Image Slider

Kreatif, Madrasah Nurul Anwar Gapura Persembahkan Film Pendek Sebagai Kado Kemerdekaan

Gapura, NU Online Sumenep

Selalu ada cara untuk orang-orang kreatif dalam mengekspresikan seni, termasuk dalam hal memberi kado istimewa untuk Republik Indonesia yang saat ini berusia 76 tahun. Madrasah Nurul Anwar Andulang Gapura memberi kado berbeda tentang kemerdekaan. Kado istimewa untuk ibu pertiwi mereka berikan lewat film pendek berjudul “Burung-Burung Awan” dan video sinematik “Centang Merah Putih” yang diputar pada puncak perayaan semarak kemerdekaan, Sabtu (21/8/2021) di halaman Madrasah Nurul Anwar Desa Andulang Kecamatan Gapura.

Video sinematik “Centang Merah Putih” yang berdurasi sekitar 5 menit itu sengaja dipersiapkan secara spesial untuk perayaan kemerdekaan. Ada tiga belas aktor yang terlibat dalam video tersebut. Semua berasal dari siswa-siswi Madrasah Tsanawiyah Nurul Anwar sendiri. Proses pembuatannya memakan waktu kurang lebih selama seminggu.

“Kami hanya ingin mengembangkan nilai-nilai kesenian serta menggali potensi siswa yang berbakat dalam dunia keaktoran,” tutur Nur Khalis Kepala MTs Nurul Anwar kepada NU Online Sumenep di sela-sela acara.

Meski dengan alat seadanya, tetapi semangat dan kreativitas mereka terus menyala-nyala. Proses pembimbingan para aktor dimulai sejak di sanggar Tas Taman. Butuh kesabaran dan ketelatenan pembina sebab usia aktor rata-rata masih sangat muda.

“Harapan saya ke depan penggarapan film pendek di sini bisa lebih baik dan lebih serius lagi, kami punya mimpi rencana untuk membangun sekolah seni guna menampung bakat-bakat siswa,” tambah sekretaris KKM MTs Gapura itu.

Sementara “Burung-Burung Awan” adalah film pendek kedua yang mereka garap. Memakan waktu kurang lebih 2 bulan, dengan mendapuk dua aktor utama yaitu M. Rayhan siswa kelas 5 MI dan Rafiqah siswi kelas 9 MTs.

“Selama ini kita orang kampung hanya bisa menikmati secara instan cerita di balik layar televisi. Hanya mampu menonton tapi tidak bisa ditonton,” tutur As’adi sang sutradara saat ditanya inspirasi di balik pembuatan film pendek tersebut.

“Bagian paling rumit adalah saat proses pengambilan gambar. Aktornya adalah siswa yang baru melek dunia seperti ini. Aktor lokal yang tidak pernah tersentuh dunia lakon. Ini semua terinspirasi dari film Laskar Pelangi dengan aktor lokal yang digodok selama bebarapa tahun untuk bisa menjadi aktor yang baik. Sehingga saat proses syuting, kami seluruh crew harus lebih bersabar membimbing untuk mendapatkan hasil akting yang baik dan menarik,” tambah As’adi.

Mereka mengangkat tema pendidikan dan lokalitas. Dikisahkan dalam film pendek tersebut seorang anak perempuan bernama Fatimah yang hidup sebatang kara dan bocah laki-laki yang terpaksa harus dikeluarkan dari sekolah karena orang tuanya berselisih dengan pihak sekolah bernama Somad. Somad pergi dari rumah karena ayahnya tidak mau berdamai. Somad tinggal bersama Fatimah. Suatu saat Somad ikut ke sekolah untuk bisa mengikuti pelajaran Fisika—pelajaran favoritnya—meski harus memanjat pohon.

Dalam film tersebut juga terdapat scan tentang kepedulian terhadap alam. Somad dan Fatimah melepaskan burung-burung di bukit, sebagaimana janji Somad yang akan mengganti semua burung-burung yang pernah ia tangkap agar bukit—tempat ia bersama Fatimah—tidak sepi dari suara burung.

“Pertama kali hanya disuruh untuk jadi aktor, seterusnya kemudian merasa tertarik. Banyak hal baru yang saya dapat. Dan Jika ada garapan film lagi saya mau diajak terlibat lagi,” ungkap Rofiqah pemeran Fatimah saat dihubungi NU Online Sumenep secara terpisah.

“Adegan paling sulit saat naik sepeda, karena sebelumnya saya memang tidak pernah naik sepeda,” tambahnya lagi dengan ekspresi yang malu-malu.

Pewarta: A. Zainol Hasan
Editor: A. Warits Rovi

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga