Lenteng, NU Online Sumenep
Kata “kautsar” berasal dari akar kata katsir (banyak), kemudian bentuk mubalaghah seperti aktsar (lebih banyak), hingga puncaknya “kautsar” yang bermakna banyak di atas banyak.
“Fal kautsar huwa ma fauqa katsir wa aktsar. Banyak di atas banyak di atas banyak. Ini pemberian yang levelnya tinggi sekali,” papar Iswatul Hasanah, merujuk pada tafsir karya KH. Isma’il Al-Ascholi dalam kitab The Qur’anything.
Pernyataan itu disampaikan pada Program Podcast Kajian Ramadhan Penuh Hikmah (Karomah) yang diselenggarakan oleh Pimpinan Anak Cabang (PAC) Fatayat NU Lenteng Ahad (01/03/2026) di kantor setempat.
Mengawali pembahasan, Iswatul Hasanah mengajak pendengar melihat keterkaitan Al-Kautsar dengan surah sebelumnya, yakni Al-Ma’un, khususnya ayat wa yamna’unal ma’un (mereka enggan memberi bantuan).
“Di situ ada taqabul atau kontras yang sangat indah. Mereka pelit dan enggan memberi, lalu Allah langsung berfirman, inna a’thainakal kautsar kami telah memberimu begitu banyak,” ujarnya.
Menurutnya, jika pada surat sebelumnya digambarkan ibadah yang lalai dan riya’, maka dalam Al-Kautsar Nabi diperintahkan shalat dan berkurban dengan penuh ketulusan, fashalli li rabbika wanhar.
“Shalatnya bukan pamer, tapi lillah. Kurban bukan demi nama, tapi atas nama Allah. Ini jawaban atas model keberagamaan yang kosong makna,” tegasnya.
Iswatul Hasanah kemudian mengulas frasa inna a’thaina dengan menekankan siapa yang memberi.
“Pemberian itu nilainya tergantung pemberinya. Ini Allah yang memberi, dengan segala keagungan-Nya. Maka ukurannya bukan ukuran bumi, tapi perspektif langit,” jelasnya.
Ia menyebut pemberian tersebut sebagai “pemberian Sang Kekasih kepada kekasih-Nya”, merujuk pada kedekatan Nabi dengan Allah.
Ia juga mengutip ayat walasaufa yu’thika rabbuka fatardha sebagai gambaran bahwa Allah memberi hingga Nabi benar-benar ridha.
Ia menambahkan, tidak ada makhluk yang mampu menghitung kadar nikmat tersebut. Bahkan satu nikmat saja, sebagaimana firman Allah, tidak mampu dihitung manusia.
“Kalau satu hembusan napas saja tidak bisa kita hitung nilainya, lalu bagaimana dengan kautsar yang begitu melimpah?” ujarnya.
Dalam penjelasannya, Iswatul Hasanah merujuk pada keterangan Imam Bukhari yang menyebut dua tafsir tentang Al-Kautsar.
Pertama, telaga di akhirat sebagaimana dijelaskan langsung oleh Nabi Muhammad SAW. Kedua, khair katsir (kebaikan yang melimpah) sebagaimana ditafsirkan oleh Ibnu Abbas.
“Dua tafsir ini tidak bertentangan. Telaga itu bagian dari khair katsir. Ibnu Abbas memperluas maknanya tanpa menafikan tafsir Nabi,” terangnya.
Ia menjelaskan, ketika Nabi dicaci sebagai abtar (terputus berkah dan keturunan), Allah justru menjanjikan telaga Kautsar di padang mahsyar.
“Di saat Nabi dihina, Allah mengabarkan puncak nikmat. Telaga itu bukan sekadar tempat, tapi simbol kepedulian Nabi kepada umatnya. Di padang mahsyar yang panas dan ruwet, yang paling dibutuhkan adalah kesejukan dan minum,” jelasnya.
Menurutnya, penyebutan telaga juga mengisyaratkan banyaknya umat Nabi yang akan datang kepadanya.
“Hanya disebut telaganya, tapi yang dimaksud adalah orang-orang yang mendatanginya. Rasulullah adalah nabi dengan umat terbanyak. Itu juga bagian dari kautsar,” tambahnya.
Iswatul Hasanah juga menyinggung bahwa salah satu makna zahir kautsar adalah banyaknya umat Rasulullah dan keberkahan dzuriyah beliau melalui Sayyidah Fatimah.
Ia mengutip pernyataan ulama bahwa perkembangan Islam di berbagai negeri tidak lepas dari mereka yang menisbatkan diri kepada Rasulullah, baik secara nasab maupun cinta.
“Ini menunjukkan bahwa kautsar tidak berhenti pada satu makna. Ia mencakup telaga, kebaikan melimpah, banyaknya umat, hingga keberlanjutan ulama dan dzuriyah,” tuturnya.
Menutup podcast, Iswatul Hasanah menegaskan bahwa Surat Al-Kautsar bukan sekadar surah pendek, melainkan surah penghiburan dan pemuliaan.
“Allah membalas cacian dengan kemuliaan. Nabi dihina sebagai abtar, tapi Allah memberinya kautsar. Masih berani menyebut ini surah terpendek? Ini surah terdalam,” pungkasnya.

