Image Slider

Tetap Produktif di Bulan Suci: Belajar Semangat dari Mereka yang Tak Menyerah

Oleh: Damanhuri *)

Bayangkan terik matahari menyengat di sebuah pematang sawah di Jombang. Di sana, Pak Yoyok tetap sigap mengoperasikan mesin combine harvester meski peluh membasahi keningnya.

Ketika ditanya apakah ia berpuasa di tengah kerja fisik yang berat itu, jawabannya sederhana namun menohok: “Rugi kalau tidak puasa”.

Baginya, lapar dan dahaga bukanlah penghalang, melainkan bagian dari perjuangan menjemput rezeki yang berkah. Puasa tak ada tawaran.

Kisah Pak Yoyok adalah satu dari sekian banyak bukti bahwa Ramadhan bukanlah musim untuk “rebahan”. Dari lintasan atletik dunia hingga bangku kuliah di mancanegara, puasa justru menjadi bahan bakar spiritual untuk mencetak prestasi.

Ingatlah momen ikonik di Olimpiade London 2012, saat Sir Mo Farah meraih medali emas nomor 10.000m tepat pada hari ke-16 Ramadhan.

Baginya, kemenangan itu adalah berkah nyata dari keteguhannya menjalankan ibadah. Begitu pula dengan Hicham El Guerrouj, sang pemegang rekor dunia, yang tetap melakoni latihan berat saat puasa karena yakin proses ini justru menyehatkan tubuh.

“Wa Shumu Tashihhu” (Berpuasalah, niscaya kalian akan sehat.” (HR Ath-Thabrani dalam al-Mu’jam al-Awsath, [Kairo, Darul Haramain, 1415], jilid VIII, hlm. 174).

Semangat produktivitas ini juga menembus batas-batas budaya, terutama daerah Islam Minoritas. Raissa Almira membuktikan bahwa mengejar pendidikan Master di Australia tidak harus mengorbankan ibadah. Meski dihadapkan pada tantangan akademis dan perbedaan budaya, ia tetap fokus dan produktif, bahkan merasa puasa mengajarkannya menjadi manusia yang lebih berempati.

Namun, produktivitas di bulan Ramadhan tidak hanya soal pencapaian pribadi, melainkan juga tentang kepedulian sosial di tengah kesulitan ekonomi.

Lihatlah perjuangan Slamet Wahyudi, seorang pengemudi ojek online. Walaupun jumlah penumpangnya menurun drastis selama Ramadhan, ia tetap bekerja dengan ikhlas dan penuh syukur.

Baginya, setiap rupiah yang dibawa pulang adalah berkah untuk keluarga. Semangat berbagi ini berakar jauh pada keteladanan Aisyah RA, yang pernah memberikan sepotong roti satu-satunya kepada orang miskin saat ia sendiri sedang berpuasa. Teladan ini dikuatkan oleh HR. At-Tirmidzi:

عَنْ اَنَسٍ قِيْلَ يَارَسُولَ اللهِ اَيُّ الصَّدَقَةِ اَفْضَلُ؟ قَالَ: صَدَقَةٌ فِى رَمَضَانَ

Artinya: “Dari Anas RA, sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, sedekah apa yang paling utama?” Rasulullah SAW menjawab, “Sedekah di bulan Ramadhan.”

Ramadhan juga menjadi pengingat untuk memperkuat inklusi. Seperti yang diperjuangkan oleh Anni Juairiyah (Ketua Perkumpulan Penyandang Disabilitas Indonesia Kalimantan Timur), bulan suci ini adalah momentum untuk memastikan bahwa penyandang disabilitas mendapatkan kesetaraan akses dalam beribadah. Inilah esensi produktivitas yang sesungguhnya: saat kita tetap mampu memberikan manfaat bagi orang lain meskipun raga sedang diuji.

Pada akhirnya, kisah-kisah di atas mengajarkan kita satu hal penting: puasa bukanlah beban yang memperlambat langkah. Baik itu seorang atlet yang mengejar emas, mahasiswa yang mengejar gelar, maupun pekerja yang berjuang di jalanan, mereka semua menunjukkan bahwa keterbatasan fisik dan ekonomi bisa ditaklukkan dengan keteguhan hati.

Ramadhan adalah saatnya membuktikan bahwa dalam kondisi lapar sekalipun, kita tetap bisa berprestasi, bekerja keras, dan tetap peduli pada sesama. Seperti dinyatakan oleh Wahbah Zuhaili, dalam kitabnya Fiqhul Islam:

وَالصَّوْمُ يُقَوِّيُ الْإِرَادَةِ، وَيَشْحُذُ الْعَزِيْمَةُ، وَيُعَلِّمُ الصَّبْرُ، وَيُسَاعِدُ عَلَى صِفَاءِ الذَّهْنِ، وَاتِّقَادِ الْفِكْرِ، وَإِلْهَامِ الآرَاءِ الثَّاقِبَةِ إِذَا تَخَطَّى الصَّائِمُ مَرْحَلَةِ الْإِسْتِرْخَاءِ

Artinya: “Berpuasa dapat memperkuat kemauan, mempertajam tekad, mengajarkan kesabaran, berperan terhadap kejernihan nalar, merangsang pikiran, mengasah argumentasi cemerlang di saat seseorang yang berpuasa telah melewati fase pelepasan.” (Wahbah Zuhaili, Al-Fiqhul Islam wa Adillatuhu, (Beirut, Darul Fikr: 1985), Juz III: 1618.

Karena itu, mari kita jadikan puasa bukan sekadar kewajiban dan menabung pahala, tapi juga produktif dan bermanfaat bagi sesama. Marhaban ya Ramadhan !

*) Damanhuri, Sekretaris PCNU Sumenep.

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga