Image Slider

Seni Membangun Keluarga Bahagia Perspektif Jalaluddin Rumi

Berbicara mengenai pernikahan merupakan hal yang sangat penting untuk dikaji, karena di dalamnya terdapat berbagai pendekatan terapeutik yang dapat membentuk keluarga yang harmonis dan bahagia. Dalam konteks ini, pemikiran Jalaluddin Rumi menawarkan perspektif spiritual yang mendalam mengenai kebahagiaan dalam pernikahan.

Fenomena global menunjukkan bahwa dunia Barat saat ini tengah mengalami krisis peradaban, yang ditandai dengan runtuhnya tatanan kehidupan keluarga. Dampaknya tidak hanya dirasakan dalam lingkup rumah tangga, tetapi juga merambah pada kesehatan mental anak-anak yang semakin terpapar oleh kondisi lingkungan yang tidak stabil. Gerakan anti-pernikahan pun mengalami peningkatan yang signifikan.

Keluarga sejatinya merupakan pondasi utama dalam membangun struktur sosial masyarakat. Sebagaimana batu-batu yang menopang sebuah bangunan, keluarga memiliki peran vital dalam menopang dan menjaga kestabilan masyarakat. Namun, modernitas telah memicu krisis dalam institusi keluarga, yang terlihat dari meningkatnya angka perceraian dan kekerasan dalam rumah tangga.

Selain itu, kecenderungan generasi muda yang semakin enggan untuk menikah juga menjadi perhatian serius. Ironisnya, sejumlah psikolog berpandangan Barat yang berperan sebagai konselor perceraian justru menyarankan bahwa institusi keluarga tidak lagi relevan.

Jika nilai-nilai integritas dan keharmonisan keluarga tidak lagi dijadikan prioritas, maka bukan tidak mungkin masyarakat akan mengalami krisis peradaban serupa seperti yang kini tengah melanda dunia Barat. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk kembali merefleksikan esensi pernikahan dan memperkuat institusi keluarga sebagai pondasi utama kehidupan bermasyarakat.

Pernikahan, menurut Jalaluddin Rumi, sangat bergantung pada dua aspek utama: menemukan pasangan yang tepat dan menjadi pribadi yang tepat. Pandangan ini menekankan pentingnya keseimbangan antara pilihan pasangan hidup dan kesiapan diri dalam membangun relasi pernikahan yang sehat.

Realitas menunjukkan bahwa permasalahan dalam kehidupan pernikahan bukanlah hal baru, melainkan telah berlangsung sepanjang sejarah umat manusia. Bahkan dalam peradaban kuno seperti Hittite, ditemukan artefak-artefak arkeologis yang menggambarkan persoalan dalam hubungan keluarga, termasuk konflik antara menantu dan ibu mertua.

Ketika menelaah pemikiran Jalaluddin Rumi, tidak serta merta dapat disimpulkan bahwa kehidupan rumah tangganya berjalan tanpa hambatan. Khususnya setelah kedatangan Syamsuddin Tabrizi ke Konya, dinamika dalam keluarga Rumi mengalami perubahan yang cukup signifikan. Hal ini menunjukkan bahwa bahkan tokoh spiritual besar pun tidak lepas dari kompleksitas dan tantangan dalam kehidupan pernikahan dan keluarga.

Dengan demikian, pernikahan harus dipandang sebagai proses berkelanjutan yang membutuhkan kesadaran diri, kesiapan emosional, dan komitmen untuk terus bertumbuh bersama pasangan di tengah berbagai dinamika kehidupan.

Dalam institusi pernikahan, terdapat empat prinsip fundamental yang dianggap esensial, yaitu: cinta, penghormatan, kesetiaan, dan kesabaran. Keempat prinsip ini mungkin tidak secara langsung hadir dalam diri seseorang, tetapi melalui proses pembentukan karakter dan perjuangan yang konsisten, prinsip-prinsip tersebut akan berkembang dan membentuk kepribadian manusia yang utuh.

Secara khusus, aspek kesabaran menjadi fondasi utama yang menopang prinsip lainnya. Tanpa kesabaran, cinta dapat goyah, penghormatan mudah luntur, dan kesetiaan pun dapat tergadaikan. Oleh karena itu, penguatan nilai kesabaran perlu dilakukan secara berkelanjutan dalam kehidupan rumah tangga. Kesetiaan dalam pernikahan juga harus dijunjung tinggi sebagai nilai luhur dan suci, karena ia menjadi pilar kepercayaan dalam relasi suami-istri.

Salah satu indikator penting dalam cinta adalah adanya rasa saling menghormati. Cinta yang sehat tidak hanya ditunjukkan melalui perasaan, tetapi juga melalui sikap saling menghargai, kata-kata yang membangun, pujian, serta ungkapan persetujuan yang tulus. Pasangan suami istri hendaknya menunjukkan perilaku yang baik satu sama lain, sebagai wujud aktualisasi dari cinta dan tanggung jawab moral.

Nabi kita Muhammad Saw. Bersabda, “setalah takut kepada Allah, hal yang diuntungkan oleh seorang mukmin adalah istri shalihah. Ketika dia di perintahkan dia patuh; Ketika dia melihat wajahnya, dia memberi kelegaan dalam hatinya, jika dia bersumpah tidak melanggar sumpahnya, jika dia bersamanya dia setia pada kehidupan dan hartanya.” Hadis ini menggarisbawahi pentingnya kesalehan, loyalitas, dan saling pengertian dalam membina rumah tangga.

Pernikahan adalah anugerah yang agung, namun keindahan dan berkahnya hanya dapat dirasakan oleh mereka yang mampu menghargainya dengan sungguh-sungguh. Salah satu ekspresi dari bahasa cinta adalah pemberian hadiah. Besar atau kecilnya hadiah bukanlah hal utama; yang lebih penting adalah makna simbolik dari tindakan memberi sebagai bentuk perhatian, penghargaan, dan kasih sayang dalam relasi pernikahan. Hadiah menjadi salah satu elemen penting dalam menjaga ikatan emosional antara pasangan.

Melalui kisah-kisah yang menggugah, khususnya bagi individu yang tengah mengalami kegelisahan spiritual, Maulana Jalaluddin Rumi berhasil menyentuh relung hati pembacanya secara mendalam. Narasi-narasi yang disajikannya tidak hanya menginspirasi secara emosional, tetapi juga memiliki kekuatan untuk menguraikan berbagai permasalahan dalam relasi kekeluargaan yang selama ini cenderung terabaikan atau sulit dipecahkan. Pendekatan kisah yang digunakan Rumi memberikan ruang reflektif yang mempermudah individu dalam menemukan solusi atas persoalan yang dihadapi.

Dalam konteks terapeutik, Prof. Dr. Nevzat Tarhan—seorang dokter, psikiater, sekaligus ahli neuropsikologi—berhasil mengintegrasikan karya monumental Rumi, Matsnawi, sebagai acuan dalam memperbaiki dinamika relasi pasangan serta komunikasi antara orang tua dan anak. Dengan memanfaatkan kekuatan narasi dan nilai-nilai spiritual yang terkandung dalam kisah-kisah Rumi, ia merancang peta pertumbuhan spiritual bagi keluarga yang bertujuan mendukung proses penyembuhan emosional dan memperkuat kohesi relasional dalam kehidupan berkeluarga.

Judul: Terapi Rumi untuk Keluarga Bahagia
Penulis: Nevzat Tarhan
Penerbit: Qaf
Cetakan: Mei 2023
Tebal: 471 halaman
ISBN: 9786-236-2194-85

*Amrullah, Gapura Sumenep.

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga