Image Slider

Ketua NU Sumenep: Jangan Ragu dengan Kebesaran NU

Talango, NU Online Sumenep

Semua Pengurus Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU), pengurus lembaga dan Badan Otonom (Banom) NU se-Kecamatan Talango terlihat gegap gempita merayakan Hari Lahir (Harlah) NU ke 95 hari Ahad (31/1/2021) di kediaman Ustadz Juhariyanto Dusun Candi, Desa Palasa, Kecamatan Talango.

Kegiatan tersebut juga sebagai ajang silaturrahim bulanan Pengurus MWCNU, Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama (PRNU), Lembaga dan Banom NU, seperti Muslimat NU, Fatayat NU, Gerakan Pemuda (GP) Ansor, Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPNU-IPPNU).

Di hadapan jajaran Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sumenep, Ustadz Juhariyanto mengucapkan terima kasih atas kedatangan PCNU dan undangan di lingkungan NU Talango yang hadir lengkap. Itu artinya pengurus benar benar mengutamakan acara NU ketimbang acara lainnya.

Ketua MWCNU Talango tersebut bercerita bahwa suatu ketika beliau dipangil gurunya, yang secara kebetulan waktunya bersamaan dengan undangan Muslimat. Namun beliau kedepankan undangan Muslimat. Sikap itu malah dipuji oleh gurunya.

“Undangan NU, termasuk dari Banom NU itu sejatinya yang mengundang adalah Syaikhona Kholil bin Abd Latif, Hadaratussyekh KH M Hasyim Asy’ari, dan KH R As’ad Syamsul Arifin. Dahulukan undangan NU,” kata gurunya ditirukan beliau. Gurunya berpesan agar NU Talango dirawat dan dibesarkan guna menghadapi tantangan faham lain, tambahnya.

Tak samapi di situ, beliau nyatakan bahwa akan melaunchingkan buku Aswaja demi menguatkan fikrah dan harakah ke-NU-an. Lewat buku tersebut, nahdliyin tidak akan mudah marah kepada gerakan orang lain di luar NU, tetapi melakukan perlawanan dengan dalil-dalil sharih untuk melawan gerakan mereka.

Orasi ke-NU-an pada momentum tahunan ini disampaikan oleh KH A Panji Taufiq. Semula beliau mengabsen semua Ranting NU dan Banom NU di Talango. Ketua PCNU Sumenep tersebut bersyukur bahwa alat lembaga dan Banom NU sudah ada lengkap. Tinggal jamaah yang banyak itu dijamiyahkan sampai ke akar rumput.

Alumni Pondok Pesantren Annuqayah Guluk-Guluk tersebut mencertikan kiprah geakan para awliya dan ulama di Talango. Secara historis Maulana Sayyid Yusuf Bin Ali Bin Abdullah Al-Hasan atau dikenal Sayyid Yusuf Talango sudah lama manjamaahkan warga Talango, sehingga warga sudah tak asing dengan tahlilan, yasinan, shalawatan, dan ziarah kubur.

“Namun menjamiyahkan warga Talango menjadi tugas berat kita agar terorganisir dalam barisan pemberdayaan warga yang lebih massif dan terstruktur,” katanya menghangatkan suasana.

Dalam arahannya beliau menebalkan semangat pengurus agar jangan ragu dalam kebesaran NU dan jangan ragu untuk selalu mencintai NU.

“Kita ashabul haq, pemilik ajaran yang benar. Kita ini kelompok assawadul a’dzam, kelompok mayoritas. Jangan mudah termakan oleh teror di Media Sosial (Medsos) yang mengecilkan kebesaran kita,” ujarnya meneguhkan semangat.

Selanjutnya, beliau tegaskan bahwa teror Medsos itu adalah proyek nasional atau bahkan internasional untuk merenggangkan hubungan ukhuwah antar sesama bangsa. Merenggangkan hubungan guru dan murid, hubungan ulama dan santri.

“Itu proyek besar Yahudi. Warga NU harus tahu, negara yang tidak mampu ditaklukkan oleh proyek besar Yahudi sampai saat ini hanya Indonesia,” sergahnya mantap.

Coba perhatikan kasus atau konflik di Timur Tengah, semua ladang minyak nyaris semua dikuasai oleh Barat yang dulu datang katanya mau menjaga keamanan. Ternyata praktiknya menguasai ladang minyak.

“Bahasanya menjaga keamanan, padahal seaungguhnya sedang menjaga dan mengangkangi ladang minyak,” ujarnya membuka ruang berfikir warga.

Kiai yang menjabat sebagai Ketua Cabang selama tiga periode tersebut mengingatkan revolusi di Libya. Sebuah peristiwa besar yang menyebabkan perang saudara, intervensi asing, dan penggulingan rezim Moammar Qadafi. Namun, warga Libya harus membayar mahal atas revolusi yang mereka gaungkan untuk kemudian terpecah menjadi konflik. Ada Libya Barat dan Libya Timur.

Sisi lain, secara lahir Indonesia tak mampu dikuasai, tapi dibalik layar potensi batiniyah bangsa sesungguhnya bergelimpangan. di negeri ini banyak perguruan tinggi dan sekolah bergengsi, namun kenyataannya sepeda motor masih dibanjiri produk Jepang. Inilah yang disebut proyek besar.

Berangkat dari permasalahan tersebut, muncul pertanyaan besar, kenapa Indonesia tak dapat dikuasai Barat? Pengamat berbicara, karena di Indonesia ada organisasi besar bernama NU. Di mana para faunding father dan muassis NU sudah selesai menyandingkan paham keagamaan dan kebangsaan.

“NU tak pernah bermimpi mendirikan negara agama atau negara Islam, tapi negara yang penduduknya Islami dan beradab,” tambahnya.

NU juga tak menyarankan Perda Syariah Islam. NU bukan tak mau Islam, tapi karena kalau ada Perda Syariah maka akan ada Perda Kristen, Perda Hindu, dan itu akan semakin mengotak-kotakkan keragaman dalam kebhinnekaan, serta bisa menjadi awal perpecahan.

“Kita juga harus tahu bahwa desakan Perda Syariah itu jika mau disadari adalah bagian dari proyek besar dari luar untuk menghancurkan Indonesia dari dalam. Bagi NU, hubungan agama dan bangsa selesai. Nahdliyin jangan mudah terpengaruh dengan provokasi atas nama negara Islam atau Perda Syariah. Kalau kita mengaku beragama pasti cinta pada negerinya,” pintanya.

Menurut kacamatanya, Islam akan tumbuh dengan subur kalau negaranya kuat dan aman. Bayangkan, sekarang di Pakistan, anak seumuran Taman Kanak-Kanan (TK) sudah belajar memegang senjata, bukan memegang bukudan ballpoint.

“Bagaimana mereka akan belajar agama dengan tenang kalau dari kecil sudah belajar bersenjata karena negaranya dilanda konflik!. Maka syukuri Indonesia, rawat NU dengan baik,” ajaknya sambil memberikan doktrin kepada warga NU.

Tahun 1984, di Situbondo lahir ide visioner dari jantung NU yang menegaskan Pancasila sebagai asas tunggal negara yang ada di Indonesia. Hal ini dilakukan, karena ingin menyelamatkan Indonesia. Selang kemudian, tahun 1934 jauh sebelum Indonesia Merdeka, Lagu Ya Lal Wathan atau dikenal Mars Syubbanul Wathan yang digubah oleh Almarhum KH Abd Wahab Chasbullah sudah menegaskan kata Indonesia biladi, atau Indonesia ini negeriku. Di lain pihak pula jaringan ulama pesantren mendirikan madrasah hubbul wathan atau dikenal Nahdlatul Wathan. Ini semua berkat ulama NU yang sudah mampu menatap perjuangan dan masa depannya sejak awal.

Selain itu, sambung beliau, Kekuatan NU itu berada pada kedekatan tokoh kiiai dengan masyarakat. Di lingkungan NU, sejak dalam kandungan, anak sudah dimintai doa kiai, mulai sejak lahir, sunnat atau khitan, sekolah, kawin, mati, bahkan setelah mati sekalipun ditahlili oleh tokoh bernama kiai. Dengan demikian, sosok kiai dekat sekali dengan masyarakat.

“Karena tidak memahami selamatan kandungan, datang paham baru ingin menjauhkan ulama dan warga dengan mengklaim sunnatan disebut bid’ah, bahkan rokad disebut bid’ah pula. Padahal inti rokad adalah bersedekah dan selamatan,” sergah beliau tajam.

Kadang demokratisasi dijadikan alasan untuk menjauhkan ulama dan warganya. Beliau mencontohkan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj menerima salaman amplop dari tamu-tamunya, lalu difitnah sebagai sogokan, sedang artis jutaan dibayar mahal tidak menjadi sorotan.

“Kiai biasa menerima salaman tempel dari siapapun untuk mendapatkan barakah kiai, karena kiai mengobati hati dari kegersangan spritual. Fitnah pada kiai adalah upaya massif untuk menjauhkan kiai dari umatnya,” terangnya sambil mengelus dada.

Tokoh yang sangat disegani ini mengingatkan kembali bahwa jangan merasa kecil berada di NU. Beliau menyinggung dawuh Almaghfurlah KH Abd Wahab Chasbullah bahwa sebagian besar Pengurus NU di pusat dan di daerah kurang yakin dengan kekuatan NU. Padahal kekuatan NU itu laksana meriam, bukan gelugu.

Coba pertajam ketakutan Barat yang tidak takut dengan tentara dan Polisi, tetapi mereka takut dengan NU. Karena NU membangun kedekatan antara kiai dengan masyarakat.

“NU ke depan harus hidup di Ranting. Harus hidup di Anak Ranting. NU ke depan tak hanya banyak jamaahnya tapi juga harus kuat jamiyahnya,” dorong beliau memberi semangat.

Pada acara Harlah dan konsolidasi tersebut beliau terus memompa semangat pengurus agar gigih membiayai sendiri kegiatan NU dan tidak bergantung dari kekuatan luar.

“NU tak bisa dibesarkan dengan uang saja, tapi dengan kekuatan konsolidasi masyarakat,” tuturnya.

Tak henti di situ, kekaguman beliau pada lembaga keuangan di NU, misalnya bukan karena banyak uangnya, tapi karena mereka mampu mengonsolidasi kekuatan warga melawan hegemoni negara dan kapitalisme. 

“Ingat, jenis kelamin NU itu sosial keagamaan. Karena itu kacamata yang digunakan bukan bisnis tapi sosial keagamaan. Banyaklah berdoa, berkirim Fatihah kepada warga yang sakit, mendoakan usaha mereka lancar sehingga dapat berinfaq untuk NU,” pintanya.

Di akhir pengarahnnya, di tahun mendatang, penguatan ranting mulai digagas agar pengurus ranting, pesantren dan madrasah yang mengadakan Harlah NU, bukan hanya MWCNU.

“Bangun kekuatan dengan peaantren. Seperti halnya dawuh KH Sahal Mahfudz, NU itu Pesantren besar. Pesantren itu NU kecil. Jangan sekali-kali pesantren berjarak atau bahkan berhadapan dengan NU. Sering-seringlah bersilaturrahim, karena Gus Dur konon Tazawarunya sehari sampai sepuluh titik. Lalu kita?.” pungkanya sambil tanyanya mengakhiri pengarahan.

Editor: Ibnu Abbas

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga