Image Slider

Puasa, Rapat, dan Ruh Islam Nusantara

Oleh: Abdul Hadi *)

Menjelang buka puasa hari kedua, sebuah pesan masuk di grup WhatsApp pengurus PCNU Sumenep: undangan rapat pukul 10.30. Grup seketika hidup—ada yang mengusulkan malam hari agar lebih segar, ada yang siap siang sebelum beduk. Perdebatan kecil, suasana cair. Begitulah jam’iyyah bekerja.

Rapat di bulan Ramadhan sejatinya bukan sekadar urusan teknis. Ia riyadhah, tirakat kolektif. Para muassis Nahdlatul Ulama tidak mendirikan jam’iyyah ini dengan proposal dan presentasi. NU lahir pada 16 Rajab 1344 H / 31 Januari 1926—dari istikharah panjang, zikir yang tak tercatat notulen, dan restu para masyayikh.

KH Hasyim Asy’ari menguatkan langkah dengan tirakat. KH Wahab Chasbullah sowan meminta isyarat. Ada kisah tongkat dan tasbih dari KH Kholil Bangkalan yang dikirim melalui KH As’ad Syamsul Arifin—sebuah simbol bahwa konsolidasi langit mendahului konsolidasi bumi.

Maka ketika hari ini kita memperdebatkan rapat pagi atau malam, itu hanyalah variasi teknis dari semangat yang sama. Puasa bukan jeda aktivitas; ia penguat niat. Rapat di bulan Ramadhan bukan gangguan ibadah; ia bagian dari ibadah itu sendiri.

Dalam kultur NU, Ramadhan tak pernah sunyi. Ada megengan, nyadran, nyorog, padusan—tradisi yang merawat ingatan, membersihkan diri, dan menguatkan solidaritas. Inilah wajah Islam Nusantara: agama yang tumbuh dari bumi, tanpa kehilangan langitnya. Islam yang hangat, tidak kering; teduh, tidak mudah marah.

Secara sosiologis, Ramadhan di lingkungan NU adalah laboratorium kesalehan sosial. Tarawih panjang menjadi ruang temu. Tadarus menghidupkan malam. Buka bersama meruntuhkan sekat. Dari situ tumbuh empati dan persaudaraan.

NU mampu mengubah ketegangan menjadi keakraban, perdebatan menjadi persahabatan. Di forum bisa berbeda pandangan; di luar tetap satu barisan. Itulah kharisma tirakat kolektif—ruh jam’iyyah yang menjaga satu abad perjalanan.

Jadi, rapat pagi atau malam?
Jika niatnya khidmah, keduanya bernilai ibadah.

Puasa mengajarkan menahan.
Rapat mengajarkan mendengar.
Islam Nusantara mengajarkan merangkul.

Pertanyaannya bukan lagi soal jam berapa kita berkumpul, melainkan sejauh mana kita menjaga ruh jam’iyyah yang diwariskan para pendiri.

Wallahu a’lam bishawab.

*) Penulis adalah Wakil Sekretaris PCNU Sumenep

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga