Image Slider

Pengaruh Agama Islam Bagi Orang Madura

Oleh: Firdausi

Salah satu orang yang meneliti Madura adalah Huub de Jonge menyatakan bahwa agama memiliki pengaruh besar bagi kehidupan masyarakat. Syiar yang dilakukan oleh para wali dan ulama, seperti Syaikhana Kholil di Madura Barat dan KH. Muhammad Syarqawi untuk wilayah Timur, benar-benar dihayati oleh masyarakat, sehingga terjalin hubungan baik antara masyarakat dengan kedua tokoh tersebut.

Keberhasilannya didukung oleh membeludaknya jumlah jemaah haji yang berasal dari Jawa dan Madura. Selain beribadah haji, mereka menuntut ilmu ke tanah suci kepada ulama-ulama terkemuka. Saat kembali ke tanah kelahirannya, mereka mengajarkannya pada masyarakat, seperti yang dicontohkan oleh Hadaratus Syaikh KH. M. Hasyim Asy’ari di Cukir, Tebuireng, Jombang, Jawa Timur.

Jika dikorespondensikan dengan babat Madura bahwa ada faktor lain yang mendorong masyarakat bisa menerima ajaran tersebut, yakni hubungan erat antara ulama dan penguasa. Kedua kelompok ini diikat oleh hubungan darah dan bhesan. Bahkan, ada yang diamanahi kursi pimpinan kerajaan, seperti di Bindara Saod yang secara nasab keturunan Sunan Giri.
Selain itu, etos orang Madura dipengaruhi oleh model doktrin dan ajaran para penyebar Islam Nusantara, seperti praktik spiritual religius yang diwariskan pada generasi selanjutnya tentang kekeramatan para leluhur, khususnya ilmu pengobatan dan tasawuf.

Melalui tasawuf, thariqah, akhlak, dan kitab-kitab kuning banyak diajarkan di pesantren dan madrasah. Implikasinya adalah etos ketaatan dalam melaksanakan kewajiban beragama dan kepatuhan kepada orang tua, kiai, dan penguasa. Ini digambarkan dalam falsafah orang Madura yang dikenal bhupa’, bhabhu’, guru, rato (bapak, ibu, guru, dan raja). Dari hasil penelitiannya Huub de Jonge, kiai tidak hanya berfungsi sebagai tokoh agama, tapi memiliki peran dalam memimpin masyarakat dan berpengaruh dalam beberapa bidang. Sehingga nasehat dan keputusannya ditaati dan diterima oleh masyarakat luas.

Bukti rillnya adalah orang Madura agamanya NU. Padahal NU bukan sebuah agama, tetapi wadah bagi para ulama se-Nusantara yang menganut paham Ahlu Sunnah wal Jamaah. Sejarah mengatakan bahwa, notabene warga Madura menganut Asy’ariyah dalam berakidah, bukan Qadariyah dan bukan pula Jabariyah.Amaliyah, fikrah, dan harakahnya NU mampu membumikan nilai-nilai Islam yang berlangsung secara kultural dan struktural. Wajar jika KH. D. Zawawi Imron menegaskan dalam syairnya abhantal syahadat, asapo’ iman, apajung Allah, artinya berbantal syahadat, berselimut iman, dan berpayung pada Allah SWT. Maksud dari puisi tersebut adalah masyarakat Madura identik dengan Islam dan NU nya.

Ajaran Islam yang wasathiyah ini mampu menyemarakkan beragam ritual keagamaan, sehingga menumbuhkembangkan animo masyarakat untuk melaksanakan rukun Islam yang kelima, yaitu ibadah haji. Bagi orang Madura, biaya tak menjadi penghalang, meskipun kondisi ekonomi masyarakat relatif kurang maju dibandingkan dengan warga perkotaan. Namun, jumlah haji di Madura semakin meningkat.

Masyarakat Madura meyakini bahwa naik haji bisa membuat perekonomiannya berkembang dan dilimpahkan berkah. Wajar, jika orang Madura melaksanakan haji dan umrah berkali-kali. Keberagaman ini juga didukung oleh pesantren dan lembaga pendidikan yang setiap tahun mencetak generasi muda yang siap bersaing di zaman 4.0 dan mengabdi di masyarakat dengan tujuan li i’lai kalimatillah.

*Direktur NU Online Sumenep.

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga