Oleh: Firdausi
Sejak kebudayaan Islam klasik hingga abad Modern, musik menjadi sautu hal yang kontroversi bagi kalangan ulama. Terlepas dari konteks hukum, tak dapat dipungkiri alat musik seperti seruling dan gitar spanyol merupakan hasil kreasi kesenian Islam yang ada Kordova atau pun di Andalusia. Padahal peradaban Barat bangkit saat abad Renaissance.
Saat abad Yunani Kuno, terdapat salah satu filsuf yang memperkenalkan musik. Menurut Phytagoras, dengan segala intonasi dan harmonisasi nadanya, musik bagian dari bilangan matematika. Pada saat itulah musik dikenal sesuatu yang mistik bagi bapak angka. Berangkat dari sosio-historis ini, umat Islam yang hidup pada abad Pertengahan memiliki spirit progressivitas yang tinggi untuk mengadopsi, mengamalkan, dan menginovasi diri dalam dunia musik.
Tokoh yang sangat familiar dalam menghidupkan musik di abad Pertengahan adalah Al-Farobi. Ia dikenal sebagai seorang musikalis yang mampu meninabobokkan raja, bahkan meneteskan air mata yang keluar dari kelopak mata raja saat memainkan tangga nadanya yang merdu. Ia melahirkan karya menumental yang diberi nama Al-Musiqo Al-Kabir. Lewat maha karya itulah, teori-teori musik mulai dirumuskan dan ditemukanlah berbagai alat musik.
Berselang kemudian, lahirlah tokoh Filsuf Ibnu Sina atau Avicena. Selain dikenal ahli kedokteran, yang mana Al-Qanun menjadi buku standar selama 500 tahun di dunia Islam dan Eropa, beliau juga seorang musikus yang karyanya diberi nama Al-Syifa. Konon, ia pernah melakukan pembiusan lewat musik.
Dengan demikian, tak heran jika seseorang bermusik bisa mendekatkan diri kepada Allah SWT. Seperti yang dipraktikkan Jalaluddin Rumi. Karena tarian Darwisnya yang eksotik dan sarat akan simbol-simbol mistik, mampu mempraktikkan jalan spiritual demi mendekatkan diri pada Tuhan-Nya. Sampai detik ini, tarian Darwis yang berputar-putar itu dipraktikkan oleh warga Indonesia.
Musik Media Dakwah Wali Songo
Orang Arab membuat alat musik terbuat dari kulit dan kayu atau dikenal hadrah. Eropa membuat alat yang terbuat dari senar dan kayu atau bernama gitar. Indonesia juga tak kalah dengan negara lain, yakni membuat alat musik yang diberi nama gamelan. Alat tersebut terbuat dari logam. Indonesia sebuah bangsa yang menguasai ilmu pertambangan yang maju sejak dulu hingga sekarang. Ini bukti bahwa peradaban di Nusantara memiliki nilai estetik yang mampu menyampaikan keagungan, mengabstraksi benda, dan mengomposisikan syair, nada, lirik dan mengaransemen lagu dalam ruang dan waktu.
Musik bagi orang Madura memiliki peran signifikan. Di mana petikan mistiknya mampu mewarnai isi dunia. Bahkan menjadi media untuk mensyiarkan Islam Ahlussunnah wal Jamaah pada warga. Contohnya Wali Songo dan ulama Jawa yang menyebarkan agama Islam lewat penyesuaian diri dengan corak kebudayaan masyarakat Jawa yang gandrung pada wayang dan musik gamelan.
Sunan Bonang atau Raden Maulana Makdum Ibrahim menyanyikan Tombo Ati dan mengiringinya dengan menabuh gamelan yang pada dasarnya untuk menarik perhatian warga agar memeluk Islam. Tembang itu berisi ajaran Islam, sehingga tampa sengaja mereka telah diberi penghayatan baru. Berkat suara merdu dan menyentuh hati, masyarakat berbondong-bondong datang ke masjid. Saat ini tembang beliau sudah diviralkan oleh ustadz Opick dari panggung ke panggung.
Lain lagi Sunan Drajat atau Raden Syarifuddin yang memperkenalkan Islam lewat kesenian tradisonal. Dakwahnya dikenal lewat tembang pengkur yang diiringi gamelan. Beliau memiliki empat pokok ajaran, masing-masing adalah paring teken marang kang kalunyon lan wuta; paring pangan marang kang kaliren; paring sandang marang kang kawudan; dan paring paying kang kodanan. Artinya, berikanlah tongkat kepada orang buta; berikanlah makanan kepada orang yang kelaparan; berikanlah pakaian kepada mereka yang telanjang; dan berikan payung kepada yang kehujanan.
Tak kalah juga, Raden Syahid atau Sunan Kalijaga yang memadukan dakwah dengan seni budaya hingga mengakar dengan masyarakat. Misalnya, lewat pertunjukan wayang, gamelan, tembang, ukir, dan batik yang populer pada masa itu. Beliau penggubah tembang, diantaranya Dandanggula Semarangan, yang merupakan paduan melodi Arab dan Jawa. Tembang lainnya adalah ilir-ilir. Liriknya mempunyai tafsir yang sarat dengan dakwah. Misalnya tak ijo royo-royo dak sengguh penganten anyar. Ungkapan ijo royo-royo bermakna hijau, lambang Islam. Sedangkan Islam sebagai agama baru, diamsalkan penganten anyar, alias penganten baru.
Sedangkan Raden Umar Said atau Sunan Muria berdakwah lewat berbagai kesenian Jawa, misalnya mencipta macapat, lagu Jawa. Lagu sinom dan kinanthi dipercayai sebagai karya Sunan Muria, yang sampai sekarang masih lestari. Lewat tembang-tembang itulah beliau mengajak warga mengamalkan Islam.
Dari beragam kisah di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa unsur-unsur yang membentuk nilai estetis pada seni musik ini antara lain adalah bunyi, irama, birama, harmoni, dinamika, tempo dan lain sebagainya.
*) Ketua Lembaga Ta’lif wan-Nasyr Nahdlatul Ulama (LTN NU) Sumenep

