lain semacamnya. Apabila ia hilang, maka hati tidak memiliki cahaya, sehingga jadilah rumah itu gelap gulita, dan kita berlindung kepada Allah dari hal tersebut. (Syarah Al-Hikam Al-‘Athaiyah hal.177).
Kadang kita merasa terasing dari alam karena faktor kerja atau karena ketergantungan pada media sosial atau karena sibuk main gadget sehingga sering menimbulkan rasa cemas dan stres yang itu bisa memicu penyakit hati.
Berbagai penyakit hati juga yang sering membuat orang lalai adalah sombong karena jabatan yang didapat, iri dan dengki pada prestasi orang lain, riya pada kelebihan yang dimilikinya dan tipu daya nafsu yang sering dituruti.
Maka, kita senantiasa bertafakur atau merenungkan dengan secara jujur melihat ke dalam diri kita sendiri. Mengenali aib (kekurangan) atau cacat dalam diri, serta mengenali tipu daya yang sering membuat kita lupa diri. Lupa akan keagungan Yang Maha Kuasa.
Kita kadang tidak pernah menyesal dan tidak pula bersedih terhadap kebaikan dan ketaatan yang kita tinggalkan. Padahal itu merupakan tanda hati sedang berpenyakit. Dalam hal ini Ibnu ‘Athaillah memperingatkan pada kita bahwa:
مِنْ عَلاماتِ مَوْتِ القَلْبِ عَدَمُ الحُزْنِ عَلَى ما فاتَكَ مِنَ المُوافَقاتِ. وتَرْكُ النَّدَمِ عَلَى ما فَعَلْتَهُ مِنْ وُجودِ الزَّلّاتِ.
Artinya: “Di antara tanda-tanda matinya hati adalah tidak ada kesedihan atas berbagai ketaatan yang Anda lewatkan dan meninggalkan penyesalan atas adanya kesalahan-kesalahan yang Anda lakukan.” (Syarah Al-Hikam Al-‘Athaiyah hal.56).
Maka, di sinilah pentingnya kita bertafakur. Di mana keutamaan tafakur sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu ‘Ajibah. Sebuah hadits:
تفكُّر ساعة أفضل من عبادة سبعين سنة
Artinya: “Bertafakur (merenungkan kebesaran Allah) sesaat lebih baik daripada ibadah tujuh puluh tahun.”
Maka, seluruh waktu mereka (orang yang bertafakur) layaknya Lailatul Qadar. Mereka berakhlak dengan akhlak mulia, seperti rida (menerima ketetapan), pasrah (taslim), santun (hilm), dermawan (sakha’), murah hati (karam), dan keutamaan hati lainnya, yang merupakan perbuatan hati. Mereka adalah orang-orang yang terwujud dalam diri mereka kabar gembira dari firman Allah:
فَبَشِّرْ عِبادِ الَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ
Artinya: “Sebab itu sampaikanlah berita gembira kepada hamba-hamba-Ku (yaitu) mereka yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya.” (Tafsir al-Bahr al-Madid jilid 5 hal.64).
Teknologi bukan hanya sekadar hiburan, tapi dapat digunakan sebagai alat untuk tafakur. Seperti membaca aplikasi Al-Qur’an, mendengarkan lantunan ayat-ayat-Nya atau merenungkan makna dan tafsirnya di sela-sela waktu istirahat kerja.
Kalau ini kita lakukan, maka akan membuat mental kita sehat dan jiwa kita tenang. Tafakur kalau digunakan dengan baik di tempat kerja, maka insyaallah dapat membentuk sikap rendah hati dan tidak sombong, toleran terhadap perbedaan, dan tentu suka menolong serta meringankan beban orang lain. Itulah harusnya tafakur tidak boleh hilang pada manusia modern.
*) Ahmad Hosaini, Wakil Sekretaris PCNU Sumenep, santri alumni PP. Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo.

