Image Slider

LFA Guluk-Guluk Kembangkan Sundial Equatorial, Ini Fungsinya

Guluk-Guluk, NU Online Sumenep

Secara etimologi sundial berasal dari bahasa Inggris yang artinya alat penunjuk waktu dengan bayangan sinar matahari. Sundial dalam bahasa Arab disebut as-Sa’ah asy-Syamsiyah atau mizwala. Kedua istilah tersebut digunakan dalam bahasa arab modern.

Hal itu disampaikan langsung oleh Fathor Rozi selaku Sekretaris Pengurus Wilayah (PW) Lembaga Falakiyah Nahdlatul Ulama (LFNU) Jawa Timur saat uji coba instrumen falak berupa Sundial Equatorial yang diselenggarakan oleh Lajnah Falakiyah Annuqayah (LFA) Guluk-Guluk, Sumenep, Senin (21/03/2022) di halaman pesantren setempat.

“Pada abad pertengahan Islam, horizontal sundial disebut dengan istilah rukhama yang berarti kelereng atau basita yang berarti datar, dan vertikal sundial disebut dengan istilah munkharifa. Gnomonnya biasa disebut dengan shakhs, shakhis atau mikyas,” katanya.

Dirinya menjelaskan, di Indonesia sundial lebih dikenal dengan sebutan bencet yang berarti alat sederhana yang terbuat dari semen atau semacamnya yang diletakkan di tempat terbuka agar mendapat sinar Matahari.

“Alat ini berguna untuk mengetahui waktu matahari hakiki, tanggal Syamsiyah serta untuk mengetahui pranotomongso
Pada permulaan abad ke-20 para arkeolog menemukan sebuah sundial yang di perki rakan telah di buat sekitar abad 370 SM. Sundial tersebut merupakan sundial yang pertamakali ditemukan, seiring dengan perkembangannya para arkeolog mulai menemukan sundial-sundial lain yang berumur lebih tua dan kebanyakan sundial tersebut ditemukan di daerah Mesir,” jelasnya.

Menurut Alumni Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang, Jawa Tengah ini, salah satu sundial tertua yang ditemukan di daerah Mesir diperkirakan dibuat sekitar tahun 1500 SM dan digunakan oleh Thutmosis III.

“Sundial ini juga dilengkapi dengan sebuah bandul yang digunakan sebagai alat untuk mengukur ke sejajaran sundial ketika ditempatkan. Sundial lainnya yang ditemukan di daerah Mesir yang diperkirakan dibuat sekitar tahun 660-330 SM. Sundial ini bisa menunjukkan waktu sepanjang hari tanpa harus mengubah posisi sundial ketika sore hari seperti sundial yang pertama,” tegasnya.

Alumni Pondok Pesantren Annuqayah daerah Latee itu melanjutkan, selain memiliki bidang sundial yang datar, sundial ini juga memiliki bidang yang miring dan bertingkat menyerupai tangga pada kedua sisinya. Bayangan yang jatuh pada bidang miring tersebut juga dapat menunjukkan waktu. Dengan bentuk yang seperti di atas, sundial ini bisa ditempatkan tanpa harus mengetahui garis meridian teiebih dahulu.

“Untuk menggunakan sundial ini yang perlu dilakukan hanyalah meletakkannya pada posisi yang datar kemudian kemudian sundial tersebut digerakkan sampai waktu yang ditunjukkan oleh bayangan pada bidang yang miring sama dengan waktu yang ditunjukkan oleh bayangan yang berada pada bidang datar yang berada di atasnya,” terangnya.

Kendati demikian, selain kedua sundial tersebut, masih ada satu lagi sundial yang ditemukan di Mesir yang diperkirakan dibuat sekitar abad 330-30 SM. Berbeda dengan kedua sundial sebelumnya yang mempunyai permukaan yang datar sebagai area untuk menangkap bayangan yang dihasilkan oleh balok yang tegak lurus (gnomon).

“Sundial ini memiliki permukaan yang miring yang mana kemiringannya tersebut sesuai dengan lintang tempat. Lebar dari sundial tersebut dibagi menjadi beberapa bagian untuk menunjukkan bulan, serta garis diagonal yang digambar melewati garis-garis bulan tersebut digunakan untuk menunjukkan jam,” ucap Fathor Rozi.

Alumni Madrasah Aliyah 1 Annuqayah Guluk-Guluk ini juga mengungkapkan cara penggunaan sundial ini. “Pertama-tama diletakan pada daerah yang datar kemudian arahkan balok yang berdiri tegak tersebut ke arah matahari. Posisi bayangan pada garis waktu menunjukkan waktu harian pada bulan-bulan tersebut,” ungkap mantan Ketua LFA Guluk-Guluk ini.

Kemudian ia menambahkan, pada akhir abad kesepuluh, para astronom Arab menemukan sebuah penemuan besar yang menjadi cikal bakal lahirnya sundial modern. Mereka menyadari bahwa dengan menggunakan gnomon yang sejajar dengan sumbu bumi, sebuah sundial akan mampu menunjukkan waktu yang sama pada satu hari dalam setiap tahun.

“Sundial jenis ini pernah dibuat oleh seorang astronom yang bernama Ibnu Al-Syatir untuk masjid Umayyah di Damaskus pada tahun 1371. Sundial tersebut merupakan sundial yang menggunakan gnomon yang sejajar dengan kutub Bumi tertua yang masih ada,” katanya.

Menurut Ketua Keluarga Alumni Falak Annuqayah (KAFA) Guluk-Guluk ini, secara umum fungsi dari instrumen falak berupa Sundial Equatorial ada tiga yaitu penunjuk waktu lokal, tanggal, dan garis meridian lokal.

“Pertama, penunjuk waktu lokal. Sebagai mana telah diketahui sundial merupakan alat penunjuk waktu. Dengan melihat garis jam yang ditunjukkan oleh bayangan gnomon seseorang bisa mengetahui jam pada hari tersebut, akan tetapi waktu yang ditunjukan oleh sundial ialah waktu lokal sehingga akan ada selisih dengan waktu daerah. Selisih tersebut bisa dihitung dengan menggunakan konversi dari waktui daerah ke waktu lokal,” jelasnya.

Selain itu, menurutnya, ada hal lain yang mempengaruhi perbedaan waktu yang di tunjukan sundial, yaitu equation of time, nilai equation of time bisa di peroleh dengan melihat tabel ephemeris atau dengan melihat tabel pada bulan Maret hingga September permukaan sundial yang menghadap ke arah utara akan tersinari dan bayangan gnomon bergerak searah jarum jam.

“Sedangkan pada bulan September sampai Maret bagian selatan sundial yang akan tersinari dan gerak sundial berlawanan dengan arah jarum jam,” imbuhnya.

“Kedua, penunjuk tanggal. Sebagaimana telah diterangkan di atas, bahwa Sundial Equatorial memiliki dial table yang sejajar dengan garis ekuator langit, oleh karena itu panjang bayangan gnomon yang jatuh pada dial table sama dengan panjang gnomon,” sambungnya.

Lebih lanjut, ia menerangkan, gnomon selalu membentuk sebuah lingkaran yang sering disebut dengan lingkaran deklinasi. Untuk dapat menentukan tanggal dengan menggunakan equatorial sundial, diperlukan lingkaran-lingkaran deklinasi dengan jari-jari

“Ketiga, penunjuk garis meridian lokal. Garis meridian lokal adalah garis lingkaran besar yang melewati observer dan menghubungkan titik Utara langit, kutub selatan langit. Asumsikan bahwa seseorang telah memiliki sundial dengan garis-garis jam yang benar. Selain itu, gnomon yang terpasang pada sundial telah membentuk sudut terhadap bidang horizon yang besarnya sama dengan lintang tempat, maka langkah selanjutnya yang harus di lakukan adalah mensejajarkan sundial dengan garis meridian langit,” ulas Fathor Rozi.

Di akhir penyampaiannya, ia menyatakan untuk menentukan garis meridian langit, konversikan waktu lokal atau waktu yang ditunjukkan oleh jam (TL) menjadi waktu matahari atau waktu istiwa yaitu waktu yang ditunjukkan oleh sundial (TS).

Editor : Firdausi

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga