Image Slider

Cetak Generasi Qur’ani, SMP NU Sumenep Terapkan Metode Tartila bil Qolam dalam Tahsinul Qira’ah

Batuan, NU Online Sumenep

Dalam upaya mencetak generasi Qur’ani, Sekolah Menengah Pertama Nahdlatul Ulama (SMP NU) Sumenep bekerja sama dengan Pimpinan Cabang (PC) Jam’iyatul Qurra’ wal Huffazh Nahdlatul Ulama (JQHNU) Sumenep menggelar pembelajaran Tahsinul Qira’ah menggunakan metode Tartila bil Qolam, Sabtu (28/02/2026) di Lantai 1 Kantor PCNU Sumenep.

Program ini bertujuan meningkatkan kualitas bacaan Al-Qur’an siswa agar sesuai dengan kaidah tajwid dan makharijul huruf, sekaligus memperkuat pembinaan spiritual dalam momentum Pondok Ramadhan.

Waka Kurikulum SMP NU Sumenep, Khalishaturrusyda, menegaskan komitmen sekolah dalam membentuk generasi Qur’ani.

“Sekolah berkeinginan meningkatkan kualitas bacaan Al-Qur’an siswa agar sesuai dengan kaidah tajwid dan makharijul huruf yang benar. Dalam momentum Pondok Ramadhan ini, kami ingin pembinaan spiritual siswa semakin kuat,” ungkapnya.

Metode Tartila bil Qolam menggabungkan praktik membaca (qira’ah) dan menulis (bil qolam) Al-Qur’an.

Menurut Lisa, pendekatan ini membantu siswa memahami bentuk huruf dan hukum tajwid secara lebih detail, sekaligus melatih ketelitian dan kesabaran.

“Secara teknis, pembelajaran diawali dengan membaca bersama dipandu instruktur, dilanjutkan contoh pelafalan huruf hijaiyah yang benar,” jelasnya.

Siswa kemudian menulis kembali huruf yang telah dibaca dan mendapatkan umpan balik langsung. “Dengan cara ini, siswa tidak hanya mendengar dan melafalkan, tetapi juga memperkuat pemahaman melalui tulisan,” jelas Ahmad Mistari, Ketua Tim Instruktur Tartila bil Qolam Kabupaten Sumenep.

Tim instruktur lainnya terdiri dari Faishal Rimzani, K. Muna’iem, dan Harun Adiyanto. Mereka mendampingi siswa secara intensif, termasuk dalam mengatasi kesulitan membedakan huruf-huruf yang mirip serta membangun rasa percaya diri saat membaca di depan teman-teman.

Untuk mengukur perkembangan, program ini dilengkapi evaluasi berkala melalui tes baca individu, penilaian makharijul huruf, panjang-pendek (mad), dan penerapan tajwid.

“Monitoring perbandingan hasil bacaan sebelum dan sesudah program juga menjadi bagian dari penilaian,” jelas Harun Adiyanto.

Ke depan, Tahsin dan Tahfizh akan dijadikan program rutin mingguan dalam pembelajaran PAI. Budaya membaca Al-Qur’an sebelum kegiatan belajar juga akan terus digalakkan.

Melalui metode ini, sekolah berharap siswa tidak hanya mampu membaca Al-Qur’an secara tartil, tetapi juga memiliki kebiasaan tilawah yang konsisten serta karakter spiritual yang kuat sebagai generasi Qur’ani Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah.

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga