Di acara Halal Bihalal dan Nyoon Pamangghi Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sumenep, Gus Rijal Mumazziq Z yang didaulat sebagai pemantik menceritakan salah satu karakteristik Nahdliyin yang unik, yakni telat hadir ke acara.
Rektor Universitas Al-Falah As-Sunniyyah Kencong, Jember itu menyatakan bahwa telat atau molornya sebuah acara di NU bagian dari bawaan sejak kecil.
“Di undangan, acara akan dihelat pada pukul 08.00 Wib. Ternyata Nahdliyin bisa berkumpul pada pukul 10.00 Wib. Andai kata Kabupaten Sumenep diserang oleh pasukan penjajah yang masuk lewat selat Madura. Penyerangan itu dilatar belakangi dari sisi sejarah, di mana Majapahit berdiri besar karena ada campur tangan Raja Sumenep,” ujarnya pada jamaah yang berkumpul di aula lantai 2 PCNU setempat, Kamis (18/05/2023).
Sebelum melakukan pengeboman, lanjutnya, kapal induk penjajah sudah merapat di pelabuhan Sumenep. Ia mengatakan, tempat yang pertama kali di bom adalah kantor PCNU, karena menurut laporan intelijen, besok warga NU akan mengadakan istighotsah sejuta umat bersama para mujahid.
“Kita tahu penjajah disiplin soal waktu. Kapal induk yang bersender di pelabuhan pada pukul 08.00 Wib telah siap-siap mengatur strategi guna mengebom kantor PCNU. Tepat pada pukul 09.00 Wib, kapal induk meluncurkan rudal besar yang terbang di atas langit Madura,” ucapnya menggebu-gebu sambil menahan tawa.
Saat puluhan bom mendarat dan meluluhlantahkan kantor PCNU, ternyata laporan intelijen pada jenderalnya adalah nihil. Jutaan dolar yang dikeluarkan untuk membumi ratakan kantor NU gagal karena tidak ada satupun korban jiwa dari kalangan NU. Karena Nahdliyin hadir pada pukul 10.00 Wib.
Gus Rizal Mumazziq menyatakan, telat hadir ke rapat ataupun ke acara serimonial bisa menyelamatkan nyawa. Inilah keunikan NU yang sejak bayi NU lahirnya belakangan dibandingkan dengan organisasi lainnya. Seperti Jamiat Kheir dari Arab yang berdiri pada tahun 1905, Sarekat Dagang Islam (SDI) 1905, Sarekat Islam 1905, Budi Utomo 1908, Muhammadiyah 1912, Persatuan Umat Islam 1917, Persatuan Islam (Persis) 1923. Sedangkan NU berdiri pada 1926.
“Saat organisasi itu berdiri, para kiai mengajak pada kiai sepuh untuk mendirikan organisasi. Karena mereka sudah bergerak mendirikan organisasi. Tahu ngak jawabannya? Apa itu organisasi,” ucapnya. Jamaah semakin geleng-geleng sambil tertawa.
Dilanjutkan, Gus Rizal Mumazziq juga membedakan karakteristika warga NU mulai dari tingkat bawah sampai ke atas, khususnya untuk kategori usia.
“Jika tanfidziyah pasti bertanya kapan acaranya dimulai. Sedangkan syuriyah, beliau akan kebagian doa pada jam berapa. Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) bingung menyiapkan kopi yang jumlah jamaah membludak. Barisan Ansor Serbaguna (Banser) sibuk mengatur parkir,” ujarnya sembari tertawa.
Ia menyitir humor almarhum KH Hasyim Muzadi. Diceritakan, sangat mudah untuk membedakan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU), Fatayat NU dan Muslimat NU. Untuk mengenalinya bisa dicium dari aroma tubuhnya. Ditegaskan lewat humornya, IPPNU pakai parfum, Fatayat NU pakai parfum plus minyak telon. Muslimat NU pakai remason.
“Sebelum berangkat ke acara, Muslimat akan menyoal jumlah nasi kotak yang akan disuguhkan pada jamaah. Untuk Fatayat, kira-kira nanti pakai kerudung motif apa. Saat acara dilaksanakan, Fatayat sibuk mengoperasikan handphonenya guna mempermudah komunikasi dengan panitia lainnya. Berbeda dengan Muslimat, dapat chat Whatsapp dari sumianya karena jemuran belum diangkat,” tandasnya.

