Image Slider

Begini Kepedulian Warga NU Sumenep Terhadap Sekolah yang Diterjang Angin Puting Beliung

Lenteng, NU Online Sumenep

Raudlatul Athfal (RA) Nurul Islam, merupakan lembaga pendidikan usia dini di bawah naungan Yayasan Nurul Islam yang berlokasi di Dusun Angsanah, Desa Lenteng Barat, Kecamatan Lenteng, Kabupaten Sumenep. Secara geografis, dibilang terpencil, karena jaraknya dari Kota kurang lebih 18 km dan dari Kecamatan kurang lebih 8 km.

Yayasan yang berdiri pada tahun 1981 memiliki 6 lembaga. Yakni, RA (berdiri 1991) 31 siswa, MI (1981) 45 siswa, MTs (2010) 31 siswa, MDT (1990) 57 siswa, TPQ (2011) 36 siswa, dan santri mukim 28 santri. Yayasan yang diasuh oleh K. Sukkri tersebut roboh, ketika angin puting beliung menyapu gedung RA, Sabtu (19/12/2020) kemarin, sekitar jam 19.30.

Menurut Khasiuddin, gedung tersebut roboh karena curah hujan yang deras dan disertai angin puting beliung. Bendahara yayasan tersebut mengutarakan bahwa, ada 4 ruangan yang roboh, salah satunya adalah gedung perpustakaan.

“Alhamdulillah, tidak ada korban jiwa saat hari nahas tersebut,” ujarnya saat dimintai keterangan oleh media NU Online.

Pada saat yang sama, Ny. Iftahiyah Sukri menjelaskan bahwa, sebelum kejadian, gedung tersebut dilakukan rehab. Karena rusak ringan, seperti memperbaiki dinding yang retak, pengecatan ulang, dan pemasangan keramik.

Saat rehab gedung, warga Angsanah yang notabene nahdliyin, setiap hari menanggung konsumsi dan ikut membantu memperbaiki gedung secara sukarela.

“Kemarin menghabiskan dana sekitar 7 jutaan. Namun setelah mencapai 80%, bangunan tersebut roboh,” keluh Kepala Sekolah RA Nurul Islam.

Tak sampai disitu, biaya pembanguna ulang gedung tersebut berkisar 50 jutaan. Karena kondisinya sudah tidak memungkinkan untuk diperbaiki. Harus dimulai kembali dari awal.

“Bapak Aknan selaku kepala tukang menyampaikan kepada saya bahwa, kondisi bangunan tidak memungkinkan untuk diperbaiki, jadi harus dimulai dari awal. Perkiraan dana yang dibutuhkan itu sekitar 50 jutaan, karena 70% dari sisa bangunan yang roboh masih bisa digunakan kembali pada pembangunan gedung yang baru, dan semuanya dalam kondisi yang layak pakai. Andaikan bahan yang ada sudah tidak bisa digunakan, dana 100 juta jelas tidak cukup”. imbuh Nyi Iftahiyah menirukan penuturan kepala tukang.

Alumni Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton, Probolinggo tersebut akan berusaha menggali dana dari berbagai pihak, guna pembangunan ulang agar Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) bisa terlaksana kembali.

“Akan kami usahakan pertengahan Januari sudah selesai walau dana saat ini sangat terbatas. Karena berdasarkan kalender pendidikan, KBM aktif kembali di minggu pertama.” ungkapnya. Sementara waktu, kegiatan KBM akan di tempatkan di mushalla dan masjid, tambahnya.

Saat ini, warga NU dan masyarakat masih tetap berduyun-duyun datang ke lokasi untuk membersihkan puing-puing bangunan yang berserakan, Minggu (20/12/2020).

Dirinya mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh warga NU yang ikut meringankan beban tanggung jawabnya.

“Kami berharap kepada warga NU dan lainnya, untuk membantu kami demi meringankan beban ini dengan mendonasikan sebagian hartanya lewat nomor rekening BRI 6543-01-019375-53-3 atas nama Pondok Pesantren Nurul Islam,” pungkasnya penuh harap.

Kontributor: Firdausi
Editor: Abd Warits

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga