Image Slider

Ngabuburit Produktif ala Santri di Bulan Ramadhan

Oleh: Ahmad Hosaini *)

Ngabuburit ala santri harus dipahami dengan keindahan maknawiyah itu sendiri. Ini semua dapat terwujud dengan dzikir, fikir, dan amal shaleh.

Janganlah terpesona dengan keindahan indrawi karena itu fatamorgana. Alihkan pandangan pada alam semesta ini dengan pandangan bathiniyah dan keindahan maknawiyah karena itu bernilai ibadah.

Saat puasa di Bulan Ramadhan umumnya mereka mengisi waktu di sore hari dengan ngabuburit. Ada yang hanya sekedar jalan-jalan santai, joging, sepedaan bareng pasangan, memantau menu buka puasa di jalanan, dan lain-lain.

Bahasa yang muncul biasanya adalah “nyare malem” (cari malam). Seakan-akan untuk mempercepat datangnya malam agar segera berbuka puasa. Padahal tanpa ngabuburit pun malam pasti datang dan waktunya tidak bisa dipercepat dengan ngabuburit itu. Ya itulah bahasa untuk menggambarkan kegiatan ngabuburit.

Memang dengan kegiatan ngabuburit seakan-akan datangnya malam lebih cepat. Ya ini karena dengan berkegiatan seperti ngabuburit biasanya kita terlarut dalam suasana sehingga seolah waktu lebih cepat, padahal tidak.

Waktu selalu berjalan dengan mengikuti ketentuan-Nya. Tidak ada yang dapat mengubah atau mempercepatnya, kecuali dengan izin Allah SWT.

Ngabuburit kalau dilakukan dengan benar akan bernilai ibadah dan produktif secara spiritual seperti tadabbur alam misalnya. Ngabuburit dengan tadabbur alam adalah dengan melakukan aktivitas di sore hari sambil merenungkan kebesaran Allah melalui ciptaan-Nya di alam semesta ini dalam rangka meningkatkan keimanan dan bentuk syukur kita pada Allah.

Alam semesta ini penuh tanda kebesaran Allah seperti penciptaan langit yang tanpa penyangga tapi tidak runtuh, bumi yang seolah terhampar tapi ada pergantian siang dan malam, di sini siang di negara lain ada yang sudah malam, turun hujan tanpa kita siram, merasakan angin tapi wujudnya tidak tampak, lautan warnanya biru padahal tidak ada yang ngecat. Begitu indah ciptaan Allah, tiada yang mampu menandingi-Nya.

Memikirkan penciptaan alam semesta ini dengan dzikir dan tafakkur, maka akan tergolong Ulul Albab yaitu orang-orang yang berakal sehat dan berhati tulus, terhubung dengan Tuhan, yang mampu menembus inti kebenaran.

Ada banyak ayat yang menyebutkan kata Ulul Albab di dalam Al-Qur’an. Di antaranya adalah:

…قُلۡ هَلۡ يَسۡتَوِي ٱلَّذِينَ يَعۡلَمُونَ وَٱلَّذِينَ لَا يَعۡلَمُونَۗ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُوْلُواْ ٱلۡأَلۡبَٰبِ

Artinya: “…Katakanlah: “Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Hanya orang yang berakal yang dapat menerima pelajaran.” (QS. Az-Zumar: 9).

Kalau kita menggunakan akal sehat kita sambil berpikir kritis dan diiringi dzikir, maka kita akan dapat merasakan kehadiran Sang Pencipta. Saya teringat dengan munajatnya Ibnu ‘Athaillah:

أنت الذي لا اله غيرك تعرفت لكل شيء فأجهلك شيء وأنت الذي تعرفت إلي في كل شيء فرأيتك ظاهرا في كل شيء فأنت الظاهر لكل شيء.

Artinya: “Engkaulah Tuhan yang Tiada Tuhan, kecuali Engkau. Engkau telah mengenalkan Diri-Mu kepada segala sesuatu sehingga tiada sesuatu yang tidak mengenal-Mu. Engkau pula yang mengenalkan Diri kepadaku dalam segala sesuatu sehingga aku melihat-Mu jelas pada tiap segala sesuatu maka Engkaulah yang lahir pada tiap sesuatu.”

Maka, kita harusnya tidak hanya terpesona dengan keindahan indrawi dan keunikan ciptaan-Nya (الجمال الحسي والفرقي), tapi lebih dari itu kita harusnya terpesona dengan keindahan maknawi secara kolektif dan holistik (الجمال المعنوي الجمعى).

Melihat sesuatu dengan pandangan bathiniyah akan lebih bermakna dari hanya sekedar yang tampak secara kasat mata.

Saya teringat dengan bahasanya Ibnu ‘Ajibah dalam tafsir al-Bahrul Madid saat mengomentari ayat yang berkisah Nabi Daud yang tersungkur bersujud saat di tegur oleh Allah atas kekhilafan yang diperbuatnya. Kata Ibnu ‘Ajibah:

إنما عوتب داود عليه السّلام لأنه التفت إلى الجمال الحسى الفرقى » دون الجمال المعنوي الجمعى » ولو سبته المعاني بجمالها ما التفت إلى الجمال الفرقى › فلما نبّهه الحق تعالى استغفر ورجع إلى الجمال المعنوي » الذي هو جمال الحضرة القدسية

Artinya: “Nabi Daud ditegur Allah karena ia terpesona pada keindahan indrawi, bukan pada keindahan maknawi. Seandainya terpesona pada makna di balik keindahannya, maka ia tidak akan beralih kepada keindahan indrawi. Ketika Allah Yang Mahakuasa mengingatkannya, ia memohon ampunan dan kembali kepada keindahan maknawi (spiritual), yaitu keindahan akan kehadiran Ilahi.”

Di sinilah pentingnya kita memandang sesuatu dengan pandangan bathiniyah agar kita tidak tertipu pada keindahan fatamorgana.

Begitu juga dalam memaknai ngabuburit, tidak hanya sekedar jalan-jalan tapi juga memikirkan kebesaran Tuhan.

Lalu lalang manusia dengan warna warni bentuk, ciri dan karakternya antara yang satu dengan yang lain tidak akan ada yang persis sama.

Allah menciptakan manusia sudah puluhan miliar dari dulu hingga sekarang dan sampai yang akan datang, tidak mungkin ada satupun yang persis sama satu dengan yang lainnya. Itulah ke-Mahakuasaan Allah yang tiada yang dapat menandingi-Nya.

Ngabuburit yang dilakukan santri juga lebih produktif secara spiritual dengan mengisi kegiatan Khatmil Qur’an, tadarus dan kajian kitab kuning, diskusi ilmiah dan musyawarah, buka puasa bersama, berbagi ta’jil, ada yang buat program Santri Kerja Nyata (SKN) dengan mengajar di sekolah atau madrasah, mengadakan acara Nuzulul Qur’an, bakti sosial dan lain-lain.

Semua itu bernilai ibadah dan ganjarannya berlipat-lipat ganda seperti janji Allah. Rasulullah bersabda:

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ ، الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعمِائَة ضِعْفٍ ، قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ : إِلَّا الصَّوْمَ ، فَإِنَّهُ لِي ، وَأَنَا أَجْزِي بِهِ ، يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ أَجْلِي

Artinya: “Semua amalan Bani Adam itu akan dilipat gandakan, dan satu kebaikan itu akan dilipatkan sepuluh kali lipat sampai 700 kali lipatan. Allah Azza Wajalla berfirman: kecuali Puasa, karena ia untuk-Ku, dan Saya sendiri yang akan membalasnya. Dia meninggalkan syahwat dan makanannya, hanya karena untuk-Ku.” (HR. Muslim).

Para ulama ada yang menyebutkan bahwa pahala puasa itu lebih dari 700 kali lipat. Apalagi kalau ngabuburit dalam bulan Ramadhan dilakukan dengan cara yang lebih produktif juga bernilai ibadah, maka pahalanya juga akan berlipat-lipat ganda.

Maka gunakanlah waktu ngabuburit di bulan Ramadhan ini seperti kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh santri. Kegiatan yang tidak hanya berdimensi duniawi tapi lebih pada dimensi ukhrawi. Mewujudkan ini semua tentu dengan integrasi iman, ilmu, dan amal. Wallahu A’lam.

*) Ahmad Hosaini, Wakil Sekretaris PCNU Sumenep, santri alumni PP. Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo.

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga