Image Slider

Teladan Kiai As’ad Sukorejo, Sikapi Perbedaan dengan Akhlak Terpuji

Dungkek, NU Online Sumenep
Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo, KHR. Azaim Ibrahimy menceritakan tentang keteladan Kiai As’ad dalam menyikapi perbedaan. Ia menjelaskan bahwa Kiai As’ad selalu mengedepankan sikap menghargai dan menghormati dalam setiap perbedaan.

Hal itu disampaikan Kiai Azaim Ibrahimy saat mengisi Pengajian Umum di Pelantikan Pengurus Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Dungkek Masa Khidmat 2022-2027, pada Rabu, (28/09/2022).

“Satu ketika, Kiai As’ad pernah diwawancarai oleh wartawan dari salah satu media. Beliau ditanya soal mengapa harus ikut organisasi NU,” ujarnya.

Sedari awal, diceritakan Kiai Azaim, HOS Cokroaminoto pendiri Sarekat Islam, sangat dekat dengan Syaikhona Muhammad Cholil Bangkalan. Itulah sebabnya SI banyak diikuti oleh para ulama dan kiai khas di zamannya.

“Kemudian setelah NU berdiri tahun 1926, satu tahun sebelumnya Mbah Cholil wafat, SI kemudian dekat dengan Belanda. Sehingga banyak paham-paham lain yang menyusup ke dalam. Mulai dari wahabisme dan sebagainya,” tambahnya.

Atas dasar itulah, menurut Kiai Azaim, banyak kiai-kiai yang mulai meninggalkan SI, dan bergabung ke Nahdlatul Ulama. Meski sebagaian kecil masih tetap bertahan.

“SI kemudian dekat dengan Belanda. Maka masuklah paham-paham lain. Banyak kiai yang tak sependapat dengan SI. Makanya banyak kiai yang keluar. Sebagian masih tetap ada di SI,” jelasnya.

Mustasyar Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur itu menambahkan, bahwa meskipun para guru Kiai As’ad ada di SI, namun Kiai As’ad tetap santun menyikapi perbedaan tersebut. Kiai As’ad pun ikut andil dalam menyampaikan isyarah Mbak Cholil kepada Hadratussyeikh KH Muhammad Hasyim Asy’ari tentang restu pendirian NU.

“Kiai As’ad tetap santun menyikapi perbedaan. Hal itu terlihat ketika NU menjadi partai politik. Banyak para kiai yang mengkritisi Kiai As’ad tentang sikap politiknya yang berada di barisan Nahdlatul Ulama,” ujar Kiai Azaim menceritakan.

Kiai As’ad sangat bijak dalam menyikapi perbedaan politik tersebut. Disampaikan Kiai Azaim, bahwa Kiai As’ad menggunakan cara diplomasi yang baik.

“Dulu SI itu diikuti para kiai ulama yang alim dan cerdas. Atas dasar itu, Kiai As’ad ketika mengkampanyekan partai NU di tengah-tengah masyarakat, beliau mengatakan ‘pengikut SI ini para kiai yang alim-alim. Kalau orang seperti kita yang bodoh, banyak dosanya, dan sering berbuat maksiat, ya ikut NU’. Akhirnya NU menang. Tanpa ada perpecahan,” jelasnya.

Sikap yang demikian menurut Kiai Azaim perlu diteladani. Mengingat di era saat ini, perbedaan pendapat di berbagai hal, termasuk politik, justru menimbulkan perpecahan.

“Kalau Kiai As’ad tidak. Waktu NU ada di partai, beliau tidak menciptakan konflik, tapi menggunakan diplomasi akhlak yang terpuji,” pungkasnya.

Editor: A. Habiburrahman

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga