Image Slider

Mengenal Sejarah dan Identitas Sastra Pesantren

Oleh: Firdausi

Pesantren salah satu pendidikan tertua di Indonesia yang menelorkan beragam ulama kharismatik, salah satunya Hadratussyekh KH M Hasyim Asy’ari. Selain mencetak para alim ulama dan ilmuwan, pesantren juga melahirkan beragam karya sastra dan pembibitan sastrawan dan budayawan. Sebut saja di Sumenep ada KH D Zawawi Imron, Kiai M Faizi, dan lain-lainnya.

Sastra pesantren bagian dari sastra Indonesia yang sudah ada sejak dulu. Namun tak dapat dipungkiri pula, nilai estetik, tematik, dan etik merupakan ciri khas pesantren yang tertuang dalam karya sastra pesantren. Keunikan tersebut mengakar dalam denyut nadi para bibit yang dikader oleh kiai lewat tradisi membaca, menulis, bersastra, berdebat, bersyair, dan banyak lagi yang tidak bisa disebutkan.

Sayyidina Ali bin Abi Thalib pernah berkata, “Semua penulis akan mati. Hanya karya yang abadi. Maka tulisanlah yang akan membahagiakan dirimu di akhirat nanti.” Ada pula maqalah yang mengatakan, “Tintanya seorang penulis, kelak akan ditimbang sebagaimana darahnya para syuhada.” Makna setetes tinta itu dilambangkan sebagai puncak keagungan, seperti halnya darahnya syuhada yang gugur di medan perang. Oleh sebab itu, kedua qaul tersebut memiliki nilai plus yang wajib dimiliki oleh seorang penulis, sastrawan, dan budayawan.

Pesantren mampu membuat dan menjalani agenda budayanya sendiri, yang menjaga kemandirian budaya dan mengartikulasikan kulturalnya dengan cerdik lewat beragam karya sastra. Sebagaimana di sampaikan NU Online (nu.or.id) bahwa sejarah sastra pesantren ditulis menggunakan huruf Pego (bahasa daerah). Kandungannya sangat beragam, mulai dari cerita roman, sejarah realitas sosial, hingga cerita-cerita yang bertemakan moralitas dan kepahlawanan. Nilai estetik yang tertuang di dalamnya melukiskan sebuah realitas sosial, melibatkan tingkah laku, dan norma yang berlaku dalam kehiduapan masyarakat dan kebudayaan.

Sebagaimana disampaikan juga di NU Online Jatim (jatim.nu.or.id), sastra kitab kuning yang sering dibaca oleh santri merupakan kedinamisan tradisi ulama NU, seperti natsar, syi’ir, nadham, burdah, dibaan, barzanji, manaqib, tahlilan, dan lainnya. Semuanya menjadi urat nadi warga NU dan kaum sarungan. Wajar jika sastra lokal dan pesantren saling bersandingan dalam mengembangkan dunia kesusastraan di Indonesia.

Jika santra pesatren langgeng dan dilestarikan oleh kiai, maka disitulah NU akan terus ada jamaahnya dan semakin kuat jam’iyahnya. Dengan demikian, sastra pesantren menjadi media spiritualitas kaum sarungan dan jimat untuk menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Bahkan warisan terbesar Indoensia adalah membudayakan sastra yang hakikatnya mengimplementasikan khittah bagi nahdliyin dan menjadikan qanun asasi sebagai landasannya.

*) Mantan Anggota Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Teater Fataria Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Madura

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga