Image Slider

NU Lenteng Gelar Harlah Ke-99 NU, KH D Zawawi Imron: Akhlak itu Penting

Lenteng, NU Online Sumenep
Pendidikan akhlak atau tatakrama sangat diperlukan untuk menjaga nilai-nilai keluhuran suatu bangsa, jangan sampai bangsa kita kehilangan identitas sebagai bangsa yang luhur akan akhlaknya.

Hal itu disampaikan langsung oleh KH D Zawawi Imron saat mengisi kegiatan Haul Muassis dalam rangka Peringatan Hari Lahir (Harlah) Ke-99 NU yang dilaksanakan oleh Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Lenteng pada Rabu (16/02/2022) malam di Aula MWCNU setempat.

“Pendidikan agama dan etika yang diharapkan mampu membentuk karakter budi pekerti luhur di madrasah atau sekolah semestinya menjadi kontrol diri belum mendapatkan perhatian serius. Beberapa madrasah atau sekolah masih beranggapan bahwa prestasi adalah kemampuan kognitif semata, sementara afektif dan psikomotoriknya belum menjadi fokus yang sama dengan kognitifnya,” kata Budayawan Nasional ini.

KH. D Zawawi Imron juga menjelaskan, sikap dan moral remaja dari tahun ke tahun banyak mengalami pergeseran dari berbagai aspek kehidupan, mulai dari cara mereka berpakaian, tutur kata, tingkah laku, pergaulan dan berbagai aspek lainnya.

“Pergeseran moral seakan menjadi sebuah konsekuensi dari kemajuan teknologi sehingga terkesan menjadi sesuatu yang harus diterima begitu saja tanpa solusi atas permasalahan yang sedang terjadi,” tuturnya.

Menurut kacamatanya, kemajuan dari berbagai aspek kehidupan menjadi sebuah keharusan dalam rangka persaingan global, akan tetapi pemerintah juga harus menyiapkan bentuk antisipasi atas segala kemungkinan yang akan terjadi.

“Jangan sampai budaya keluhuran bangsa terkikis hanya soal ketidaksiapan kita dalam menyikapi keadaan. Hal tersebut bisa menciptakan kesenjangan, hal inilah yang pada akhirnya membuat moral remaja semakin jatuh dan rusak,” tambah sosok kharismatik di wilayah asal Batang-Batang ini.

Kiai yang tergabung dalam NU sejak tahun 1962 ini mengungkapkan, para remaja belum sepenuhnya mampu menyadari tentang sikap bijak dalam penggunaan teknologi, kebanyakan dari mereka hanya mengikutinya begitu saja tanpa memilah-milah terlebih dahulu.

“Oleh karena itu penting sekiranya memberikan sebuah pemahaman dan dasar spiritual yang matang melalui pendidikan keagamaan sebagai pondasi kontrol diri,” tegasnya.

Pria asal Kecamatan Batang-Batang ini juga mengulas pembahasan tentang sejarah berdirinya NU. Di mana, NU didirikan di Surabaya, Jawa Timur pada 31 Januari 1926 M bertepatan dengan 16 Rajab 1344 Hijriah oleh sekelompok ulama yang merupakan kepentingan Islam tradisional, terutama sistem kehidupan pesantren.

“Lahirnya Jami’iyyah NU didahului dengan beberapa peristiwa penting. Pertama adalah berdirinya grup diskusi di Surabaya pada tahun 1914 dengan nama Taswirul Afkar yang dipimpin KH Wahab Hasbullah dan KH Mas Mansyur,” jelasnya.

Dalam pemikirannya, NU lahir sebagai reprensentasi dari ulama tradisionalis, dengan haluan ideologi Ahlus Sunnah Wal Jamaah. Tokoh-tokoh yang ikut berperan di antaranya KH M Hasyim Asy’ari, KH Wahab Hasbullah, dan para ulama pada masa itu.

“Sebelum Nahdlatul Ulama dibentuk KH Hasyim Asyari terlebih dahulu melakukan sholat istikharah untuk meminta petunjuk kepada Allah SWT. Sikap bijaksana dan kehati-hatian KH Hasyim Asyari dalam menyambut permintaan KH Wahab Hasbullah juga dilandasi oleh berbagai hal. Di antaranya posisi KH Hasyim Asyari saat itu lebih dikenal sebagai Bapak Umat Islam Indonesia (Jawa). KH Hasyim Asyari juga menjadi tempat meminta nasihat bagi para tokoh pergerakan nasional. Peran kebangsaan yang luas dari KH Hasyim Asyari itu membuat ide untuk mendirikan sebuah organisasi harus dikaji secara mendalam,” lanjutnya.

“Hasil dari istikharah KH Hasyim Asy’ari dikisahkan oleh KH As’ad Syamsul Arifin. KH As’ad mengungkapkan, petunjuk hasil dari istikharah KH Hasyim Asy’ari justru tidak jatuh di tangannya untuk mengambil keputusan, melainkan diterima oleh KH Cholil Bangkalan, yang juga guru KH Hasyim Asyari dan KH Wahab Hasbullah. Dari petunjuk tersebut, KH As’ad yang ketika itu menjadi santri KH Cholil berperan sebagai mediator antara KH Cholil dan KH Hasyim Asyari. Ada dua petunjuk yang harus dilaksanakan oleh KH As’ad sebagai penghubung atau wasilah untuk menyampaikan amanah KH Cholil kepada KH Hasyim Asyari yaitu pemberian seuntai tasbih dan tongkat,” terangnya.

Di akhir penyampaiannya, beliau menyimpulkan bahwa proses lahir dan batin yang cukup panjang tersebut menggambarkan bahwa lika-liku lahirnya Nahdlatul Ulama tidak banyak bertumpu pada perangkat formal sebagaimana lazimnya pembentukan organisasi.

“Nahdlatul Ulama lahir berdasarkan petunjuk Allah SWT. Terlihat di sini, fungsi ide dan gagasan tidak terlihat mendominasi. Faktor penentu adalah konfirmasi kepada Allah SWT melalui ikhtiar lahir dan batin. Namun, tidak bisa dipungkiri bahwa berdirinya Nahdlatul Ulama merupakan rangkaian panjang dari sejumlah perjuangan,” pungkas sastrawan dengan gelar Celurit Emas ini.

Editor : Ach. Khalilurrahman

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga