Image Slider

Filosofi Berkhidmat di NU Seperti Sekawanan Burung

Oleh: Ahmad Hosaini *)

الطُّيُورُ عَلَى أَشْكَالِهَا تَقَعُ

Artinya: “Burung-burung itu akan hinggap atau berkumpul bersama sesamanya (yang serupa/sejenis).”

Atau kalau dalam bahasa Inggris ditulis, “Birds of a feather flock together.”

Pepatah burung ini teringat dengan pesan yang disampaikan oleh Ketua PCNU Sumenep KH. Md. Widadi Rahim saat ta’aruf dengan pengurus lembaga PCNU se-Sumenep (18/2/2026).

Manusia cenderung berteman dan berkumpul dengan orang-orang yang memiliki perilaku, karakter, atau kesukaan yang sama. Nah, kita dikumpulkan di NU menandakan bahwa kita punya kecenderungan yang sama, karakter dan perilaku yang sama.

Sama-sama siap mengemban amanah dalam berkhidmat memperjuangkan cita-cita para ulama NU. Ini yang bisa kita petik dari pepatah di atas.

Ada pepatah yang cukup menarik untuk menggambarkan bagaimana pentingnya khidmat:

قِيمَةُ كُلِّ امْرِئٍ مَا يُحْسِنُهُ

Artinya: “Nilai seseorang sesuai dengan kadar kebaikan (karya/pengabdian) yang dilakukannya.”

Pepatah ini sering dinisbahkan kepada Imam Ali bin Abi Thalib. Ada lagi yang cukup menarik:

الأَفْعَالُ أَبْلَغُ مِنَ الأَقْوَالِ

Artinya: “Perbuatan (khidmat nyata) lebih efektif daripada sekadar kata-kata.”

Pepatah di atas spiritnya ada di dalam Al-Qur’an:

اِنْ اَحْسَنْتُمْ اَحْسَنْتُمْ لِاَنْفُسِكُمْ ۫

Artinya: “Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik untuk dirimu sendiri.” (QS. Al-Isra’: 7).

هَلْ جَزَاءُ ٱلْإِحْسَـٰنِ إِلَّا ٱلْإِحْسَـٰنُ

Artinya: “Tidak ada balasan untuk kebaikan selain kebaikan (pula).” (QS. Ar-Rahman: 60).

Mari kita belajar tentang filosofi burung. Beberapa jenis burung dan perannya disebutkan dalam Al-Qur’an dan kisah Islami.

Di antaranya adalah ada yang membawa misi tauhid sebagai lambang kekuasaan Allah yaitu burung Hud-hud Nabi Sulaiman. Ia juga berperan sebagai intelijen negara menunjukkan mukjizatnya Nabi Sulaiman.

Ada yang menjadi inspirator dalam menjalani kehidupan di dunia terutama cara menguburkan jenazah dalam kisah Qabil dan Habil. Ada juga yang konsisten dalam membela yang benar walaupun misinya terlihat mustahil. Namun, ia menunjukkan di pihak mana ia berdiri. Ia adalah burung Pipit dengan paruhnya membawa air ingin membantu memadamkan api yang membakar Nabi Ibrahim.

Ada burung yang berperan sebagai bala tentara dalam membela negara dan melindungi Ka’bah kemudian menghancurkan tentara Abrahah. Ada burung yang ingin menunjukkan tentang kekuasaan Allah dalam contoh menghidupkan yang mati.

Burung tidak hanya sebatas dipahami sebagai makhluk yang biasa terbang di angkasa. Di samping punya bahasa sendiri, mereka juga mengikuti takdirnya dengan tunduk dan patuh pada Yang Maha Kuasa. Bertasbih, sujud, dan mengesakan Allah SWT.

Burung disimbolkan sebagai makhluk yang terbiasa dalam berusaha memenuhi kebutuhan hidupnya. Namun, tidak pernah khawatir tentang masa depannya. Burung menunjukkan cerminan keimanan yang kokoh, kesucian jiwa, dan pengingat akan kebesaran penciptaan-Nya.

Beberapa filosofi burung dalam berkhidmat:

Berkhidmat dengan Ikhtiar dan Tawakal
Burung tidak pernah lalai dari tanggung jawab. Ia siap membela kebenaran walaupun dengan kekuatan yang minim untuk membuktikan di pihak mana ia berdiri. Ia siap menegakkan kalimat-kalimat Allah walau harus nyawa sebagai taruhannya.

Berkhidmat di NU dengan misi yang mulia li i’lai kalimatillah (untuk meninggikan kalimat Allah), li ihyai wa i’lai dinii al-Islam (untuk menghidupkan dan meninggikan syiar-syiar agama Islam).

Di samping itu, sebagaimana yang disebutkan oleh ketua PCNU Sumenep KH. Md. Widadi Rahim berkhidmat di NU sebagai bentuk terima kasih kita pada muassis yang telah membentuk kesadaran ukhrawiyah kita.

Di sadari atau tidak sejak usia dini kita sudah menjalankan amaliyah NU yang telah diajarkan oleh para ulama. Maka, dengan berkhidmat di NU itu sebagai bentuk terima kasih kita pada mereka.

Berkhidmat juga tidak berarti meninggalkan kewajiban kita pada keluarga. Tidak juga melupakan tawakkal kita pada Allah. Ini juga bagian dari filosofi burung berdasarkan hadits:

لَوْ أَنَّكُمْ تَتَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ، لَرُزِقْتُمْ كَمَا تُرْزَقُ الطَّيْرُ، تَغْدُو خِمَاصًا، وَتَرُوحُ بِطَانًا

Artinya: “Seandainya kalian bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakkal, niscaya kalian akan diberi rezeki sebagaimana burung diberi rezeki. Ia pergi di pagi hari dalam keadaan lapar dan pulang di sore hari dalam keadaan kenyang.” (HR. Tirmidzi).

Burung tidak diam di sarang, namun terbang ke sana ke mari berusaha menjemput rezekinya untuk makan. Ia bertanggung jawab sama anak yang dilahirkannya. Burung seolah yakin tentang usaha yang dilakukannya bahwa Allah akan menjamin usaha yang dilakukan hamba-Nya.

Burung keluar pagi dalam keadaan lapar dan pulang sore dalam keadaan kenyang, melambangkan konsep usaha maksimal disertai keyakinan bahwa rezeki setiap makhluk telah dijamin oleh Allah SWT. Hasil usahanya sepenuhnya diserahkan pada-Nya. Sesuai firman Allah SWT:

وَمَا مِنْ دَاۤبَّةٍ فِى الْاَرْضِ اِلَّا عَلَى اللّٰهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَاۗ كُلٌّ فِيْ كِتٰبٍ مُّبِيْنٍ

Artinya: “Dan tidak satu pun makhluk bergerak (bernyawa) di bumi melainkan semuanya dijamin Allah rezekinya. Dia mengetahui tempat kediamannya dan tempat penyimpanannya. Semua (tertulis) dalam Kitab yang nyata (Lauhul Mahfuzh).” (QS. Hud: 6).

Berkhidmat di NU adalah mengkombinasikan antara ikhtiar yang sungguh-sungguh dan totalitas penghambaan diri kepada Allah.

Jika ini menjadi prinsip hidup kita, maka kita akan menemukan jalan ketenangan diri dan ketentraman jiwa.

Berkhidmat dengan Kelembutan Hati
Rasulullah SAW menyebutkan bahwa:

يَدْخُلُ الْجَنَّةَ أَقْوَامٌ أَفْئِدَتُهُمْ مِثْلُ أَفْئِدَةِ الطَّيْرِ

Artinya: “Akan masuk surga suatu kaum yang hati mereka seperti hati burung.” (HR. Muslim).

Ada yang menyebut bahwa burung memiliki hati yang lembut. Ia juga pandai bertawakkal seperti yang telah disebutkan di atas.

Kelembutan hati melambangkan ketenangan jiwa, takut kepada Allah, dan hatinya bersih dari penyakit seperti iri hati dan dengki.

Berkhidmat di NU harus dengan kelembutan hati dan ketenangan jiwa. Hal itu hanya didapat kalau kita hobi berdzikir kepada Allah. Sebagaimana yang telah disebutkan dalam Al-Qur’an:

“أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبِ

Artinya: “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah (berdzikir) hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28).

Di NU, kita dibiasakan dengan istighatsah dan dzikir terutama di acara-acara resmi dan formal. Bahkan istigatsah dan dzikir dilakukan dengan berjamaah karena kekuatan atau energi dengan berjamaah akan lebih besar daripada sendirian.

Selain itu, bertasbih juga menjadi salah satu ciri khas NU. Bukan hanya tasbih kosong yang terbuat dari kayu. Bukan pula hanya tasbih yang menjadi simbol legalitas berdirinya Nahdhatul Ulama.

Akan tetapi, tasbih sebagai bagian dari menyucikan Allah dari sifat-sifat yang tidak layak. Biasanya selalu bergandengan antara tasbih, tahmid, dan tahlil. Terutama ini dibaca saat selesai shalat lima waktu.

Burung dengan apa yang ada di langit dan bumi semuanya bersujud dan bertasbih kepada Allah. Ini yang disebutkan oleh Allah dalam Al-Qur’an:

أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يَسْجُدُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ وَالنُّجُومُ وَالْجِبَالُ وَالشَّجَرُ وَالدَّوَابُّ وَكَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ

Artinya: “Apakah kamu tidak mengetahui, bahwa kepada Allah bersujud apa yang ada di langit, di bumi, matahari, bulan, bintang, gunung, pohon-pohonan, binatang-binatang yang melata dan sebagian besar daripada manusia.” (QS. Al-Hajj: 18).

يُسَبِّحُ لِلّٰهِ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَرْضِ

Artinya: “Apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi senantiasa bertasbih kepada Allah…” (QS. Al-Jumu’ah: 1).

Sujud dan tasbihnya kita yang berkhidmat di NU jangan sampai kalah dengan sujud dan tasbihnya burung. Kita diciptakan sebagai حيوان ناطق (makhluk yang dapat berbicara atau berpikir) yang itu menjadi simbol yang membedakan antara manusia dengan hewan.

Ada yang menyebutnya juga sebagai makhluk simbolis (animal symbolicum) yang membedakannya dengan yang lain.

Kita pada dasarnya kalah sama burung yang dapat terbang di angkasa tapi dengan simbol yang kita miliki, kita bisa mengalahkannya dengan membuat pesawat.

Maka dari itu, kita yang berkhidmat di NU tidak boleh kalah dalam hal sujud dan tasbihnya burung.

Terbangnya burung sebagai simbol kebebasan, kemerdekaan, dan ketinggian. Burung terbang dengan bebas menandakan kemerdekaannya dan ia hanya tunduk pada ketentuan Allah.

Begitu juga dengan kita manusia, dengan kalimat tauhid لا اله الا الله sebagai simbol kemerdekaan manusia yang hanya mau tunduk, patuh dan pasrah hanya kepada Allah SWT.

Burung sebagai makhluk yang terbang dalam ketinggian melambangkan jiwa yang tidak hanya terbelenggu pada ikatan keduniawian, tapi juga siap mengintegrasikan pada kehidupan ukhrawiyah.

Begitu juga pada kita yang mengabdi di NU tidak boleh hanya fokus pada kehidupan dunia, tapi harus pandai-pandai menyiapkannya sebagai bekal hidup di akhirat.

*) Ahmad Hosaini, Wakil Sekretaris PCNU Sumenep, santri alumni PP. Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo.

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga