Image Slider

Mengenal Kecintaan Mu’adz bin Jabal Pada Rasulullah

Mu’adz bin Jabal adalah sahabat Nabi yang berasal dari kaum Anshar yang pertama kali berbaiat kepada Rasulullah SAW. Beliau mendapat pujian dari Nabi, sebab ahli di bidang fiqih. Wajar jika Nabi bersabda, “Umatku yang paling tau akan yang halal dan haram, ialah Mu’adz bin Jabal.”

Kecerdasannya hampir sama dengan Umar bin Khattab r.a, bahkan diutus oleh Nabi ke Yaman untuk mengajar masyarakat tentang agama Islam. Selain menyebarkan agama Islam, ia berdagang sebagaimana para sahabat lainnya. Berkat kepandaian dan ketekunannya ia bisa meningkatkan omset dagangannya hingga menjadi seorang yang kaya raya, santun dan faqih. Beliau tinggal selama 12 tahun di Yaman. Sejak itulah ia tidak berjumpa lagi dengan Rasulullah.

Suatu malam, Mu’adz bermimpi dikunjungi seseorang, “Apakah engkau masih terlena dengan tidurmu, padahal Rasulullah sudah berada di dalam tanah.” Ia terhenyak dan tidak percaya. Untuk menenangkannya, beliau mengerjakan shalat.

Malam berikutnya mimpi tersebut datang lagi. Sama seperti malam sebelumnya, “Ini bukan dari setan.” Keesokan harinya warga berkumpul di kediaman Mu’adz. Kemudian ia menceritakan mimpinya, “Dulu bula Nabi bermimpi dan sukar difahami, beliau membuka Mushaf atau Al-Qur’an. Mohon berikan Mushaf kepadaku,” pintanya.

Ayat yang pertama kali yang dibuka adalah Az-Zumar ayat 30, “Sesungguhnya kamu (Nabi Muhammad) akan mati, dan sesungguhnya mereka pun akan mati.” Saat itu Mu’adz langsung pingsan. Setelah sadar, ia langsung meninggalkan Yaman menuju Madinah. Saat itu jaraknya kurang lebih 3 hari perjalanan.

Ketika bertemu dengan sahabat, “Bagaimana kabar Nabi,?,” tanyanya. Lalu sahabat menjawab, “Nabi sudah wafat.” Tiba-tiba tubuh Mu’adz langsung lunglai dan jatuh tak sadarkan diri. Ketika siuman, sahabat tadi menyerahkan sepucuk surat dari Abu Bakar As-Shiddiq. Surat tersebut tertera kop dari Rasulullah SAW. Saat itu Mu’adz memandanginya dengan hati pedih, menciumnya, lalu meletakkannya di depan mata sambil menangis tersedu-sedu.

Setelah puas menangis, ia melanjutkan perjalanannya. Mu’adz sampai ke Madinah saat fajar menyingsing. Lalu didengarkannya suara Bilal sedang azan. Ketika mengucapkan Asyhadu Allaa Ilaaha Ila Allah, ia menyambungnya ”Wa Asyhadu Anna Muhammadar Rasulullah.” Ia menangis, lalu pingsan lagi untuk kesekian kalinya.

Saat kejadian itu, Bilal bin Rabah berkata, “Saya mendengar Rasulullah bersabda, Sampaikanlah salamku kepada Mu’adz,” ujarnya setelah Mu’adz siuman. Saat itu Mu’adz terperanjat, lalu menjerit sekuat tenaga.

Keeskokan harinya beliau mengajak Bilal pergi ke kediaman Sayyidah Siti Fatimah Az-Zahrah. Ketika melihat Siti Aisyah duduk bersama Siti Fatimah, lagi-lagi tubuh Mu’adz lunglai. Ia tak sanggup melihat kedua wanita mulia itu ditinggalkan Rasulullah SAW.

Di masa pemerintahannya Umar bin Khattab r.a, Mu’adz berdakwah dan mengajar Al-Qur’an pada masyarakat di Urdun (Yordania). Keberangkatan beliau ke sana atas permintaan Gubernur Syam. Namun keberadaannya di sana, Mu’adz tidak terlalu lama, karena berada di daerah yang sedang dilanda penyakit menulur. Kala itu beliau terjangkit dan sakit, hingga akhirnya wafat dalam keadaan tunduk dan berserah diri.

Referensi: Ibnu Atsir dalam Asadul Ghabah, As-Samanhudi dalam Wafa’ul Wafa’, dan Ibnu ‘Asakir dalam Tarikh Dimasyq

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga