Image Slider

Tellasan Topa’, Sebuah Tradisi yang Mulai Profan

Gapura, NU Online Sumenep

Tepat satu pekan setelah hari raya Idul Fitri atau 7 Syawal, di Madura, Jawa dan bahkan di beberapa daerah lain di Indonesia, ada satu tradisi yang disebut Lebaran Ketupat atau Tellasan Topa’.

Tellasan Topa’ identik dengan memasak ketupat dengan disertai ragam hidangan lainnya (sesuai dengan khas kuliner daerah masing-masing). Ketupat tersebut dikonsumsi bersama keluarga atau kolega lainnya, sebagai bentuk kebersamaan yang harus dijaga dengan baik.

Beberapa pihak menyebutkan, bahwa tradisi tersebut merupakan perayaan kemenangan setelah enam hari melaksanakan ibadah puasa  Syawal. Namun ada pula yang menyebutkan bahwa tradisi tersebut juga bagian dari strategi dakwah Walisongo, untuk menyelaraskan nilai-nilai ke-Islam-an dengan tradisi masyarakat.

Maka, tak ayal jika dalam momentum Tellasan Topa’ ini memiliki makna dan falsafah tersendiri. Mulai dari proses membuat ketupat dan memasaknya, hingga pada tahap menikmatinya bersama keluarga dan kolega. Baik di rumah ataupun di langghar (mushalla) atau masjid, yang menjadi tempat ibadah dan menimba ilmu. 

Salah satu substansi dari perayaan Tellasan Topa’ ialah untuk menjadi pribadi yang baik dan bertakwa kepada Allah SWT. Serta memiliki budi pekerti yang luhur serta menebar manfaat untuk sesama. Dari hal ini, nilai ibadah akan menjadi lebih lengkap dan bermakna.

Seiring dengan perkembangan zaman, tradisi tersebut mengalami pergeseran makna. Menurut Kiai Dardiri Zubairi Masyayikh Pondok Pesantren Nasy’atul Muta’allikin Gapura Sumenep, bahwa perayaan Tellasan Topa’ sudah profan. Dalam arti sudah hilang makna dan spiritualitasnya. Salah satu yang menjadi indikator pergeseran makna tersebut adalah saat merayakannya secara berlebihan.

“Tellasan Topa’ banyak dirayakan ke tempat wisata, bahkan secara berlebihan. Misalnya, di jalanan tidak sopan, membunyikan knalpot dengan keras, dan trek-trekan. Hal ini telah mengurangi makna Tellasan Topa’ itu sendiri,” ujar Kiai Dardiri, Rabu (19/05/2021).

Idealnya, menurut Wakil Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sumenep tersebut, Tellasan Topa’ akan lebih indah jika dirayakan dengan sederhana bersama keluarga dan tetangga. Hal tersebut justru akan lebih bermanfaat dan mengembalikan substansinya sebagai hari raya kemenangan.

“Alangkah indahnya jika tellasan topa’ dirayakan dengan sederhana bersama keluarga dan tetangga. Tapi, apa bisa ya?” tandasnya.

Editor: A. Habiburrahman

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga