Gapura, NU Online Sumenep
Setelah melaksanakan serangkaian acara lomba, wisuda, dan karnaval, Madarasah Al-Huda Dusun Pangabasen, Desa Gapura Timur, Kecamatan Gapura menggelar malam puncak Haflatul Imtihan dan Hari Ulang Tahun yang ke-48 pada Selasa, (21/06/2022) pukul 19.00 waktu setempat.
Malam puncak tersebut diisi dengan pengajian umum yang dihadiri oleh semua pengurus pesantren, pengurus yayasan, jajaran guru, wali siswa, masyarakat sekitar, Wakil PCNU Sumenep K Syahid Munawar, dan Pengasuh PP Nasy’atul Muta’’allimin, K A Munif Zubairi.
KH Muhammad Al Faiz Sa’di Amir hadir sebagai penceramah dalam kegiatan tersebut. Pengasuh Pondok Pesantren Jalaluddin Rumi Jenggawa Kabupaten Jember tersebut dalam ceramahnya menyampaikan, bahwa setiap pesantren tempatnya sudah dipilih oleh Allah, maka manusia layak menghormati atau ta’dzim pada pilihan itu.
“Menghormati atau ta’dzim terhadap pesantren, itu termasuk mengagungkan syiar Allah,” dawuhnya.
Ia bercerita, ada seorang Majusi meninggal dunia tapi ternyata masuk surga. Hal itu terjadi karena si Majusi dalam hidupnya ta’dzim atau menghormati orang yang sedang berpuasa sehingga Allah memberinya hidayah padanya sebelum ia meninggal.
Kiai yang dilahirkan di lingkungan Pesantren Annuqayah tersebut juga mengatakan bahwa pembagian rapor adalah miniatur pertanggungjawaban akhirat. Sebab kelak ada juga rapor di akhirat dan rapor itu ada karena adanya kehidupan dan ujiannya.
“Bedanya ujian dalam kehidupan dengan ujian di sekolah adalah begini; kalau ujian dalam kehidupan ujiannya lebih dulu, baru kemudian ada pelajaran dari ujian itu. Kalau ujian di sekolah pelajarannya yang lebih dulu baru kemudian ada ujian. Dan endingnya ada yang lulus ada yang tidak, ada yang naik kelas ada yang tidak,” paparnya.
Arrobi’ bermimpi kelak akan punya istri terbaik di surga yang bernama Maimunah. Ia lalu menyelidiki kehidupan calon istrinya itu. Ternyata Mainunah hanyalah pengembala kambing, amalnya pun biasa-biasa saja.
Tapi dari sekian amal yang biasa-biasa saja itu, ada satu hal yang senantiasa ia lakukan, yaitu rida pada yang sudah ditentukan Allah, termasuk rida pada lokasi yang sedang ia tempati. Uniknya, di antara kambing gembalaannya itu ada seekor srigala, tapi srigala dan kambing itu hiudp harmonis.
Karena penasaran, maka Arrobi’ menanyakan perihal keharmonisan srigala dan kambing itu. Lalu Mainunah menjawab bahwa karena dirinya selalu membangun hubungan yang harmonis dengan Allah, maka Allah juga mengharmoniskan srigala dan kambingnya.
“Maka sebelum berusaha membereskan sesuatu, maka bereskan dulu hubungan kita dengan Allah, harmoniskan dulu hubungan kita dengan Allah,” tegasnya.
Di akhir ceramah beliau mengibaratkan doa yang tak kunjung terkabul atau masalah yang tak kunjung terpecahkan analoginya sama seperti dengan kartu ATM yang tertolak oleh mesin ATM.
“Kadang doa tak kunjung terkabul atau masalah tak kunjung terpecahkan, itu sama seperti kartu ATM yang dimasukkan ke mesin ATM tapi selalu tertolak. Itu terjadi ternyata karena adanya penghambat yang melekat, tisu misalnya. Jadi jika doa tak kunjung terkabul atau masalah tak kunjung terpecahkan, maka bermuhasabahlah, barangkali ada dosa dalam hati kita sebagaimana tisu itu,” pungkasnya.
Pewarta: A. Warits Rovi
Editor: Ibnu Abbas

