Oleh: Abdul Hadi *)
Malam turun perlahan, membawa sunyi yang terasa lebih dalam dari biasanya. Terlalu dalam untuk dibiarkan begitu saja.
Kopi mengepul di atas meja. Gelas pertama habis. Gelas kedua menyusul. Di meja itu, Nahdlatul Ulama dibicarakan—tanpa mimbar, tanpa sambutan, tanpa notulen resmi.
Hadir beberapa gus. Kader Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU). Aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Sahabat-sahabat Gerakan Pemuda Ansor. Tema obrolannya tidak ringan: NU di abad kedua.
Abad kedua bukan sekadar soal angka. Ia tentang kecepatan, ketahanan, dan relevansi.
Tak lama kemudian datang sosok yang energinya seperti tak mengenal jeda: KH Md. Widadi Rahim—akrab disapa Kiai Widad, Ketua PCNU Sumenep. Santri salaf, alumni pesantren, penggerak yang nyaris selalu hadir di setiap denyut kegiatan. Beliau duduk, tersenyum, dan obrolan pun naik level.
Menyusul Dr. Damanhuri, Sekretaris PCNU. Akademisi muda dengan cara bicara runtut dan terukur. Lalu K. Moh. Halqi, Wakil Ketua—tenang, beraroma kitab, fiqihnya matang, argumentasinya dalam. Tak lama hadir pula KH Abdul Wasid, aktivis tulen yang berproses dari IPPNU, PMII, hingga Ansor; kini Kepala Kemenag Sumenep yang mendorong transformasi digital dalam pelayanan publik.
Empat pengurus. Empat warna. Empat pendekatan.
Dan dari obrolan itulah lahir satu kata: kader hibrida.
Bukan Sekadar Penempatan
Kami memulai dari prinsip klasik yang tetap relevan: the right man in the right place—orang yang tepat di tempat yang tepat.
Dalam tubuh NU, prinsip itu bukan teori manajemen yang baru dikenalkan kemarin. Syuriyah diisi para kiai dan fuqaha, penjaga arah dan marwah. Tanfidziyah diisi penggerak dan organisator. Mustasyar menjadi penyejuk sekaligus penopang moral.
Di lembaga-lembaga pun demikian: Bahtsul Masail oleh ahli fiqih, Ma’arif oleh praktisi pendidikan, lembaga ekonomi oleh pelaku usaha, lembaga kesehatan oleh tenaga medis. Di badan otonom ada Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) untuk akademisi, Sarikat Buruh Muslimin Indonesia (SARBUMUSI) untuk buruh, dan Jam’iyyatul Qurra wal Huffazh (JQH) untuk para qari dan hafizh.
Secara desain, NU sesungguhnya sudah rapi.
Namun dunia hari ini tidak lagi cukup dengan orang tepat di satu tempat. Dunia bergerak cepat, kompleks, dan saling terhubung. Ia menuntut figur yang mampu menjembatani banyak ruang sekaligus.
Di sinilah rindu itu muncul.
Rindu Itu Bernama Hibrida
Kader hibrida bukan sekadar ustaz yang bisa membuat presentasi digital. Bukan pula manajer yang hafal satu-dua dalil. Ia adalah perpaduan.
Ia mampu membaca kitab kuning—dan membaca laporan keuangan.
Ia paham tafaqquh fiddin—dan paham manajemen proyek.
Ia menjaga adab organisasi—dan memahami indikator kinerja serta audit.
Abad kedua NU membutuhkan tipe seperti ini.
Dalam obrolan itu, Kiai Widad menekankan energi gerakan. Daman berbicara sistem dan tata kelola. Halqi mengingatkan batas fiqih dan prinsip diniyah. Wasid menyoroti digitalisasi dan efisiensi.
Bayangkan jika energi, sistem, kedalaman fiqih, dan kecakapan digital itu menyatu dalam satu figur. Itulah kader hibrida.
Bukan untuk menggantikan tradisi. Bukan untuk menanggalkan kiai. Tetapi untuk mempertemukan kekuatan klasik dan tuntutan modern dalam satu karakter.
Antara Getok Tular dan WAG
Obrolan bergeser ke komunikasi organisasi.
NU memiliki jalur struktural—dari pusat hingga ranting. Ia juga memiliki jalur kultural: silaturahmi, ngopi, getok tular. Kini ada tambahan baru: WhatsApp Group. WAG adalah getok tular versi digital—cepat, efektif, kadang terlalu cepat.
Komunikasi NU sejak lama bertumpu pada ukhuwah dan penghormatan kepada kiai. Namun era digital membuat arus informasi tidak lagi sepenuhnya vertikal. Ia bergerak horizontal, bahkan diagonal.
Organisasi hari ini adalah sistem terbuka. Lingkungannya berubah cepat. Tanpa tata kelola komunikasi yang sehat, energi besar bisa salah arah. Tanpa sistem yang kuat, semangat bisa tumpah tanpa hasil.
Di bawah kepengurusan PCNU 2025–2030, arah pembenahan mulai terasa: efisiensi, pemanfaatan teknologi informasi, dan akuntabilitas. Setiap program dituntut terukur. Setiap unit kerja harus memiliki capaian nyata.
Ini bukan sekadar gaya modern. Ini soal tanggung jawab.
NU terlalu besar untuk dikelola dengan cara seadanya.
Kopi habis lagi. Kami berdiri, tetapi pikiran belum selesai.
Saya memandangi satu per satu wajah di meja itu. Ada energi. Ada ilmu. Ada pengalaman. Ada teknologi.
Yang dibutuhkan tinggal satu hal: menjahit semuanya menjadi satu karakter.
Kader hibrida.
NU telah kuat di akar dan luas dalam jaringan. Abad kedua menuntutnya juga kuat dalam sistem. Karena NU bukan hanya tentang hari ini. Ia tentang seratus tahun berikutnya.
Dan untuk itu, kita memang memerlukan—bukan sekadar kader.
Tetapi kader hibrida.
Wallahu a’lam bish-shawab.
*) Penulis adalah Wakil Sekretaris PCNU Sumenep

