Image Slider

Meneguhkan Hati dalam Berkhidmat

Oleh: Ahmad Hosaini *)

Ada tiga keistimewaan yang akan didapat oleh mereka yang berkhidmat dengan tulus karena Allah SWT. Ini yang disebutkan oleh Ibnu ‘Ajibah dalam Tafsir al-Bahrul Madid:

إذا تحقق الإيمان والإحسان في عبد اعطي ثلاث خصال نفوذ الدعوة والثناء الحسن بعده والبركة في الذرية

Artinya: “Jika keimanan dan ihsan terwujud dalam diri seorang hamba, maka ia diberikan tiga hal (1) pengaruh besar dalam dakwahnya (sukses), (2) pujian yang baik setelahnya (harum namanya), (3) dan keberkahan pada keturunannya.”

Jika ini yang kita harapkan dalam berkhidmat, maka tidak akan ada keluh kesah, tidak akan menggerutu, tidak akan bersedih dan marah.

Kita berkhidmat memperjuangkan dan menegakkan kebenaran. Allah menghendaki tegaknya kebenaran, maka ia tidak akan sirna sepanjang masa. Bukti sejarah telah membuktikan, mereka yang melawan dan menentang kebenaran telah sirna.

Kita sadar bahwa dalam berkhidmat pasti banyak mengalami cobaan. Ditentang banyak orang, dihina dan bahkan merasa dicampakkan dan terbuang.

Kadang rasa putus asa yang menyelimuti diri. Kadang rasa sedih yang hinggap di hati. Begitu juga saat berkhidmat di organisasi. Banyak hal pasti yang kadang kita merasa tidak dihargai. Kadang kita merasa terasingkan. Apalagi berhadapan dengan mereka yang maunya menang sendiri.

Dinamika dalam organisasi itu pasti, tapi bermasam muka karena itu, pasti melahirkan luka dan duka. Ya minimal luka pada hati kita karena merasa tidak ada yang membela.

Duka pada jantung organisasi iya karena tidak ada yang mau mengalah dan maunya menang sendiri. Dalam ketulusan khidmat harusnya itu tidak terjadi. Kita berkhidmat bukan mengejar popularitas, tapi hanya ingin mendapatkan keberkahan. Hidup lebih indah tanpa duka bersama kemuliaan yang datangnya dari Allah.

Berkhidmat dengan mengharap mendapatkan keberkahan itu baik karena kebaikan yang dilakukan manusia akan kembali kepada yang melakukannya. Itu janji Allah dalam Al-Qur’an:

اِنْ اَحْسَنْتُمْ اَحْسَنْتُمْ لِاَنْفُسِكُمْ ۗ وَاِنْ اَسَأْتُمْ فَلَهَا

Artinya: “Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik untuk dirimu sendiri. Dan jika kamu berbuat jahat, maka (kerugian kejahatan) itu untuk dirimu sendiri.” (QS. Al-Isra’: 7).

Berkhidmat yang benar tidak mengejar popularitas dan tidak untuk dihargai. Jika itu terjadi, maka keberkahan akan kita raih. Sebagaimana janji Allah di atas. Dalam hal ini Imam Abu Hasan as-Syadzili mengatakan:

“لا تنشر علمك ليصدقك الناس، وانشر علمك ليصدقك الله”

Artinya: “Kamu jangan pernah menyebarkan ilmu supaya diapresiasi manusia. Tapi sebarkanlah ilmu supaya diapresiasi Allah.”

Kalau dalam konteks berkhidmat, maka tujuan kita berkhidmat adalah untuk diapresiasi Allah semata bukan berharap diapresiasi manusia. Sehingga tidak perlu risau karena orang, tapi berkhidmat lah terus karena Allah.

Ada pelajaran penting dalam berkhidmat terinspirasi dalam Al-Qur’an Tafsir Jalalain. Surah Shad yang menceritakan kisah Nabi Muhammad yang tidak dihargai dan bahkan diolok-olok, dicampakkan dan didustakan oleh pembesar kaum Quraisy.

Nabi Muhammad diingatkan oleh Allah dengan kisah Nabi Nuh yang didustakan oleh kaumnya, bagaimana kaum ‘Ad yang mendustakan Nabi Hud, Fir’aun menantang Nabi Musa dan Harun, kaum Tsamud melawan Nabi Shaleh, kaumnya Nabi Luth yang membangkang dan juga kaumnya Nabi Syuaib. Dakwah mereka didustakan oleh kaumnya, tapi para nabi lebih memilih bersabar sebagai jalan keselamatan.

Mereka bersekutu untuk memerangi para utusan Allah bahkan tidak segan-segan untuk membunuhnya. Setiap Rasul mengalami tantangan dan rintangan dalam berdakwah.

Allah mengingatkan Nabi Muhammad bahwa ia tidak sendirian karena setiap utusan dengan membawa ajaran yang sama yaitu ajaran tauhid juga mengalami pembangkangan yang sama.

Maka, para pendakwah yang mendapatkan ujian karena dicampakkan atau merasa tidak dihargai atau mendapatkan perlakuan buruk yang lain, jadikanlah kisah para rasul dahulu sebagai pelajaran untuk kita kuat dalam menghadapi ujian.

Ibnu ‘Ajibah mengatakan bahwa Allah tidak memberikan kekuasaan kepada seorang hamba kecuali setelah melalui kesulitan, dan Dia tidak meninggikan maqamnya (kedudukannya) kecuali setelah melalui ujian, baik ujian yang menimpa tubuh atau badan karena penyakit atau juga ujian dari harta bendanya, maupun ujian dalam keimanannya (agama), asalkan disertai taubat kembali pada Allah dengan penyesalan dan kerendahan hati.

Inilah sebenarnya pelajaran bagi para pendakwah yang mengalami banyak ujian. Ujian yang diberikan untuk meninggikan kedudukannya dan jangan merasa sendirian serta tidak ada yang membantu karena Allah tidak akan membiarkan kebenaran lenyap di bumi ini.

Kebenaran tidak akan pernah dikalahkan oleh kebatilan, kesyirikan, kekafiran, dan kezaliman. Allah berfirman dalam Al-Qur’an:

وَقُلْ جَاۤءَ الْحَقُّ وَزَهَقَ الْبَاطِلُۖ اِنَّ الْبَاطِلَ كَانَ زَهُوْقًا

Artinya: “Katakanlah, “Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap.” Sesungguhnya yang batil itu pasti lenyap.” (QS. Al-Isra’: 81).

Ketika pengajian Kitab Tafsir Jalalain di awal-awal surah Shad KHR. Ahmad Azaim Ibrahimy mengomentari kisah para nabi yang mendapatkan rintangan dari kaumnya menyampaikan bahwa kisah teladan para rasul terdahulu itu jadikan sebagai inspirasi kekuatan kita dalam berdakwah.

Ada tentara-tentara batin yang Allah kirimkan dan itu merupakan rahasia Allah yang diletakkan di hati para pejuangnya. Kemudian tumbuh semangat dan kesadaran untuk tetap kuat berjuang.

Kalau mereka penentang para rasul terdahulu itu dibinasakan (diazab) oleh Allah, maka mereka yang menentang kebenaran para pendakwah juga akan mengalami nasib yang sama walau dengan kadar yang berbeda.

Bisa jadi azabnya berupa kehancuran dalam ekonominya, atau banyak mengalami masalah yang susah diatasi. Bisa juga berupa karir yang redup atau dengan bentuk yang lain.

Ingatlah! Pasti ada pertolongan Allah bagi para pejuang kebaikan dan kebenaran. Kita telah banyak jumpai mereka dengan ambisi untuk menyerang para ulama dan pesantrennya, yang mendustakan para pendakwah, menebarkan fitnah di mana-mana, mengadu domba satu dengan yang lainnya, mendustakan kebenaran yang dibawanya telah lenyap di dunia ini dengan dimensi maknanya.

Jadi, tidak perlu ragu dalam berdakwah dan tidak perlu merasa sendirian karena Allah menjamin kebenaran pasti menang. Keluh kesah yang ada segera hilangkan. Apalagi kita berkhidmat bukan untuk memperkaya diri, bukan untuk kepentingan pribadi dan bukan untuk ambisi diri sendiri. Kita berkhidmat untuk tujuan yang pasti menegakkan dan memperjuangkan kalimat-kalimat Allah. Kita juga berkhidmat untuk menghidupkan dan meninggikan syiar-syiar Islam.

Berkhidmat tidak boleh ada rasa kecemburuan, tidak boleh merasa tidak dihargai dan tidak boleh memaksakan kehendak pribadi. Berkhidmat diniatkan untuk melayani umat insyaallah barokah apalagi di bulan puasa.

Maka, saat kegelisahan mengguncang hati kita yang berkhidmat, ingatlah kisa para nabi yang juga didustakan dan bahkan banyak yang dicampakkan.

Ini diulas dari catatan saya saat ikut pengajian Tafsir Jalalain surah Shad bersama KHR. Ahmad Azaim Ibrahimy Pengasuh PP. Sukorejo. Wallahu A’lam.

*) Ahmad Hosaini, Wakil Sekretaris PCNU Sumenep, santri alumni PP. Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo.

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga